• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

Catatan Ramadhan

Dentuman Bambu 'Berkarbit' di Waktu Ngabuburit

16 May
21:44 2019
0 Votes (0)

KBRN, Malang: Suara dentuman bak perang mulai terdengar saat 'ngabuburit' di wilayah timur Kota Malang yakni Cemoro Kandang, pelakunyanha adalah ABG dengan usia 12-18 tahun itu saling bergantian mendekatkan patahan bambu yang ujungnya diberi kain basah oleh minyak tanah, disertai api yang berkobar menyulutkan pada lubang kecil di Bambu yang menyerupai meriam tersebut, sontak membuat mereka tertawa bahagia dan gembira, sembari menanti waktu berbuka Puasa, Kamis (16/5/2019). 

'Mercon Bumbung' begitu mereka menyebutnya, terdapat 4 bambu yang memiliki kemiringan sudut 30-35 derajat, saling bergantian memuntahkan suara kencang. Salah seorang eksekutor yakni Alif (17) mengatakan kegiatan ini merupakan kegiatan yang diajarkan oleh orang tua mereka dari waktu ke waktu.

"Wes biasa ten mriki mas (sudah biasa disini mas), main ini (mercon bumbung) selalu sebelum waktu buko, biasanya ada 7 atau 8 bambu di jejer (berjajar), mainnya mulai jam 4 sampai jam 5, kadang ya kalau kedengaran tarkhim kami berhenti, buka dulu, lanjut habis terawih," jelasnya.

Banyak versi sejarah dari permainan ini, mulai dari para leluhur yang terinspirasi dari meriam Portugis hingga akulturasi budaya Tiongkok dengan petasannya,  namun tradisi yang terjaga secara turun temurun itu patut diberikan apresiasi dengan adanya festival tahunan. Sayangnya, festival itu sudah jarang dilakukan semenjak 5 tahun yang lalu, seperti yang dituturkan Tokoh Masyarakat daerah tersebut, Mad Dollah (59).

"Sudah lama tradisi kayak begini, dulu sek sering mas lomba-lomba (festival) tapi ya itu, semenjak gak dibolehi sama pemerintah, gara-gara isu teroris yang ngebom, padahal niki bedo (beda)," ujarnya dengan logat khas Madura.

Banyak cara dilakukan oleh Masyarakat dalam menunggu waktu berbuka, mulai dengan berbelanja takjil, bersholawat di masjid-masjid bahkan ada yang menggeber kendaraan roda dua, namun warga Cemoro Kandang lebih memilih menjaga tradisi dengan Mercon Bumbungnya, harus diakui meski bukan kegiatan modern atau kekinian, tapi cukup merekatkan ikatan silaturahmi bagi warga sekitar.

"Gawe (buat) bumbung itu ndak gampang mas, harus cari bambu yang kuat, kokoh dan lobangya (diameter) harus besar, kalo mau keras suaranya pake karbit, tapi disini minyak tanah saja cukup, terpenting itu rame, terus arek-arek seneng," tambahnya. 

tunggu 60 detik untuk memberikan komentar lagi. komentar anda akan dimoderasi sebelum diterbitkan
Cancel Preview
Cancel Preview
00:00:00 / 00:00:00