• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

Sigap Polri

Polri: Perusuh 21-22 Mei Bawa Benda Mematikan

11 June
14:58 2019
0 Votes (0)

KBRN, Jakarta : Polri kembali menggelar konferensi pers soal perkembangan kasus insiden 21-22 Mei di Kantor Kemenkopolhukam, Jakarta Pusat, Selasa (11/6/2019).

Kadiv Humas Polri, Irjen M Iqbal mengatakan bahwa aksi unjuk rasa pada 21-22 Mei lalu terbagi atas dua segmen atau klasifikasi. 

“Pertama, unjuk rasa damai. Di tanggal 21 sekitar pukul 15.00 WIB hingga pukul 18.00 WIB dengan sekitar 3000 massa menyampaikan pendapat secara tertib, sesuai aturan, damai dan sesuai Undang-undang yang mengatur tentang penyampaian pendapat di muka umum,” jelas Iqbal.

Kemudian pada pukul 18.00 WIB, korlap aksi berkordinasi dengan Kapolres Jakarta Pusat, Kombew Harry Kurniawan selaku kepala PAM Objek di SOP kepolisian maupun TNI yang bertanggungjawab ada objek di depan Bawaslu meminta toleransi waktu. 

“Seharusnya sesuai Undang-undang terdebut seharusnya tidak diperbolehkan lagi. Pukul 18.00 WIB selesai, tapi krn momentum bulan Ramadan, Polri juga melihat aspek sosiologis, agama, meminta waktu untuk berbuka puasa, salat Magrib berjamaah, lanjut solat Isya dan Tarawih. Tanpa sekat, Polri ikut berbuka puasa, salat dan taraweh,” tuturnya.

Pukul 21.10 WIB, lanjut dia, korlap kembali berkoordinasi dengan Kapolres Metro Jakpus menyampaikan sudah terlalu malam diimbau massa agar kembali. 

“Massa kembali dengan tertib, damai, selesai. Kapolda Metro Jaya sempat memerintahkan apel konsolidasi untuk mempersiapkan dan mengecek serta melakukan analisa evaluasi,” jelasnya.

Segmen kedua ini yang menurutnya harus diketahui publik bahwa ini sangat berbeda dengan massa damai yang unjuk rasa sebelumnya.

Segmen kedua, pada pukul 22.30 WIB tiba-tiba tidak ada kabar berita massa perusuh sekitar 500 massa di depan atau disamping Bawaslu melakukan penyerangan terhadap petugas.

“Bahkan, petugas yang mengimbau diserang, bukan saja menggunakan benda kecil tapi juga benda benda mematikan. Seperti molotov, itu kalau kena kepala, airnya tumpah, terbakar, bisa berakibat mematikan. Petasan juga. Petasan kecil nggak apa-apa, tapi petasan roket berbahaya dan mematikan,” tuturnya.

Selain itu, benda-benda mematikan yang dibawa perusuh juga ada batu besar yang bakal digunakan untuk menyerang aparat yang bertugas. 

“Lalu ada korban-korban dari personel polri yang di depan. Ada juga panah beracun. Pedang dan lainnya. Artinya massa tersebut sudah disetting untuk usuh, menyerang dan memprovokasi petugas. Segmen dua terus bergulir sampai pagi harinya,” tandasnya.

tunggu 60 detik untuk memberikan komentar lagi. komentar anda akan dimoderasi sebelum diterbitkan
Cancel Preview
Cancel Preview
00:00:00 / 00:00:00