• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

Kesehatan

Catatan Kemenkes Menyebutkan Angka Penderita Talasemia Masih Tinggi

20 May
15:36 2019
0 Votes (0)

KBRN, Jakarta : Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mencatat angka penderita penyakit Talasemia di Indonesia masih terbilang tinggi. Menurut data sebanyak 10.531 pasien terdeteksi menderita Talasemia Mayor. Sementara sebanyak 2.500 bayi yang baru lahir diperkirakan membawa Talasemia setiap tahunnya.

Data ini Kemenkes paparkan dalam peringatan hari Talasemia sedunia di Kantornya di Jakarta yang turut mengundang masyarakat untuk melakukan pengecekan dini terhadap penyakit ini, Senin (20/5/2019).

"Kasus Talasemia yang tercatat sampai 2016 mencapai lebih dari 9 ribu penyamdang talasemia. Diyakini masih ada kasus yang tidak tercatat,” ucap Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular, Kemenkes RI, Dokter Cut Putri Arianie.

Talasemia sendiri, merupakan salah satu penyakit kelainan darah genetik yang cukup banyak diderita oleh masyarakat di dunia. Indonesia termasuk salah satu negara dalam “Sabuk Talasemia” dunia, artinya negara dengan frekuensi gen (angka pembawa sifat) talasemia yang tinggi.

Tahun 2016, prevalensi talasemia mayor di Indonesia berdasarkan data UKK Hematologi Ikatan Dokter Anak Indonesia mencapai jumlah 9.121 orang. Berdasarkan data Yayasan Talasemia Indonesia/Perhimpunan Orang Tua Penderita (YTI/POPTI) menyebutkan penyandang Thalassemia di Indonesia mengalami peningkatan dari 4.896 penyandang di tahun 2012 menjadi 9.028 penyandang pada tahun 2018.

Angka kejadian pembawa sifat Talasemia banyak terdapat di daerah-daerah seperti Mediterania, Timur Tengah, Asia Tenggara termasuk Indonesia, dan Cina Selatan. Migrasi penduduk dari daerah-daerah pembawa sifat tersebut kedaerah lainnya akan menyebabkan peningkatan jumlah penyandang Talasemia dengan pesat.

Berdasarkan manifestasi klinisnya, Thalassemia terbagi menjadi Talasemia Mayor, Talasemia Intermedia, dan Talasemia minor/karier/pembawa sifat. Pasien dengan talasemia mayor membutuhkan transfusi rutin seumur hidupnya, biasanya setiap empat minggu sekali.

Pasien dengan talasemia intermedia juga membutuhkan transfusi, tetapi tidak sesering thalassemia mayor. Sementara itu, pasien dengan talasemia minor umumnya tidak menunjukkan gejala dan tidak membutuhkan transfusi.

Menyambung hal tersebut, Dokter Spesialis Anak, RSCM, Teny Tjitra Sari mengatakan tanda dan gejala yang biasa dialami penderita Talasemia seperti pucat kronik, kuning, perubahan bentuk wajah, perut membesar, kulit semakin menghitam, tinggi badan tidak seperti teman sebaya, dan pertumbuhan seks sekunder yang terhambat.

“Selain itu, biasanya didapatkan riwayat transfusi rutin pada anggota keluarga besar. Sampai saat ini, pengobatan talasemia di Indonesia masih bersifat suportif, belum sampai pada tingkat penyembuhan,” ungkap Teny dalam kesempatan yang sama.

Menurut Teny Pengobatan suportif yang diberikan pada pasien talasemi, bertujuan untuk mengatasi gejala-gejala yang muncul. Transfusi rutin seumur hidup, pemberian kelasi besi, dan dukungan psikososial merupakan tatalaksana utama untuk pasien Thalassemia.

Pembiayaan yang Tinggi

Dalam data Kemenkes, tercatat setidaknya alokasi anggaran pembiayaan pengobatan penyakt ini masuk di peringkat ke 5.  Diatasnya ada penyakit jantung, kanker, ginjal, dan stroke. Rincian pengeluarannya, Rp225 milyar di tahun 2014, menjadi Rp452 milyar di tahun 2015, kemudian menjadi Rp496 milyar di tahun 2016, meningkat lagi menjadi Rp532 milyar di tahun 2017 dan sebesar Rp397 milyar sampai dengan bulan September 2018.

Hingga saat ini kedokteran belum menemukam obat untuk membunuh penyakit ini , tetapi dapat dicegah dengan tidak melakukan pernikahan khususnya sesama pembawa sifat Talasemia. Oleh karena itu, deteksi dini sangat penting untuk mengetahui status seseorang apakah dia pembawa sifat atau tidak, karena pembawa sifat Talasemia sama sekali tidak bergejala dan dapat beraktivitas selayaknya orang sehat.

"Idealnya dilakukan sebelum memiliki keturunan yaitu dengan mengetahui  riwayat keluarga dengan talasemia dan memeriksakan darah untuk mengetahui adanya pembawa sifat talasemia sedini mungkin. Sehingga pernikahan antar sesama pembawa sifat dapat dihindari. Hal ini harus di kampanyekan kepada masyarakat melalui berbagai media komunikasi Informasi dan Edukasi (KIE)", ungkap Teny.

Kemenkes berharap dengan adanya peringatan Hari Talasemia Sedunia 2019 ini, dapat meningkatkan kesadaran masyarakat dan keperdulian keluarga dengan talasemia dalam upaya mencegah dan mengendalikan Talasemia.

Putuskan Mata Rantai Talasemia

Dalam rangka memperingati Hari Talasemia Sedunia 2019 yang jatuh pada tanggal 8 Mei setiap tahunnya, Direktorat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular, menyelenggarakan seminar di Aula Siwabessy Gedung Prof.Sujudi Kementerian Kesehatan dengan melibatkan masyarakat dan penyandang talasemia.

Hari Talasemia Sedunia merupakan hari peringatan untuk menghormati semua pasien dengan talasemia dan orang tua mereka yang tidak pernah kehilangan harapan untuk hidup, terlepas dari beban penyakit mereka, dan untuk semua ilmuwan yang telah berdedikasi dan berusaha untuk meningkatkan kualitas hidup orang dengan talasemia di seluruh dunia.

Tema peringatan Hari Talasemia Sedunia tahun 2019 secara nasional adalah ‘Putuskan Mata Rantai Talasemia’. Tema ini mengajak individu dan masyarakat untuk memutuskan rantai penyakit talasemia mayor dengan cara melakukan skrining agar individu dapat mengetahui apakah mereka pembawa sifat talasemia.

Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular, Kemenkes RI, Dokter Cut Putri Arianie menambahkan peringatan Hari Talasemia Sedunia ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran masyarakt agar cek kesehatan.

“Memberikan pendidikan agar lebih peduli terhadap talasemia dan menimbulkan kewaspadaan apabila timbulnya penyakit ini (talasemia),” tuturnya.

tunggu 60 detik untuk memberikan komentar lagi. komentar anda akan dimoderasi sebelum diterbitkan
Cancel Preview
Cancel Preview
00:00:00 / 00:00:00