• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

Pemilu 2019

600 Petugas KPPS Meninggal, MER-C Bentuk Tim Investigasi

16 May
10:02 2019
0 Votes (0)

KBRN, Jakarta : PascapelaksanaanPemilu Serentak 2019, angka kematian dan kesakitan petugas KPPS (Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara)  terus meningkat dari hari ke hari. Korban meninggal dunia berjatuhan hingga menembus angka 600 jiwa lebih.

Lembaga kemanusiaan MER-C sejak dua pekan pascapemilu telah menetapkan kejadian meninggalnya ratusan petugas KPPS itu sebagai bencana kemanusiaan. MER-C pun telah membentuk Tim Mitigasi Kesehatan Bencana Pemilu 2019.

Baca juga artikel ini : Lagi, Seorang Ketua KPPS di Aceh Meninggal Dunia 

Koordinator MER-C, Dokter Jose Rizal menyatakan, tidak ada upaya serius dari pemerintah untuk mencegah jatuhnya korban yang lebih banyak. “Pemerintah terkesan tidak memiliki sense of crisis dan sense of emergency terhadap rakyat yang berguguran dalam pesta demokrasi. Kami melihat ada pembiaran terhadap jatuhnya korban,” kata Rizal dalam siaran pers, Kamis (16/5/2019).

Karena itu, MER-C mendesak pemerintah dan KPU untuk peduli, yakni dengan turun langsung melihat korban-korban yang sakit dan menangani mereka termasuk pembiayaan rumah sakit dan seterusnya hingga mereka sembuh. Perlu ada langkah konkret untuk mencegah kematian lebih banyak. Pola penanganan korban bencana pemilu, menurut Rizal, harusnya juga dalam kerangka penanganan bencana sebagai Kejadian Luar Biasa (KLB).

“Kematian memang bisa disebabkan kelelahan, selama dia ada riwayat penyakit lain seperti serangan jantung. Tetapi harus didalami, tidak bisa sekadar hipotesis. Pembuktiannya harus melalui COD (cause of death),” ujar dia.

Baca juga artikel ini : Pemerintah tidak akan bentuk tim Pencari Fakta KPPS

Baca juga artikel ini : Belasan Petugas Pemilu di Riau Gugur, Ratusan Dirawat 

Terhadap korban yang sakit, kata dia, pemerintah dapat membentuk tim ahli untuk melakukan assessment (triage) dan investigasi terhadap penyakit yang mereka idap. Ini bertujuan agar tercapai masa tanggap, diagnosis, serta tindakan yang akurat.

“Kami curiga karena menemukan tidak ada gejala, tidak ada penyakit dan meninggal dalam waktu cepat serta banyak,” ucap Jose.

Baca juga artikel ini : Ratusan Petugas Pemilu Berguguran, Mengapa ?

Sementara, bagi pasien yang meninggal, dapat dilakukan investigasi penyebab kematian, mulai dari autopsi verbal sampai kepada autopsi klinis. Ini diupayakan agar sebab kematian bisa diketahui dengan pasti untuk digunakan sebagai mitigasi penyelenggarakan pemilu berikutnya.

“Kita pernah melakukan autopsi terhadap Faturrahman al-Gazi yang ditembak di Filipina, dan penemuan menyatakan Faturrahman ditembak dari belakang. Termasuk Mavi Marmara, jadi kami juga berpengalaman, bukan kali ini saja,” ujarnya.

Baca juga artikel ini : Pemilu 2019, Terberat dan Melelahkan

Dia menegaskan, apabila pemerintah dan KPU tetap abai atas kasus bencana kemanusiaan Pemilu 2019, MER-C akan menyiapkan gugatan ke Mahkamah Pidana Internasional (International Criminal Court/ICC), Mahkamah Internasional (International Court of Justice/ICJ), atau UNHRC (United Nation Human Right Council) ke Jenewa dan Den Haag.

“Semoga KPU serius menangani bencana ini. Kalau KPU ngeyel, kami akan tetap mengajukan gugatan, kami tidak takut. Urusan Mavi Marmara saja kita urus, apalagi urusan kebangsaan, walaupun tugas kemanusiaan tidak melihat latar belakang,” ujar Jose. 

Kementerian kesehatan terus bergerak untuk mengetahui penyebab kematian pada petugas KPPS pada Pemilu 2019. Kemenkes melakukan audit medik untuk petugas yang meninggal di RS. Sementara untuk petugas KPPS yang meninggal di luar RS dilakukan autopsi verbal oleh lembaga Independen dari Asosiasi Institusi Pendidikan Kedokteran Indonesia (AIPKI), dimana FKUI sebagai leadernya.

“Autopsi verbal bukan autopsi forensik. Ini dilakukan untuk mengetahui penyebab kematian dengan wawancara kepada keluarga atau orang terdekatnya. Dimana autopsi verbal ini ketepatannya mencapai 80%,” terang Menkes Nila Moeloek.

Penelitian bersama tim independen ini dilakukan dengan metodeologi ilmiah case control. Artinya kasus yang meninggal dibandingkan dengan hal yang sama dari sisi beban, umur dan sebagainya. Dari sini dapat diketahui penyebab kematian karena adanya penyakit atau tidak adanya penyakit. Penelitian ini juga bisa melihat faktor resiko pekerjaan akibat beban kerja karena lamanya waktu bekerja atau karena lingkungan.

“Autopsi berdasarkan based on evidence untuk petugas pemilu ini,” tutup Menkes.

Sementara itu Direktur Jenderal Pelayanan Kesehatan telah membuat Surat Edaran kepada seluruh Dinas Kesehatan Provinsi untuk melakukan pemeriksaan kepada petugas-petugas KPPS yang sakit.

“Upaya dalam pencatatan dan pendataan terus-menerus kami lakukan untuk mengetahui penyebab kematian ataupun kesakitan yang terjadi pada petugas KPPS dalam penyelengaraan pemilu ini,” jelas Menteri Kesehatan Nila F Moeloek pada konferensi Pers di Kantor Staf Presiden.

Konferensi Pers ini dihadiri oleh Kepala Kantor Staf Presiden, Kementerian Kesehatan, Kementerian Dalam Negeri, KPU, BPJS Kesehatan dan K/L terkait dalam pembahasan Langkah Pemerintah terkait Meninggalnya Petugas KPPS. Hal ini berikutnya akan menjadi evaluasi dalam penyelenggaraan serentak Pemilihan legislatif maupun Pemilihan Presiden ke depan.

Data dari KPU menunjukan petugas KPPS yang meninggal yaitu sebanyak 485 dan yang sakit 10.997. Untuk itu, seluruh Dinas Kesehatan telah melaksanakan Audit Medik Kematian yang terjadi di Rumah Sakit. Dari hasil audit tersebut telah terkumpul data sebesar 39% dan data kesakitan terkumpul dari 24 provinsi. 

Data tersebut menyatakan bahwa data kesakitan terbanyak berada di Provinsi Banten dan DKI Jakarta sedangkan data kematian tertinggi berada di Provinsi Jawa Barat, Jawa Timur dan Jawa tengah. Data juga menunjukkan tidak ada kematian di daerah Maluku. Kemudian pada data kematian terbesar dari kelompok usia lanjut, sebesar 58% usia diatas 50 tahun bahkan sampai usia 70 tahun.

Hal yang menjadi perhatian bahwa data penyebab kematian terbesar 51% disebabkan oleh penyakit kardiovaskuler atau jantung, termasuk juga stroke dan bila ditambah dengan hipertensi data mencapai 53%, jadi Hipertensi ini juga masuk dalam emergency yang dapat menyebabkan kematian. Lalu diikuti dengan penyakit gagal pernapasan, asma, gagal ginjal, Diabetus Melitus, liver dan 9% disebabkan oleh kecelakaan.

tunggu 60 detik untuk memberikan komentar lagi. komentar anda akan dimoderasi sebelum diterbitkan
Cancel Preview
Cancel Preview
00:00:00 / 00:00:00