• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

Nasional

Ini Tanggapan Akademisi Terkait Aksi 21-22 Mei

27 May
08:39 2019
0 Votes (0)

KBRN, Jakarta : Ketua Pusat Studi Politik dan Keamanan (PSPK) Universitas Padjadjaran Bandung, Muradi melihat lima hal yang harus dipahami oleh masyarakat terkait aksi 21-22 Mei. Pertama, aksi 22 tersebut bukan berdiri sendiri, ada pemicu yang terkait hasil dari Pemilihan Presiden yang tidak dianggap sesuai harapan dari salah satu pasangan calon.

Poin kedua, ia melihat unjuk rasa itu ada aturan yang mengikatnya di UU 9 tahun 1998 yang menyatakan pembatasan aksi sampai jam 6 sore. Namun Polisi memberikan kelonggaran sampai tarawih untuk aksi kemarin tersebut. 

"Nah, yang ketiga ini kan sudah dari awal di-framing, sudah diposisikan bahwa aksi tanggal 21, 22, sama 24 itu kan bahasanya adalah jihad. Jadi ada framing-framing seperti itu," ujar Muradi dalam Dialog Pro 3 RRI, Senin (27/5/2019).

"Nah, yang keempat kita melihatnya dalam beberapa perspektif ya, ada aktor dan elit politik yang terlibat. Saya ingat sekali 21-22 itu ada di sekitar Sarinah, ada orasi, ada elit politik yang biasa ada di TV gitu, memprovokasi massa," tambahnya.

Ia menekankan juga sebagai poin terakhir, di mana ketika ada isu atau aksi unjuk rasa memang, mau tidak mau, suka tidak suka, pasti ada tindakan yang sifatnya keras.

"Karena itu siapa yang biasa menjamin itu ketika memang sudah malam yang membuat pada akhirnya situasinya tidak bisa dijaga sepenuhnya karena memang tadi saya bilang normatifnya unjuk rasa itu ya sampai jam 6 begitu lebih dari jam 6 pasti ada anarki-anarkian," pungkasnya.

tunggu 60 detik untuk memberikan komentar lagi. komentar anda akan dimoderasi sebelum diterbitkan
Cancel Preview
Cancel Preview
00:00:00 / 00:00:00