• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

Nasional

Rusuh 22 Mei, Media Asing Beritakan Ketegasan Jokowi dan Pembatasan Medsos

24 May
00:44 2019
0 Votes (0)

KBRN, Jakarta : Aksi kerusuhan di Jakarta menarik perhatian media asing.

The Guardian menggarisbawahi ketegasan Presiden Joko Widodo untuk melawan kejahatan aksi anarkis, dan Independent menyoroti pembatasan beberapa fitur facebook dan WhatsApp sangat membantu mengurangi penyebaran berita bohong di Indonesia.

The Guardian Menggarisbawahi Ketegasan Presiden RI, Joko Widodo.

Korban tewas dan luka-luka mewarnai kericuhan pasca kemenangan calon presiden petahana, Joko Widodo, seperti diumumkan Komisi Pemilihan Umum (KPU) pada 21 Mei 2019 yang lalu. Hal ini menjadi perhatian media-media Internasional.

Seperti dilansir The Guardian pada Kamis, 23 Mei 2019, ketegangan politik atas hasil pemilu yang disengketakan berubah menjadi letusan bentrokan selama dua malam berturut-turut di Jakarta. Pengunjuk rasa melemparkan batu dan petasan ke arah polisi, yang langsung direspon dengan gas air mata.

Ribuan orang berkumpul di gedung Bawaslu Republik Indonesia sejak Rabu, 22 Mei 2019, untuk memprotes apa yang mereka klaim sebagai kecurangan dalam Pemilu 17 April 2019 yang lalu. Padahal, sebuah jajak pendapat menyatakan secara luas bahwa pemilihan umum berjalan bebas dan adil.

Pada Rabu siang, aksi protes di Jakarta Pusat berlangsung damai, yang digagas pendukung kandidat presiden yang kalah pemilu, Prabowo Subianto. Mantan Danjen Kopassus tersebut bahkan berpidato dengan berapi-api atas kekalahannya sambil mengibarkan bendera Indonesia dan bendera Islam.

"Kami damai, tidak berkhianat," ujar seorang demonstran bernama Rusli (46), warga Jakarta, pendukung Prabowo Subianto.

Saat pecah kerusuhan, beberapa bagian dari Jakarta Pusat berada dalam sekat pasukan keamanan, dengan penutupan beberapa ruas jalan menggunakan kawat berduri. Stasiun transportasi juga ditutup, dan sekitar 30.000 polisi dan pasukan militer dalam keadaan siaga penuh.

Menjelang malam, banyak demonstran sudah pulang, namun aparat keamanan masih harus berjuang untuk membubarkan sekelompok pemuda yang marah dan melemparkan batu serta kembang api ke arah petugas melewati barikade kawat berduri.

Usai kerusuhan 21-22 Mei 2019, dalam pidato yang disiarkan televisi, Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo (Jokowi) mengatakan, situasi yang bergejolak serta beberapa kekerasan politik yang terjadi merupakan keadaan terburuk yang dialami Indonesia dalam beberapa dekade terakhir, namun sudah bisa dikendalikan.

The Guardian menggarisbawahi, diapit kepala militer dan wakil presiden, Jokowi mengatakan : "Saya akan bekerja sama dengan siapa pun untuk memajukan negara ini, tetapi saya tidak akan mentolerir siapa pun yang mengganggu keamanan, proses demokrasi dan persatuan bangsa kita yang tercinta."

Usai pidato keras tersebut, hampir 60.000 personel keamanan dikerahkan ke jalan-jalan pada Kamis, 23 Mei 2019, hampir dua kali lipat jumlahnya dari sebelum ini.

Bahkan pihak kepolisian sudah melakukan penyelidikan dan penangkapan terhadap perusuh, dan menyatakan bahwa kejadian memalukan tersebut sudah direncanakan provokator pihak ketiga.

Sejak pemilihan umum, tokoh-tokoh kunci kubu Prabowo Subianto sempat meminta kepada para pendukungnya untuk mengadakan 'People Power'. Dan akibatnya, banyak diantara mereka ditangkap dengan tuduhan makar, dan pecah kerusuhan 22 Mei 2019.

The Guardian bahkan melansir bahwa Prabowo merupakan mantan komandan militer saat kejatuhan pemimpin otoriter Soeharto pada 1998. Peristiwa itu juga dipicu oleh pertemuan mahasiswa secara massal.

Prabowo juga dianggap sebagai jenderal yang berapi-api, mantan menantu Soeharto, kemudian diberhentikan karena perilakunya pada 1998, khususnya karena ia dituduh terlibat dalam penculikan dan penyiksaan mahasiswa. Meski begitu, tuduhan tersebut menurut The Guardian belum terbukti dan Prabowo sudah sering membantahnya.

Akibat kerusuhan Rabu, 22 Mei 2019, pihak berwenang untuk pertama kalinya memblokir akses ke beberapa situs media sosial dalam upaya untuk membendung penyebaran berita palsu atau hoax.

Independent Membahas Pemblokiran Akses Media Sosial

Media asing asal Inggris, Independent menyoroti penerapan akses terbatas ke Facebook dan WhatsApp yang diberlakukan pemerintah Indonesia pasca kerusuhan mematikan di Jakarta setelah hasil pemilihan presiden.

Pihak berwenang mengatakan, pemblokiran platform media sosial diperlukan untuk membatasi penyebaran berita palsu yang memicu aksi protes. Setidaknya delapan orang telah tewas dan lebih dari 700 lainnya terluka sejak kerusuhan dimulai pada Selasa malam, 21 Mei 2019.

Menko Polhukam Wiranto mengatakan pada saat itu, ada upaya yang disengaja untuk berbagi informasi yang salah tentang pasukan keamanan di WhatsApp.

Satu cerita bohong yang menyebar dengan cepat pada aplikasi pesan milik Facebook, bahwa ada tentara rahasia Tiongkok terlibat menyamar dan berbaur dengan polisi anti huru hara. Teori konspirasi bohong lainnya menurut Wiranto adalah, pihak tak bertanggung jawab mengklaim petugas polisi menembak demonstran di dalam masjid.

Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Pol Argo Yuwono sudah membantah semua klaim bohong tersebut dan sudah diberitakan oleh media lokal Jakarta.

Fitur seperti berbagi foto dan video sekarang dibatasi untuk sementara waktu oleh pemerintah Indonesia, namun pengguna masih bisa mengirim pesan teks dan suara.

Para pendukung kandidat yang gagal, Prabowo Subianto, mengklaim bahwa Joko Widodo yang terpilih kembali sebagai Presiden Republik Indonesia untuk kali kedua menguntungkan komunitas Tionghoa Indonesia dan membina hubungan yang terlalu dekat dengan pemerintah China.

Dalam aksi kerusuhan, kepolisian menangkap lebih kurang 300 orang. Dan Kadiv Humas Mabes Polri, Irjen Pol Muhammad Iqbal mengatakan, petugas telah menemukan amplop dengan uang pada beberapa orang yang mereka tangkap, sehingga mempertebal keyakinan bahwa para penghasut berada dibalik kerusuhan 22 Mei 2019.

“Ini bukan insiden spontan, ini sesuatu yang dirancang. Ada indikasi bahwa massa dibayar dan bertekad menyebabkan kekacauan,” kata Iqbal, seperti dilansir Independent, Kamis (23/5/2019).

tunggu 60 detik untuk memberikan komentar lagi. komentar anda akan dimoderasi sebelum diterbitkan
Cancel Preview
Cancel Preview
00:00:00 / 00:00:00