• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

Kumham

Divonis 8 Tahun Penjara, Karen Menangis

10 June
17:56 2019
0 Votes (0)

KBRN, Jakarta : Mantan Direktur Utama (Dirut) Pertamina (persero) Karen Agustiawan divonis 8 tahun penjara dan denda Rp 1 miliar subsider 4 bulan kurungan, atas kasus korupsi investasi blok Basker Manta Gummy (BMG) Australia. Atas vonis yang dijatuhkan Pengadilan Tipikor Jakarta hari ini terhadapnya, Karen mengaku bingung dan merasa dikriminalisasi.

"Saya tidak mengerti kenapa bisa delapan tahun (penjara)," ujar Karen kepada wartawan usai sidang di Pengadilan Tipikor Jakarta, Jalan Bungur Besar Raya, Jakarta Pusat, Senin (10/6/2019).

Sikapnya ini bukan tanpa alasan, karena menurutnya, tidak ada aliran dana yang ia nikmati akibat investasi tersebut. Bahkan, dirinya mengklaim, Badan Pemeriksaan Keuangan (BPK) tidak pernah menyebutkan adanya kerugian negara akibat keputusannya mengambil keputusan investasi untuk Pertamina tersebut.

Karen lantas menuding ada permainan Kantor Akuntan Publik (KAP) yang dengan sengaja membuat laporan agar investasi yang digagasnya itu seolah ada kerugian uang negara. Oleh karena itu, dirinya bertekad mengajukan banding, karena merasa dikriminalisasi. 

"Saat ini saya harus mengajukan banding walaupun saya menghormati keputusan majelis hakim," ucap Karen sambil tak henti menangis.

Sebelumnya diberitakan bahwa, dalam persidangan, Karen dinyatakan terbukti bersalah melanggar Pasal 3 juncto Pasal 18 ayat 1 UU Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor), sebagaimana diubah dengan UU Nomor 20 Tahun 2001 tentang perubahan atas UU Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tipikor juncto Pasal 55 ayat 1 ke-1 KUHP.

"Menyatakan terdakwa Karen Agustiawan terbukti secara sah dan meyakinkan menurut hukum bersalah melakukan tindak pidana korupsi bersama-sama," kata hakim ketua Emilia Djaja Subagia membacakan amar putusan dalam sidang di Pengadilan Tipikor Jakarta, Jalan Bungur Besar Raya, Jakarta Pusat, Senin (10/6/2019).

Dalam putusannya, majelis hakim menilai Karen melakukan tindak pidana korupsi bersama-sama dengan eks Direktur Keuangan Pertamina Ferederick S.T Siahaan, eks Manager Merger dan Akuisisi Pertamina Bayu Kristanto serta Legal Consul dan Compliance Pertamina, Genades Panjaitan. 

Menurut keyakinan hakim, Karen telah menyalahgunakan jabatan untuk melakukan investasi participating interest (PI) di Blok BMG Australia tanpa melakukan pembahasan dan kajian terlebih dulu. Selain itu, investasi tersebut tanpa adanya persetujuan dari bagian legal dan dewan komisaris PT Pertamina.

"Bahwa setelah SPA (Sale Purchase Agreement) ditantangani, Dewan Komisaris mengirimkan surat memorandum kepada Dewan Direksi perihal laporan rencana investasi. Dalam memorandum tersebut, kekecewaan Dewan Komisaris karena SPA ditandatangani tanpa persetujuan Dewan Komisaris terlebih dahulu, sehingga melanggar anggaran dasar Pertamina," papar hakim Emilia.

Menurut hakim, Pertamina tidak memperoleh keuntungan secara ekonomi lewat investasi Blok BMG, sebab mulai 20 Agustus 2010, ROC selaku operator blok BMG menghentikan produksi dengan alasan lapangan tersebut tidak ekonomis lagi. Perbuatan Karen dianggap memperkaya Roc Oil Company Limited (ROC) Australia, hingga merugikan negara sebesar Rp568 miliar. 

Pada 20 Agustus 2010, ROC telah menghentikan produksi di Blok BMG, tetapi berdasarkan SPA (Sale Purchase Agreement) antara PT Pertamina Hulu Energi (PHE) dengan ROC, PT PHE wajib membayar kewajiban biaya operasional (cash call) dari blok BMG Australia sampai dengan 2012. Dalam hal ini menambah beban kerugian bagi PT Pertamina. Oleh karena itu, menurut hakim, dari unsur menguntungkan diri sendiri, orang lain atau korporasi terpenuhi dan ada dalam perbuatan Karen. (Foto: ANT)

tunggu 60 detik untuk memberikan komentar lagi. komentar anda akan dimoderasi sebelum diterbitkan
Cancel Preview
Cancel Preview
00:00:00 / 00:00:00