• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

Feature

Kisah Minar dan Kuburan Massal Korban Kerusuhan Mei 98

16 May
10:36 2019
2 Votes (5)

KBRN, Jakarta: Namanya Minar. Hari ini tepat 21 tahun lalu penggali kubur TPU Pondok Ranggon ini mulai menggali liang lahat untuk para korban kerusuhan Mei 98 yang akan dimakamkan secara massal.

"Saya berbakti pada pemakaman sejak tahun 1987. Pada waktu tragedy 98, saat itu karyawan di TPU sini baru 75 orang," kata Minar yang besedia mengisahkan kembali prosesi pemakaman massal korban kerusuhan. 

Menurut Minar, hari pemakaman korban kerusuhan menjadi hari hari yang sibuk baginya. Ada 120 mobil ambulance yang mengantar jasad korban yang sudah dibungkus tas plastis ke lokasi makam cerita Minar.

"Jadi bukan dalam bentuk jenazah utuh manusia. Dibungkus plastik sebesar tas bapak ini nih," kata Minar menggambarkan kondisi korban Tragedy Mei 98 saat akan dimakamkan secara massal. 

"Ketika kantong plastiknya diturunkan dari mobil ambulance satu per satu dimasukkan kedalam peti mati. Satu kantong satu peti dimasukkan dalam satu liang lahat," sambungnya.

Proses pemakaman korban Tragedy Mei dilakukan seharian dan tuntas  pada hari Senin 18 Mei 1998. Butuh waktu tiga hari bagi Minar dan kawan-kawan sesama penggali kubur di TPU Pondok Ranggon untuk menyiapkan 115 liang lahat. 

"Waktu itu saya gali tiga hari baru selesai. Yaitu Jum'at - Sabtu - Minggu dan pelaksanannya tanggal 18 Mei. Waktu itu saya ga paham. Kok penguburan tanggal 18 engga tahunya ada kejadian tanggal 15," ujar Minar.

Baca Juga: Sajak WS Rendra Sempat Warnai Peringatan Mei 98

Tanggal 12 Mei 1998  para Mahasiswa Universitas Trisakti Jakarta melakukan aksi damai menuju gedung parlemen. Mereka memulai reli dari depan kampus Trisakti di Slipi tidak jauh dari gedung parlemen sambil membagi bagikan bunga. Tapi aparat menghadapi aksi damai mahasiswa dengan tembakan. Empat mahasiswa gugur. Mereka adalah Elang Mulya, Hendrawan Sie, Herry Hertanto dan Hafidin Royan.

Keesokannya, dilakukan pemakaman para mahasiswa yang kemudian dinobatkan sebagai “Pahlawan Reformasi”. Gugurnya para martir reformasi itu membuat rakyat tersentak dan marah. Indonesia pun berkabung. 

Televisi, radio, surat kabar dan majalah dipenuhi berita duka dan tangisan dari berbagai pelosok negeri. Siang itu kerusuhan mulai meruyak di sebagian kota Jakarta.

Minar sendiri baru mendapat kepastian  jasad dalam kantong plastik yang ia makamkan secara massal itu adalah korban kerusuhan Mei setahun setelah dia ia menggali liang lahat untuk mereka.

"Saya bukan wartawan, saya hanya kru bukan speerti  bapak yang punya kewenangan bertanya tanya. Saya tahunya setelah ada plang itu tuh kira kira setahun setelah penguburan. Tapi kan dulu kita tahunya buat tragedy. Waktu itu saya ga paham, pahamnya pas dibikin plang itu, berarti orang itu ngomong bener," cerita Minar yang kini berusia 58 tahun.

Wawancara Radio Republik Indonesia dengan Pak Minar berlangsung beberapa hari sebelum peringatan Reformasi 98. Saat itu Pak Minar dan teman temannya baru saja selesai membabat rumput makam tanpa nama di Blad 27 Blok AAI TPU POndok Ranggon.

"Kita sudah babatin rumput karena takutnya akan ada acara pada bulan Mei.Kalau tahun ini ada peringatan tragedi Mei berarti sudah tahun keempat peringatan Mei dilakukan disini," ujar Minar.

Di lokasi inilah  berderet ratusan nisan yang hanya bertuliskan "Korban Tragedy 13 - 15 MEi 1998 Jakarta" di masing-masing nisan. 

"Intinya kita kuburin secara layak kita enggak tahu  ini agama nya islam atau kristen. Nah ... kalau ada  keluarga  mereka datang ziarah minta diunjukin anggota keluarganya, kan saya jadi bingung.  Saya bilang aja ke mereka,  ibu bapak kalau mau ziarah mendoakan dijamak aja," pungkasnya.

Ratusan makam tanpa nama itu tampak berbeda di antara ribuan kubur yang mengelilinginya. Ada sebuah batu besar dengan bentuk yang memiliki makna tertentu, yang menjadi penanda lokasi makam. 

Monumen tangan berkain yang terjahit itu terlihat bersinar di antara ribuan tempat peristirahatan terakhir di TPU Pondok Ranggon. Prasasti yang diresmikan pada 13 Mei 2015 itulah yang menjadi simbol korban tewas saat peristiwa memilukan yang banyak orang mengingatnya sebagai  kerusuhan Mei 98 saat kejatuhan Presiden Soeharto.

  • Tentang Penulis

    Budi Prihantoro

    Jurnalis Radio Republik Indonesia | RRI Jakarta | email: budiprihantoro811@gmail.com

  • Tentang Editor

    Syarif Hasan Salampessy

    Redaktur Puspem LPP RRI

tunggu 60 detik untuk memberikan komentar lagi. komentar anda akan dimoderasi sebelum diterbitkan
Cancel Preview
Cancel Preview
00:00:00 / 00:00:00