• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

Kumham

Usai Diperiksa, Bupati Talaud Kembali Ungkapkan Kekecewaan Ditahan KPK

17 May
16:00 2019
0 Votes (0)

KBRN, Jakarta : Usai Diperiksa Bupati Talaud Sri Wahyumi Maria Mabalip tersangka dala  kasus Tindak Pidana Korupsi Penerimaan hadiah/janji oleh penyelenggara negara terkait pengadaan barang dan jasa di Kabupaten Kepulauan Talaud tahun anggaran 2019 kembali mengungkapkan kekecewaannya karena ditangkap oleh KPK.

Dirinya mengaku tidak pernah menerima barang yang disangkakan kepadanya. Diapun menyatakan ini adalah pembunuhan karakter.

"Saya merasa sebagai pembunuhan karakter untuk saya. Karena saya tidak pernah memegang barang bukti. Barang bukti pun tidak ada saya saya dibawa ke sini,” kata Sri usai diperiksa hari ini digedung KPK Jumat (17/5/2019).

Dia pun menambahkan jika dirinya dibawa ke gedung KPK tanpa adanya barang bukti.

"Saya dibawa dari talaud tanpa barang bukti di tangan. Pak bernard membelikan barang itu, membelikan ya, bukan memberikan. Karena kalau memberikan saya sudah menerima, saya tidak pernah menerima barang itu. Kalaupun dia memberikan itu, dia senang dengan saya,” papar Sri.

Seperti yang diketahui dalam kasus ini KPK menetapkan 3 orang sebagai tersangka. KPK menduga Bupati Kabupaten Talaud Sulawesi Utara Sri Wahyumi Maria Manalip dam Benhur Lalenoh selaku Timses Bupati dan Pengusaha sebagai tersangka penerima suap dalam kasus ini, dan Bernard Hanafi Kalalo selaku Pengusaha yang diduga sebagai tersangka pemberi suap.

Tim KPK mendapatkan informasi adanya pemintaan fee 10% dari Bupati Talaud melalui tersangka Benhur Lalenoh sebagai orang kepercayaan Bupati kepada kontraktor untuk mendapatkan proyek pekerjaan di kabupaten Talaud.

BNL (Benhur Lalenoh) bertugas mencari kontraktor yang dapat mengerjakan proyek dan bersedia memberikan fee 10%.

Benhur Lalenoh kemudian menawarkan kepada tersangka Bernard Hanafi Kalalo proyek di Kabupaten Talaud dan meminta fee 10% Sebagai bagian dari fee 10% tersebut Benhur meminta Bernard memberikan barang-barang mewah kepada Bupati Talaud.

Pada pertengahan april, untuk pertama kalinya Benhur mengajak Bernard untuk diperkenalkan ke bupati Talaud. Beberapa hari kemudian berdasarkan perintah bupati melalui Benhur, Bernard diminta ikut ke Jakarta untuk mengikuti beberapa kegiatan bupati di Jakarta.

Terkait fee yang diharuskan oleh bupati Talaud, Benhur meminta Bernard memberi barang-barang mewah sebagai bagian dari imbalan sebesar 10%. Barang dan uang yang diberikan diduga terkait dengan 2 proyek revitalisasi pasar di Kabupaten Kepulauan Talaud yaitu: Pasar Lirung dan Pasar Beo.

KPK menduga terdapat proyek-proyek lain yang dibicarakan oleh Benhur yang merupakan orang kepercayaan Bupati.

KPK mengidentifikasi adanya komunikasi yang aktif antara Bupati dengan Benhur atau pihak lain, missal: pembicaraan proyek di Talaud, komunikasi terkait dengan pemilihan merk tas dan ukuran jam yang diminta.

Sempat dibicarakan permintaan tas bermerk Hermas dan Bupati tidak mau tas yang dibeli sama dengan tas yang sudah dimiliki oleh seorang pejabat perempuan lain di sana

Terdapat beberapa barang bukti yang diamankan dalam kasus ini yang bernilai sekitar Rp513.855.000 dengan rincian :
- Handbag CHANNEL, Rp97.360.000,
- Tas BALENCIAGA, Rp32.995.000,-
- Jam tangan ROLEX, Rp224.500.000
- Anting berllan ADELLE Rp32.075.000
- Cincin berlian ADELLE, Rp76.925.000
- Uang tunai sebesar Rp 50.000.000,-

tunggu 60 detik untuk memberikan komentar lagi. komentar anda akan dimoderasi sebelum diterbitkan
Cancel Preview
Cancel Preview
00:00:00 / 00:00:00