• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

Daerah

Pasca Liputan Pemilu, Seorang Wartawan di Padang Terserang Penyakit Langka

15 May
22:40 2019
0 Votes (0)

KBRN, Padang : Seorang wartawan media online di Kota Padang, Primadoni (38), kini hanya bisa terbaring lesu tak berdaya di rumah kediamannya di komplek kebun indah Sungai Sapih, Kecamatan Kuranji Kota Padang.

Berdasarkan informasi yang dihimpun, pada pertengahan April 2019 lalu Primadoni melakukan tugas peliputan patroli pemantauan politik uang bersama Bawaslu di Kabupaten Dharmasraya, tidak berselang lama setelah itu, kedua kaki dan kedua tangannya mendadak hilang tenaga.

Meski masih bisa digerakkan, namun Primadoni merasa kedua kaki dan tangannya itu sama sekali tidak bertenaga. Untuk beraktifitas seperti mengangkat telepon, minum, makan, hingga duduk, Primadoni atau Doni dibantu oleh sang istri yang tetap setia merawat dan memberikan semangat.

Berdasarkan keterangannya, Rabu (15/5/2019), Doni menerangkan, awalnya saya merasakan betis kaki sebelah kanan sedikit terasa sakit. Lama kelamaan, seluruh tenaga di kedua kaki dan tangan saya hilang. Saya kesulitan untuk mengangkat benda dan menggerakkan tubuh, yang saat ini sudah berlangsung selama satu bulan.

Menurut Primadoni, dirinya sempat dirawat selama tiga hari di Rumah Sakit BMC Padang. Namun lantaran pihak rumah sakit tidak menemukan jenis penyakitnya, dirinya memutuskan untuk pulang kerumah.

“Selain di BMC upaya pengobatan juga dilakukan di Semen Padang Hospital, bahkan sudah menjalankan Magnetic Resonance Imaging (MRI). Namun, hasil MRI bersih dan tidak menemukan keganjilan saraf dibagian leher maupun otak,” ulasnya.

Kondisi yang menimpa Primadoni ini, menyita perhatian Wakil Gubernur Sumatera Barat Nasrul Abit menyempatkan diri mendatangi rumah kediaman Primadoni.

Nasrul Abit datang bersama dengan Kepala Dinas Kesehatan Sumbar Merry Yuliesdai, dan tiga orang Dokter ahli saraf.

Menurut Nasrul Abit, Primadoni merupakan salah satu wartawan di Sumatera Barat, sepulang monitoring pemilu dengan Bawaslu Sumbar di Dhamasraya, tiba-tiba kaki dan tangannya tak ada tenaga untuk difungsikan. Kasihan sekali saat ini Doni hanya bisa duduk atau tidur. Ada istrinya yang sehari-hari ibu rumah tangga dan dua anak yang masih sangat kecil.

“Kedatangan kami tidak hanya melihat dan memberikan suport kepada Primadoni. Namun, lebih dari itu yakni untuk memastikan jenis penyakit yang dideritanya,” ulas Wagub.

Untuk mengobati Primadoni sambung Nasrul Abit, pilihan sangat sulit, satu alat di RSUP M Djamil tak di cover BPJS dengan biaya fantastis. Satu alat lainnya, sedang rusak. Sementara ada saran berobat dengan rujukan ke RSCM Jakarta. Tentu berobat ke RSCM bukan hal sederhana. Satu-satu nya yang bisa dilakukan dalam waktu dekat adalah physiotherapy di RSUP M Djamil.

Sementara itu, Dedi Sutia salah satu Dokter ahli syaraf menyebutkan kalau berdasarkan hasil pengamatan sementara, Primadoni di diagnosa mengidap penyakit Guillain-Barre syndrome (GBS). Penyakit ini terbilang langka. Yang diserang adalah jaringan saraf kaki dan tangan hingga tak bisa digerakan.

"Guillain-Barre syndrome adalah sebuah gangguan sistem kekebalan tubuh yang menyerang saraf. Lemah dan kesemutan pada kaki, biasanya menjadi gejala yang paling awal. Dalam bentuk yang paling parah, sindrom ini adalah darurat medis yang membutuhkan perawatan secara inap," ulasnya.

Menurut Dedi Sutia, Guillain-Barre syndrome ini terdiri dari beberapa jenis. Tentu, kita harus mencari tahu dulu ini bagian dari lembaran jenis yang mana sehingga kita dapatkan penanganan yang lebih spsifik dan perkiraan kemungkinan akan kesembuhan terhadap pasien.

“Salah satu langkah yang akan diambil saat ini adalah, melakukan sejumah pemeriksaan terhadap pasien. Disamping iu, juga akan melakukan rehabilitasi motorik atau physiotherapy untuk megembalika kekuatan motoriknya.Kita sarankan juga ke Jakarta untuk memastikan diagnosis tipe atau jenis dari Guillain-Barre syndrome ini," tukasnya.

tunggu 60 detik untuk memberikan komentar lagi. komentar anda akan dimoderasi sebelum diterbitkan
Cancel Preview
Cancel Preview
00:00:00 / 00:00:00