• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

Internasional

Pelajaran Kesetaraan LGBT untuk Anak SD Menuai Protes di Birmingham

24 May
02:23 2019
0 Votes (0)

KBRN, Jakarta : Pelajaran mengenai LGBT dan kesetaraannya di Sekolah Dasar Anderton, Birmingham, Inggris, menuai protes keras dari sebagian orang tua siswa. Bahkan otoritas sekolah sampai harus menutup kegiatan belajar selama beberapa waktu, karena aksi protes semakin kurang mengenakkan dan dinilai mengancam keselamatan para siswa selama beberapa pekan terakhir.

"Tidak dapat diterima bahwa sekolah ini tidak punya pilihan selain tutup lebih awal untuk hari terakhir semester," terang otoritas sekolah, seperti dilansir Independent, Jumat (24/5/2019).

Shakeel Afsar, koordinator aksi protes yang memiliki keponakan di sekolah tersebut mengatakan, demonstrasi akan terus dilakukan. Dirinya menuding, pihak sekolah menjadikan anak-anak sebagai 'pion' untuk mengajarkan kesetaraan LGBT. 

Dan menurut Afsar, pihak sekolah juga harus menghargai kepercayaan dan etika moral para demonstran yang menolak mata pelajaran kesetaraan LGBT kepada anak-anak sekolah dasar. Ada kekhawatiran para pengunjuk rasa, bahwa materi pelajaran seperti itu kurang sesuai untuk anak usia 4-5 tahun.

Perselisihan tentang pelajaran LGBT+ memang telah menyebabkan protes di beberapa sekolah wilayah Birmingham sejauh ini, dan para pimpinan sekolah di seluruh wilayah mulai merasa khawatir.

Sementara itu, Paul Whiteman, sekretaris jenderal serikat pimpinan sekolah NAHT mengatakan, sejumlah protes dan keprihatinan telah mengemuka di beberapa tempat, dan pihaknya telah berkoordinasi dengan Departemen Pendidikan serta lembaga terkait lainnya untuk terus memantau situasi.

“Sekolah-sekolah yang mengajarkan konten tentang kesetaraan tidak boleh ditekan untuk berhenti. Mereka melakukan tugas yang sudah seharusnya," tegas Whiteman.

Hal senada diungkapkan Damian Hinds, sekretaris pendidikan, dengan mengatakan bahwa tidak bisa diterima akal sehat bahwa anak-anak Sekolah Dasar Anderton harus kehilangan pendidikan akibat ancaman protes.

"Tidak ada tempat untuk protes di luar gerbang sekolah. Mereka (demonstran) dapat menakuti anak-anak, mengintimidasi staf dan orang tua, dan yang terburuk, (aksi) ditunggangi orang-orang untuk kepentingan pribadi yang tidak ada hubungannya dengan sekolah. Jadi sudah waktunya aksi protes dihentikan," tandas Hinds.

Sejauh ini, Kepolisian West Midlands sedang menyelidiki sejumlah pelanggaran kriminal terkait insiden unjuk rasa, termasuk klaim dari kedua belah pihak, baik demonstran maupun pihak sekolah. Petugas juga menyelidiki laporan kepala sekolah, Sarah Hewitt-Clarkson, soal adanya kiriman pesan bernada ancaman.

Pada bagian lain, Ketua Dewan Kota Birmingham, Ian Ward mengatakan dengan meningkatnya aksi protes, prioritas pertama yang harus diperhatikan adalah keselamatan murid, keluarga dan staf sekolah.

"Saya mendukung keputusan yang sangat sulit ini, menutup sekolah Anderton. Namun Dewan Kota Birmingham terus bekerja dengan polisi untuk memastikan bahwa langkah-langkah telah diambil untuk melindungi sekolah saat dibuka kembali pada Senin, 3 Juni 2019 mendatang. Saya mendesak orang tua untuk berunding dengan pihak sekolah jika memang memiliki kekhawatiran tentang pendidikan kesetaraan," papar Ward.

tunggu 60 detik untuk memberikan komentar lagi. komentar anda akan dimoderasi sebelum diterbitkan
Cancel Preview
Cancel Preview
00:00:00 / 00:00:00