• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

Kumham

Buntut Pengosongan Mayang Bali, Dua Kubu 'Jual-Beli' Argumen

12 May
21:13 2019
5 Votes (4.6)

KBRN, Denpasar : Pengosongan Mayang Bali Art Shop yang terjadi Selasa (7/5/2019) Pukul 14.00 WITA dipertanyakan pihak kuasa hukum Sonny. Sonny merupakan pemilik Mayang Bali Art Shop yang berlokasi di Jalan Raya Legian 184 atau tepatnya sekitar 50 meter dari Monumen Bom Bali. 

Kuasa Hukum Sonny, Edward Tomuara P. Hasibuan bersama tim mengaku heran dengan cara pengosongan tersebut. Belum lagi pengosongan sekaligus penggembokan disebut-sebut dilakukan dengan cara premanisme oleh Feric Setiawan melalui orang suruhannya.

"Mereka juga mengusir karyawan toko tanpa menunjukkan kuasa dan putusan pengadilan. Sangat kita sayangkan karena mirip aksi premanisme. Apalagi, kejadian di tempat atau pusat wisata. Kalau memang ada permasalahan, diselesaikan secara kekeluargaan atau bisa menempuh jalur hukum. Bukan dengan melakukan cara-cara seperti ini," bebernya kepada awak media di Denpasar, Minggu (12/5/2019). 

Tidak sebatas itu, pihaknya pun mempertanyakan seorang pengacara Feric Setiawan berinisial NIF. Pasalnya NIF diduga merupakan istri salah seorang oknum perwira di Polsek Kuta. Hal ini sekaligus menimbulkan pertanyaan besar terhadap netralitas polisi. Dugaan tersebut semakin kuat lantaran saat pengosongan, mereka mengaku sudah mendapat izin dari Kapolsek Kuta, AKP Teuku Ricki Fadliansah. 

"Selain itu, saat kejadian dari Pukul 14.00 - 16.00 WITA tidak ada polisi yang datang ke lokasi kejadian saat sekelompok orang berbadan kekar melakukan cara-cara mirip preman tersebut. Pada pukul 17.00 WITA baru datang anggota polisi berseragam, namun beberapa saat kemudian petugas tersebut kembali pergi," ungkapnya. 

"Kami tidak menuduh polisi netral atau tidak. Tetapi diduga keras salah seorang tim kuasa hukumnya Pak Feric adalah istri dari oknum perwira polisi di Polsek Kuta. Apalagi, saat itu mereka mengatakan kepada klien kami mereka melakukan aksi itu sudah seizin Kapolsek Kuta," lanjutnya. 

Edward menyebut kliennya sangat menyesalkan sekaligus keberatan dengan peristiwa dan tindakan seperti itu. Kliennya kala itu dikepung 8 hingga 9 orang lalu dibentak-bentak oleh orang-orang yang mengaku sebagai pengacara Feric Setiawan. Intimidasi itu dilakukan agar kliennya mengosongkan tempatnya. 

Ia mengaku, pihaknya telah membuat laporan polisi bernomor STPL/124/V/2019/Bali/Resta Dps/Sek Kuta tertanggal 7 Mei 2019 terkait aduan tindak pidana membuat perasaan tidak menyenangkan. 

"Seharusnya ada jalur atau upaya hukum yang dapat ditempuh oleh semua warga negara ketika ada perselisihan. Bukan menggunakan dengan cara cara pemaksaan atau aksi premanisme," katanya.

Ditempat terpisah kuasa hukum Feric Setiawan, Daniar Trisasongko membantah melakukan cara-cara premanisme seperti yang dituduhkan. Dikatakan Daniar, orang-orang yang hadir saat itu adalah tim pengacara dari kuasa hukumnya Feric Setiawan. Sementara orang-orang berbadan kekar adalah petugas Jagabaya yang saat itu sedang berjaga di Ground Zero. 

"Yang betul yang terjadi adalah kami tidak ada menggunakan cara-cara preman, dan tidak ada preman. Karena satu hari sebelum melakukan pengosongan kami sudah menyampaikan pemberitahuan kepada Kapolsek, itu melalui satu jalur yang benar," ujarnya. 

"Kemudian yang kedua pada hari h nya kami memohon didampingi oleh pihak linmas dari aparat desa setempat, dan jagabaya. Dan mereka tidak ikut, kami menyampaikan secara profesional sebagai lawyer. Tanpa cara-cara premanisme, tanpa ada pengrusakan, tanpa ada kekerasan dan pemukulan ataupun mengintimidasi apapun, tidak ada," lanjutnya. 

Terkait istri oknum perwira di Polsek Kuta yang masuk tim pengacara Feric Setiawan, Daniar tidak membantah dan tidak pula mengiyakan. Ia justru meminta permasalahan ini tidak dibuat melebar. 

"Jangan kaitkan pengacara ini dengan profesi apa pun. Saya pengacara, kalau istri saya seorang PNS, apa salah? Yang jelas, ada kartu anggota pengacara dan ada kuasa," tegasnya. 

Daniar menuding, langkah-langkah dari Sonny dan tim kuasa hukumnya untuk mengambil keuntungan yang bukan haknya. Ia membeberkan, hak Sonny sesuai akta jual beli telah terbayarkan. 

"Mereka juga sempat minta kompensasi segala macam. Bahkan awal dia minta Rp4 miliar, kemudian dia turun jadi Rp1,5 miliar, kemudian jadi Rp1,2 miliar, akhirnya Rp1 miliar. Kami tidak sanggup sebanyak itu. Ya mungkin kalau untuk biaya pengangkutan barang-barang yang ada didalam kita mungkin fasilitasi transportnya atau gudang tempat menyimpan, mungkin bisa," paparnya. 

Keduabelah pihak dikatakan telah menyepakati proses jual beli objek senilai Rp25 miliar. Pasca pelunasan, kliennya diakui telah melakukan proses balik nama sertifikat. Jadi ia memastikan tidak ada tunggakan pelunasan seperti yang sempat dilontarkan pihak Sonny. 

"Itu pengakuan dia, silahkan kalau beralibi seperti itu. Kalau dia mau menggugat, silahkan saja gugat ke pengadilan. Tetapi sudah tertulis bahwa dia menerima uang sebesar Rp25 miliar, dan dia sudah mengalihkan, menyetujui jual-beli pengalihan ke pihak klien saya sebagai pembeli. Kalau belum lunas dia kan tidak akan tanda tangani jual beli," pungkasnya. 


















tunggu 60 detik untuk memberikan komentar lagi. komentar anda akan dimoderasi sebelum diterbitkan
Cancel Preview
Cancel Preview
00:00:00 / 00:00:00