• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

Nasional

Jawaban Komnas HAM Kasus 21 dan 22 Mei

24 May
16:21 2019
1 Votes (5)

KBRN, Jakarta: Korban dari kerusuhan aksi 21-22 Mei 2019 dianggap adanya tindakan tidak benar dari kubu petugas keamanan. Hal tersebut memancing komponen Umat yang juga diikuti Gerakan Nasional Pengawal Fatwa Ulama (GNPF Ulama) mengadu ke Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM).

Presidium GNPF Ulama Edy Mulyadi, melihat hal negatif lainnya adalah prajurit yang terlijat memakai topeng dengan matanya yang sipit dan dianggap dari negara lain untuk membantu mengamankan.

"Mau enggak mau orang akan bertanya-tanya siapa dibalik topeng topeng masker itu matanya sipit gitu jangan jangan tentara Cina," ujarnya di Gedung Komnas HAM di Ruang Asmara Nababan, Jumat (24/5/2019).

"Tapi kita kan tidak ada asap kalau tidak ada api kenapa sih masih seperti itu biasa aja dan ternyata saya terus terang teman-teman wartawan. Jijik saya mendengar press conference para petinggi Polri yang teman-teman amplified begitu rupa," tambahnya.

Sementara Ketua Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM), Ahas Taufan Damanik menjawab pengaduan tersebut dengan penegasan dirinya yang sudah datang langsung ke Rumah Sakit Tarakan, Rumah Sakit Budi Kemuliaan, dan Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) dan mendapati keluarga korban yang meninggal itu menolak diotopsi.

"Di rumah sakit Polri sudah diotopsi tapi belum uji balistik karena bukan wewenang dari kepolisian jadi itu menjadi wewenang dari lab. Forensik. Diakui bahwa ada penggunaan peluru tajam tapi siapa yang menembak itu memang harus diuji lagi nggak gampang untuk membuktikan siapa yang menembak itu. Polri katanya sudah membentuk tim penyelidik kita dorong terus untuk mencari siapa pelakunya," pungkasnya.

tunggu 60 detik untuk memberikan komentar lagi. komentar anda akan dimoderasi sebelum diterbitkan
Cancel Preview
Cancel Preview
00:00:00 / 00:00:00