• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

Sigap Polri

Polisi Ringkus Pemilik dan Perawat TPA Maut

13 May
15:38 2019
1 Votes (5)

KBRN, Denpasar : Jajaran kepolisian resor kota (Polresta) Denpasar mengamankan dua orang dari tempat penitipan anak (TPA) Princess House Childcare, di Jalan Badak Sari I Nomor 2A Denpasar. Keduanya ditangkap lantaran diduga melakukan tindak pidana kelalaian yang mengakibatkan matinya seseorang.

Kapolresta Denpasar, Komisaris Besar Polisi Ruddi Setiawan menjelaskan, dua tersangka yang ditangkap yaitu MSP alias Made (P/39) selaku pemilik, dan LI alias Tina (P/39) pegawai TPA Princess House Childcare. Ia menceritakan kronologi kejadian yaitu ketika korban Elora Nathania Ang dititipkan oleh ayahnya yang bernama Andika Anggara ke TPA tersebut, Kamis (9/5/2019) Pukul 07.30 WITA.

"Namun pada saat akan diambil, ternyata anak tersebut dibawa ke rumah sakit dan akhirnya anak tersebut yaitu bayi berumur 3 bulan tadi itu meninggal di rumah sakit," ungkapnya kepada wartawan di Mapolresta Denpasar, Senin (13/5/2019).

Sebelum dibawa ke rumah sakit dan dinyatakan meninggal dunia, pada Pukul 15.30 WITA korban menangis, hingga Tina membedong serta memberikan susu botol. Karena meminum susu hanya sedikit, tersangka Tina kemudian menengkurapkan, dan menepuk pantat korban. Tidak lama berselang korban diletakkan diatas kasur dengan posisi tengkurap.

"Dari hasil kita CCTV itu sekitar 30 menit, datang, terus diangkat oleh perawatnya tadi, ternyata sudah kondisi lemas. Lalu langsung dibawa ke rumah sakit BROS, di rumah sakit tersebut meninggal. Karena kondisi bayi tadi itu lemas. Kita sudah melakukan otopsi, kita menunggu hasilnya," kata Ruddi.

Belakangan, TPA tersebut diketahui beroperasi hanya menggunakan izin yayasan. Tidak ada izin dinas terkait seperti dari Dinas Pendidikan, dan Dinas Kesehatan. Fatalnya lagi, tenaga yang dipekerjakan hanya lulusan SMP, dan SMA serta tidak memiliki keterampilan khusus.

"Dan didalam brosurnya, brosur untuk mengajak yang mau menitipkan itu dalam brosur dijelaskan bahwa makan dan minuman dengan ahli gizi. Namun hasil kami interogasi kepada pemiliknya bahwa ahli gizi itu dia melihat google, bukan mendatangkan dari benar-benar dokter ahli gizi, tidak, dia hanya melihat dari google," tukasnya.

Ruddi mengungkapkan, tersangka Tina disangkakan pasal 76B Jo. pasal 77B Undang-Undang RI Nomor 23 tahun 2014 tentang perubahan atas Undang-Undang RI Nomor 23 tahun 2002 tentang perlindungan anak dan atau pasal 359 KUHP. Sedangkan tersangka MSP dijerat pasal 76B Jo. pasal 77B Undang-Undang RI Nomor 23 tahun 2014 tentang perubahan atas Undang-Undang RI Nomor 23 tahun 2002 tentang perlindungan anak dan atau pasal 359 KUHP Jo. Pasal 55 KUHP.

"Ancaman penjaranya lima tahun untuk keduanya," pungkas Kapolresta Denpasar.

tunggu 60 detik untuk memberikan komentar lagi. komentar anda akan dimoderasi sebelum diterbitkan
Cancel Preview
Cancel Preview
00:00:00 / 00:00:00