• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

Nasional

"Indonesian Lounge" Area Favorit Delegasi Asing di Markas Besar PBB New York

21 May
03:37 2019
0 Votes (0)

KBRN, Jakarta : Pagi itu sekitar pukul 9 waktu New York, Amerika Serikat,  sejumlah rombongan media nasional Indonesia termasuk RRI bergegas menuju Markas Besar Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang tidak jauh dari tempat kami menginap yaitu gedung Perwakilan Tetap RI (PTRI). 

Cuaca pagi itu cerah dan ditemani semilir angin musim semi. Pagi itu Menteri Luar Negeri RI, Retno Marsudi, dijadwalkan akan menggelar pertemuan bilateral dengan delegasi Liberia dan Gambia, sebelum pada keesokan harinya Menlu akan memimpin "Sidang Terbuka" pertama. 

Seperti diketahui Indonesia merupakan presiden Dewan Keamanan PBB bagi periode Mei 2019. 

Sesampainya di Markas PBB, rombongan media diarahkan untuk menuju ruang pertemuan yaitu "Indonesian Lounge". 

Dari namanya saja, bahwa ruangan pertemuan itu akan kental dengan ciri khas Indonesia. 

Benar saja, imajinasi itu sesuai dengan kenyataan. Namun, ruangan ini sangat sederhana hanya dibatasi dengan tirai putih dengan ruangan lainnya. 

Pagi itu tampak delegasi asing disudut ruang lainnya juga tengah menunggu koleganya hadir. 

Usai bertemu dengan dua perwakilan delegasi Liberia dan Gambia, Menlu Retno menggelar press briefing bersama media. 

Disela-sela press briefing itupun Retno Marsudi memberikan penjelasan terkait "Indonesian Lounge". 

Sambil menunjukkan 2 hiasan dinding yang terdiri atas Karpet pemberian Iran dan Kaligrafi yang ditulis diatas kain Kiswah pemberian Arab Saudi, Retno mengatakan, kedua hadiah tersebut tidak akan mengubah nama "Indonesian Lounge" yang sudah lama dikenal dunia.

"Jadi, di situ ada karpet dari Iran maupun hiasan kaligrafi berkain Kiswah dari Arab Saudi itu, tidak akan mengubah namanya (Indonesian Lounge)," jelas Retno Marsudi. 

Menurut sejarah "Indonesian Lounge" telah ada sejak tahun 1957. Ditahun yang sama turut dipajang 2 patung kayu "Pedamaian" pemberian rakyat Indonesia. 

Sejak saat itu kedua patung yang berbentuk wanita mengenakan selendang itupun, dipajang di ruang pertama "Indonesian Lounge". 

Uniknya lagi meski puluhan tahun berlalu, namun Indonesia tidak bisa mengganti kedua patung dengan hiasan lainnya. 

Menurut Wakil Tetap RI untuk PBB di New York, Amerika Serikat, Dian Triansyah Djani, menjadi peraturan di PBB jika pergantian maupun pemberian karya seni dari suatu negara harus melewati proses panjang, bahkan dilakukan dalam rapat khusus. 

"Banyak negara yang mau menyumbang lagi tapi tidak bisa. Jadi, kalau sudah menyumbang satu terus ga bisa lagi. Dan, kita dari jaman Bung Karno memang sudah terkenal tempat itu sebagai tempat kongkow-kongkow maupun deal-deal di situ dibuat,"ungkap Dian Triansyah Djani. 

Wah, dapat dibayangkan jika Indonesia ingin mengganti kedua patung itu ya. Meski, telah berada di "Indonesian Lounge" lebih dari setengah abad. Namun, kondisi kedua patung "Perdamaian" tersebut masih kokoh dan indah. 

Di Markas PBB sendiri selain "Indonesian Lounge", juga terdapat "Vienna Lounge" dan "Qatar Lounge". 

Ketiga "Longue" itu diperuntukkan bagi delegasi manapun yang ingin melakukan pertemuan bilateral ataupun sekedar "ngobrol-ngobrol" santai. 

Nah, karena "lounge"nya hanya tiga, jadi untuk dapat menggunakannyapun memerlukan "usaha ekstra". 

Biasanya salah seorang perwakilan delegasi akan tiba di "lounge" lebih awal dan kemudian duduk di sofa yang ada. 

Itu artinya, "Lounge" secara otomatis akan digunakan oleh delegasi tersebut. "Cara" untuk membooking tempat itupun berlaku di "Indonesian Lounge".

tunggu 60 detik untuk memberikan komentar lagi. komentar anda akan dimoderasi sebelum diterbitkan
Cancel Preview
Cancel Preview
00:00:00 / 00:00:00