• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

Internasional

Krisis Sudan, Diperkirakan 10 Tewas, 60 Dipastikan Terluka

4 June
08:04 2019
0 Votes (0)

KBRN, Khartoum : Krisis Demokrasi Sudan terus berlanjut. Pasukan Dukungan Cepat (RSF) sudah diturunkan untuk meredam aksi massa yang menuntut penyerahan kekuasaan dari pihak militer kepada sipil pasca keduanya bahu-membahu menggulingkan Presiden Omar al-Bashir yang sudah berkuasa selama 30 tahun.

Pihak militer kecewa karena calon pemerintahan sipil Sudan mengajukan draft pembatasan peran militer sehingga menolak penyerahan kekuasaan.

Saksi mata warga Khartoum mengatakan kepada stasiun televisi Arab yang ada di sana, bahwa suara tembakan terus terdengar dan asap hitam tebal berada dimana-mana.

Sementara itu, wartawan asing di Khartoum mengatakan, mereka dikurung oleh pasukan keamanan tak dikenal di sebuah hotel. Hal ini ditengarai untuk mencegah menyebarluasnya pemberitaan. Namun demikian, banyak di antara mereka, termasuk dari stasiun-stasiun televisi Arab, berhasil lolos dan ikut membaur bersama demonstran yang terus berusaha memblokade jalan masuk tertentu guna menghindari tentara.

Perwakilan demonstran melalui SPA merilis permintaan tolong kepada rakyat Sudan untuk mengambil bagian dalam "pembangkangan sipil total" demi menjatuhkan dewan militer yang sekarang berkuasa. Orang-orang diminta turun ke jalan melaksanakan aksi protes. Namun sejauh ini, rakyat Sudan belum merespons.

Seperti dilansir The Guardian, Senin 3 Mei 2019 kemarin, hingga menjelang tengah malam, asosiasi medis yang berafiliasi dengan pengunjuk rasa mengatakan, jumlah korban luka-luka dipastikan 60 orang, sedangkan korban tewas diperkirakan bertambah menjadi 10 orang. Jumlah korban tewas masih menjadi perkiraan sementara, karena lokasi penanganan medis terurai di beberapa bagian pusat Kota Khartoum akibat para demonstran di kejar tentara. Namun begitu, setidaknya itu yang bisa mereka laporkan untuk saat ini.

Pada bagian lain, Asosiasi Pilot Udara Sudan dilaporkan telah memutuskan untuk mendukung seruan para demonstran. Dan ini diperkirakan akan sangat berdampak pada penerbangan ke Khartoum. Badan profesional lainnya juga mengatakan mereka akan melakukan protes atas kekerasan baru.

Shams al-Deen al-Kabashi, juru bicara dewan militer yang berkuasa, mengatakan dalam sambutannya di televisi bahwa militer telah menargetkan operasi hanya di satu daerah dekat aksi pertama kali terjadi. Namun tak disangka, bentrokan malah merambah hingga ke tempat lainnya.

Posisi aksi pertama kali adalah tepat di depan Pusat Komando Militer Kementerian Pertahanan Sudan, tak jauh dari Khartoum International Airport.

Kabashi tidak mengatakan apakah militer ingin membubarkan demonstrasi itu, namun media lain melaporkan sedikit cahaya terang bahwa dia mengatakan dewan yang berkuasa ingin melanjutkan negosiasi dengan para pemrotes.

Menyikapi krisis Sudan, Kedutaan Besar Amerika Serikat (AS) di Khartoum angkat bicara. Penguasa militer Sudan dituding bertanggung jawab atas kekerasan yang terjadi dua sampai tiga hari belakangan ini. 

"Serangan pasukan keamanan Sudan terhadap demonstran dan warga sipil lainnya adalah salah dan harus dihentikan," kata seorang sumber penting di Kedutaan Besar AS di Kota Khartoum, Sudan. (Foto: TheGuardian/Bing Maps Microsoft)

tunggu 60 detik untuk memberikan komentar lagi. komentar anda akan dimoderasi sebelum diterbitkan
Cancel Preview
Cancel Preview
00:00:00 / 00:00:00