• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

Internasional

Tidak Hanya Soal Performa, Tantangan Presidensi Indonesia di DK PBB Satukan Seluruh Negara Anggota

11 June
23:16 2019
0 Votes (0)

KBRN, Jakarta : Kiprah Indonesia di organisasi internasional seperti di Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-bangsa (DK PBB) periode 2019 – 2020, berhasil menorehkan prestasi membanggakan bagi rakyat Indonesia.

Dimana pada Mei 2019 Indonesia menjabat sebagai presiden DK PBB selama sebulan penuh.

Mengusung “Investing in Peace” atau “Menabur Benih Perdamaian” sebagai tema utama presidensinya, Indonesia secara efektif menggelar berbagai pertemuan formal maupun informal.

Diantaranya 2 Sidang Terbuka pada 7 dan 23 Mei, pertemuan informal “Arria Formula” mengenai pendudukan Israel di Palestina, pameran foto mengenai peran “Pasukan Perdamaian” hingga berbagai pertemuan informal diluar agenda utama yang keseluruhannya dihadiri oleh 15 negara anggota DK maupun PBB secara keseluruhan.

Direktur Jenderal Kerjasama Multilateral kementerian luar negeri RI, Febrian Ruddyard mengatakan, upaya Indonesia untuk memberikan performa maksimal dalam presidensinya, bahkan telah dilakukan 7 bulan sebelum pemilihan sebagai anggota 10 “Negara Terpilih” Juni 2018, dengan melakukan koordinasi dan konsultasi bersama 5 “Negara Permanen” DK misalnya.

“Sekarang, kompetisinya adalah seberapa jauh “bar” yang bisa kita set dibandingkan negara-negara lain. Ini tidak lepas dari persiapan, yang perlu dihindari adalah “suprises”. Semua harus terukur jauh dari sebelumnya. Kita sudah siapkan ini 6-7 bulan sebelumnya, Jadi, ini adalah konfirmasi yang sudah kita share bersama mereka sebelumnya,” ujar Febrian ketika menggelar press briefing Selasa (11/6/2019), di Jakarta.

Lebih lanjut Febri menambahkan, kesempatan menjadi presiden yang sudah pasti dimiliki seluruh anggota DK, bagi Indonesia itu artinya menjadi ajang untuk menunjukkan kualitas dihadapan anggota lainnya.

“Harus ada proses menjembatani, karena tidak semua isu yang nampaknya mudah itu kalau tidak dishare sebelumnya akan menjadi sulit. Misal soal “peace keeping”. Misalnya ada satu resolusi di DK PBB yang bicara soal peace keeping, kemudian kita buat suatu pertemuan. Pertanyaannya adalah pertemuan ini nanti akan mengundermine “merusak” resolusi yang lama atau ga? Semacam itu. Artinya, ini sudah bisa kita pelajari jauh-jauh hari,”jelasnya.

Mengadopsi 4 resolusi sepanjang Mei 2019, menjadi salah satu keberhasilan Indonesia sebagai presiden DK PBB.

Meski demikian, Indonesia memiliki tantangan lain dalam presidensinya tersebut. Yaitu, menyatukan 15 negara anggota yang selama ini terkesan sulit dilakukan sebab adanya “perpecahan” dan “ketidakpercayaan” di dalam tubuh DK PBB seakan semakin kental.

Menurut Febrian, menyikapi hal tersebut Indonesia menitikberatkan berbagai isu yang memiliki “titik sama”, sehingga juga berperan untuk menjembatani hubungan antar anggota.

“Prioritas kita dengan tantangan distrust, disunity, pandangan nasionalis yang begitu kuat dengan orang-orang melupakan multilarisme. Paling tidak DK berposisi hingga melakukan sesuatu. Kita coba kembalikan lagi “unity” di DK, hidupkan kemitraan, karena tujuan Indonesia adalah diplomasi kemanusiaan dan diplomasi perdamaian. Memang kita harus ekstra effort untuk menjadi “bridge builder” memang at some point, outcome DK itu tidak sekuat yang diharapkan oleh masyarakat internasional,” papar Febrian.

Keberhasilan presidensi Indonesia di DK PBB tentunya juga tidak terlepas dari kerjakeras satuan tugas (satgas) DK PBB di Jakarta dan New York.

Koordinator satgas DK PBB, Hari Prabowo, menyatakan, keikutsertaan para diplomat muda dengan semangat dan tanggungjawab besar sebagai anggota satgas, diyakini menjadi bekal kedepannya untuk semakin memudahkan kinerja Indonesia di DK PBB.

Tim kami total 7 orang, semuanya adalah diplomat muda. Tim saya itu ada 2 diplomat junior yang baru selesai pendidikan. Jadi, saya senang sekali melihat bakat-bakat muda nanti yang kemudian hari misal saya pensiun maka mereka yang akan menggantikan. Insha Allah jika kita menjadi anggota DK PBB entah tahun berapa, sudah ada orang-orang yang punya “institutional memory” mengenai apa yang perlu dilakukan ketika menjadi anggota DK maupun presiden DK. Sehingga, anak-anak muda ini bisa memastikan kontinuitas peran Indonesia di dunia internasional,” ungkap Hari Prabowo.

Dalam presidensi selama Mei 2019, Indonesia juga berhasil memberikan pengaruh positif dalam tubuh DK PBB.

Diantaranya, memperkenalkan “Metode Kerja” baru yang inovatif yaitu “Sofa Talk”.

“Sofa Talk” sendiri merupakan perbincangan informal seluruh wakil tetap (Watap) DK di sofa tanpa agenda khusus maupun rekaman pertemuan.

Selain, nuansa Indonesia juga terasa kental saat “Sidang Terbuka” pertama 7 Mei, dimana sebagian besar perwakilan negara anggota DK dan PBB mengenakan pakaian batik termasuk Sekretaris Jenderal PBB, Antonios Guterres.

Sementara, kesempatan kedua bagi Indonesia menjadi presiden DK PBB akan dimulai pada September 2020.

Sedangkan, “Melawan Terorisme” telah dipilih Indonesia menjadi tema utama dalam presidensinya.

tunggu 60 detik untuk memberikan komentar lagi. komentar anda akan dimoderasi sebelum diterbitkan
Cancel Preview
Cancel Preview
00:00:00 / 00:00:00