• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

Catatan Ramadhan

Ekses Konsumerisme, 'Becak Babel': Yo, Kurangi Sampah Plastik di Bulan Ramadhan

15 May
22:48 2019
1 Votes (5)

KBRN, Sungailiat;  Peningkatan aktivitas masyarakat di bulan Ramadhan menjadi fenomena sosial setiap tahunnya, baik yang bersifat keagamaan maupun nuansa lainnya yang berkorelasi dengan pernak-pernak selama ibadah puasa dijalankan umat Islam. 

Dengan tidak mengecilkan urgensi ibadah puasa itu sendiri, sorotan penulis tertuju pada korelasional kisi-kisi Ramadhan dengan pemenuhan kebutuhan ekonomi yang menggeliat nampak dari awal datangnya Ramadhan hingga lazimnya menjelang Idul Fitri nanti.

Geliat syiar Islam dalam berbagai amaliah di Bulan Ramadhan menjadi fenomena religi manakala umat Islam beriman menjalankan perintah Allah yakni berpuasa sebulan penuh, dengan harapan meningkatnya keimanan dan ketaqwaan. Perilaku itu berlangsung di masyarakat dari sudut perkotaan hingga ke pelosok perdesaan.  

Sisi lain, geliat perkembangan ekonomi di bulan puasa berbaur dengan kejaran akan hakikat tujuan puasa bahkan kecenderungannya diwarnai dengan munculnya sifat konsumerisme bagi sebagian masyarakat. Sifat ini seakan menjadi stigma manakala masyarakat harus menyiapkan jenis makanan atau kuliner lainnya untuk kebutuhan konsumsi di kala buka puasa dan makan sahur. Persoalannya, bila ini terjadi apakah kelirumologi sedang terjadi di masyarakat? 

Dalam nuansa Ramadhan, fenomena berburu takjil dan jajanan meningkat selama Ramadhan, hal itu ditandai dengan munculnya berbagai tempat wisata kuliner dadakan di banyak tempat di Bangka Belitung. Aktivitas tersebut berdampak pada tingkat volume sampah yang dihasilkan oleh masyarakat, berupa sampah dapur sisa makanan dan sampah plastik.

Peningkatan volume sampah plastik di daerah kepulauan seperti Bangka Belitung ini, seakan membuat miris bagi para pencinta kebersihan lingkungan. Hal yang mengkhawatirkan, bertambahnya volume sampah itu, bisa-bisa menjadi salah satu sebab meningkatnya pula volume sampah di Laut. Ekses itu mengancam keasrian hingga berimbas kemungkinan banjir di daerah pemukiman masyarakat yang dekat dengan pesisir.

Tingkat kekhawatiran itu diantaranya tercetus dari komunitas penggiat kebersihan lingkungan yang peduli sampah, yakni 'Becak Babel'  (Bangka Environment Creative Activist of "KAWA"). Komunitas ini dibentuk pada 30 November 2015 oleh sekumpulan remaja (mahasiswa dan pelajar) di Sungailiat Kabupaten Bangka yang peduli terhadap lingkungan hidup khususnya terkait sampah.

Arinda Unigraha yang merupakan Ketua Umum komunitas peduli sampah 'Becak Babel' Arinda Unigraha mengajak masyarakat Bangka Belitung untuk melakukan langkah-langkah positif dalam pola kehidupan yang lebih sehat dan hijau, salah satunya dengan mengurangi sampah yang dihasilkan. 

Program 'Puasa Sampah Plastik' itulah diantaranya yang dicetuskan komunitas peduli sampah itu. Arinda yang biasa disapa Inong itu menilai hal yang diprogramkan itu merupakan salah satu program yang baik untuk diterapkan dalam kehidupan dan dimulai pada Ramadhan ini. 

"Ya setidaknya kalau belum mampu 100% tidak menggunakan kantong plastik,  minimal bisa mengurangi pemakaiannya selama Ramadhan ini dibandingkan dengan banyaknya pengunaan kantong plastik pribadi pada hari-hari biasanya," obsesi Inong yang diutarakannya kepada RRI, Rabu (15/5/2019)

Ia berpendapat kebiasan masyarakat yang setiap kali belanja selalu dibungkus menggunakan kantong plastik kresek, sesungguhnya bisa dikonversi dengan mulai menggunakan kantong belanja/tas belanja dari kain (totebag, handbag, dan sejenisnya), serta meminimalisir penggunaan gelas dan botol plastik dengan menggunakan Tumbler (botol air minum). 

Selain itu, menurut Inong membeli makanan yang tidak memakai 'Styrofoam' sebagai wadahnya merupakan langkah yang baik, mengingat keberadaan Styrofoam sangat berbahaya secara kesehatan dan lingkungan. 

"Itu meneruskan langkah-langkah sederhana dan kecil namun akan berdampak besar. Jika tiap-tiap keluarga di Bangka Belitung mampu melakukan hal-hal kecil itu maka akan terjadi penurunan volume timbunan sampah yang cukup signifikan. Kuncinya adalah satu, 'kawa' (mau). Kawa melakukan kebiasaan baru itu," pungkas Inong.

tunggu 60 detik untuk memberikan komentar lagi. komentar anda akan dimoderasi sebelum diterbitkan
Cancel Preview
Cancel Preview
00:00:00 / 00:00:00