• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

Internasional

Krisis Sudan, Demonstran Blokade Tentara Pakai Batu dan Bajaj

4 June
07:17 2019
0 Votes (0)

KBRN, Khartoum : Pasukan keamanan Sudan terus berusaha membubarkan aksi pendudukan wilayah depan gedung Kementerian Pertahanan negara tersebut dengan mempersiapkan sebuah operasi besar-besaran. Karena walaupun Istana Negara cukup jauh dari lokasi unjuk rasa, namun kekhawatiran sudah memuncak.

Saksi mata, seperti dilansir TheGuardian, melihat kedatangan pasukan dalam jumlah sangat besar membawa senjata lengkap. 

Asosiasi medis yang berafiliasi dengan pengunjuk rasa mengatakan, jumlah korban luka-luka dipastikan 60 orang, sedangkan korban tewas diperkirakan bertambah menjadi 10 orang. Lokasi penanganan medis terurai di beberapa bagian pusat Kota Khartoum akibat para demonstran di kejar tentara. Namun mengenai korban tewas, setidaknya itu yang bisa mereka laporkan untuk saat ini.

Kekacauan melebar seiring penanganan represif militer terhadap pengunjuk rasa. Para demonstran yang tercerai berai memblokir jalan-jalan di Omdurman, kota kecil sebelah Ibukota Sudan, Khartoum. Mereka seperti membangun benteng dengan batu, membakar ban, termasuk memarkir kendaraan angkutan umum roda tiga, yang di Indonesia dikenal dengan bajaj. 

Asap membumbung hebat dari beberapa lokasi sekitar Ibukota Khartoum, hingga sebuah jembatan yang melintas di atas Sungai Nil juga menjadi sasaran blokade pembakaran ban mobil oleh demonstran.

Banyak saksi mata warga Khartoum mengungkapkan kepada stasiun televisi Arab, mereka melihat militer sudah menurunkan Pasukan Dukungan Cepat (RSF) yang sangat ditakuti. Mereka mengejar para demonstran dengan tembakan, masuk ke rumah sakit untuk menahan peserta aksi unjuk rasa yang sedang dirawat, memukulinya. Staf medis yang menghalangi juga menjadi sasaran kekerasan tentara jika berusaha menghalangi.

Krisis Sudan dimulai pada Desember 2018, ketika gelombang protes masyarakat mulai mengemuka atas kepemimpinan Presiden Omar al-Bashir selama 30 tahun. Akhirnya, pihak militer bersatu dengan rakyat dan menggulingkan Omar pada April kemarin. Namun dalam perkembangan negosiasi selanjutnya, pihak sipil menyodorkan draft pembatasan peran militer di Sudan. 

Para petinggi militer murka, dan tidak mau menyerahkan tampuk kekuasaan yang sedang mereka pegang usai penggulingan Presiden Omar.
Sejak itulah sekarang dua kubu yang tadinya bahu membahu berjuang untuk dmeokrasi, sekarang malah berhadapan.

Kabar terakhir, hingga Senin malam, 3 Mei 2019, pasukan reaksi cepat Sudan (RSF) terus menekan posisi-posisi demonstran di Kota Khartoum dan sekitarnya dengan sangat keras. 

Keadaan ini diakui relawan medis yang berafiliasi dengan pengunjuk rasa sangat menyulitkan dalam mengetahui jumlah korban baik luka maupun korban tewas, karena bentrokan ada dimana-mana. (Foto: TheGuardian video)

tunggu 60 detik untuk memberikan komentar lagi. komentar anda akan dimoderasi sebelum diterbitkan
Cancel Preview
Cancel Preview
00:00:00 / 00:00:00