• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

Internasional

Theresa May Resmi Mundur, Bagaimana Nasib Brexit Selanjutnya ?

24 May
21:52 2019
0 Votes (0)

KBRN, Jakarta : “Saya segera akan meninggalkan jabatan yang pernah menjadi suatu kehormatan dalam hidup saya. Menjadi PM Perempuan kedua tapi pastinya bukan yang terakhir. Dengan tanpa rasa sakit, tapi dengan rasa terimakasih yang besar memiliki peluang untuk mengabdi kepada negara yang saya cintai,”.

Itulah kalimat akhir Perdana Menteri Inggris, Theresa May, sebelum mengakhiri pernyataannya dan masuk ke dalam kediaman pribadinya di Downing Street, London, Jumat siang (24/5 2019).

Mengenakan baju berwarna merah, May menyampaikan kepada publik atas pengunduran dirinya sebagai Perdana Menteri dan pemimpin Partai Konservatif Inggris.

Pengunduran resmi May akan jatuh pada 7 Juni mendatang.

May menyatakan ia sedih sebab tidak dapat meyakinkan Para Anggota Parlemen untuk menyepakati tercapainya Brexit, seperti pada referendum pertama ditahun 2016.

“Saya telah melakukan segalanya untuk bisa meyakinkan Para Anggota Parlemen seperti keberhasilan ditahun 2016. Sedih sekali, saya tidak dapat mencapai hal yang sama. Saya telah melakukannya sebanyak 3 kali. Saya yakin hal itu sudah benar. Tapi, ini sangat jelas pula bahwa kepentingan terbaik dari negara ini adalah untuk memilih Perdana Menteri baru guna mencapai tujuan itu. Jadi, hari ini saya mengumumkan bahwa saya akan mengundurkan diri sebagai pemimpin Partai Konservatif dan Unionis, pada Jumat, 7 Juni,”ungkap May.

May pun berharap penggantinya nanti akan mampu menyelenggarakan konsensus untuk mencapai kata sepakat dari seluruh pihak.

“Ini akan selalu menjadi penyesalan saya, bahwa saya tidak bisa mewujudkan Brexit. Saya berharap pengganti saya nanti bisa mengadakan konsensus di parlemen, yangmana saya tidak dapat wujudkan. Konsensus tersebut dapat dicapai dengan adanya kompromi oleh seluruh pihak. Namun, saya bangga atas apa yang telah kita lakukan dalam 3 tahun terakhir,”imbuhnya.

Sementara, Theresa May telah menyampaikan pengunduran dirinya kepada Ratu Elizabeth dan bersedia melayani Inggris hingga penggantinya telah ditetapkan.

Terkait pengunduran dirinya sebagai pemimpin Partai Konservatif Inggris, May menyatakan, pihaknya yakin Partai tersebut dapat menjadi lebih baik dan terus melayani rakyat Inggris.

“Saya yakin bahwa Partai Konservatif dapat memperbaharui diri mereka dalam beberapa tahun kedepan. Kemudian, kita bisa mencapai Brexit, melayani rakyat Inggris dengan berbagai kebijakan yang terinspirasi atas nilai-nilai kita, keamanan, kebebasan dan peluang. Nilai-nilai tersebut juga telah membimbing saya dalam berkarir,”ujar May.

Sementara, May menegaskan sepakat dengan Ketua Tory Backbenchers bahwa kontes pemilihan pemimpin menggantikannya akan dimulai pada pekan depan.

“Saya sepakat dengan sebagian ketua dan Ketua Komite 1922, bahwa proses terkait pemimpin baru harus dimulai pada pekan depan,”tambahnya lagi.

Kabar mundurnya Theresa May yang disampaikannya pada Jumat siang membuat banyak pihak terkejut termasuk Indonesia.

Melalui juru bicara kementerian luar negeri RI, Arrmanatha Nasir yang disampaikan melalui pesan singkat ke redaksi RRI, menyatakan, Indonesia memahami keputusan PM Theresa May disaat yang sulit ini.

Menurut Arrmanatha, dibawah kepemimpinan May kerja sama strategis Indonesia-Inggris semakin erat.

Arrmanatha menjelaskan tahun ini Indonesia dan Inggris merayakan 70 tahun hubungan diplomatik dan Indonesia siap bekerjasama erat dengan Perdana Menteri yang akan datang untuk terus meningkatkan kerjasama strategis kedua negara. Seperti, dibidang ekonomi, pendidikan, lingkungan hidup, hingga pertukaran budaya.

Sementara, Brexit sendiri merupakan “PR” Theresa May yang belum dapat diwujudkannya.

Setelah berhasil mencapai referendum pertama 23 Juni 2016 dan sejak saat itulah May secara intensif melakukan negosiasi dan perundingan dengan negara-negara Uni Eropa.

Perundingan tentang “perceraian” dengan Uni Eropa itu dikenal dengan istilah “Withdrawal Agreement” dan seharusnya telah dicapai pada 29 Maret 2019.

Namun, voting ditolak oleh Para Anggota Parlemen Inggris.

Sedangkan, batas tenggatwaktu terbaru bagi Brexit adalah 31 Oktober 2019.

Akankah Inggris resmi keluar dari Uni Eropa pada tenggatwaktu tersebut dibawah kepemimpinan Perdana Menteri yang baru?

Dalam negosiasi memperjuangkan keluarnya kita dan tentang hubungan baru dengan para tetangga terdekat kita, untuk melindungi berbagai pekerjaan, keamanan, dan kesatuan. (foto:BBC.com)

tunggu 60 detik untuk memberikan komentar lagi. komentar anda akan dimoderasi sebelum diterbitkan
Cancel Preview
Cancel Preview
00:00:00 / 00:00:00