• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

Internasional

Di DK PBB, Indonesia Serukan Pendudukan Ilegal Israel di Palestina Turut Halangi Proses Perdamaian

10 May
16:30 2019
0 Votes (0)

KBRN, Jakarta : Indonesia kembali menunjukkan komitmennya mendukung perjuangan rakyat Palestina untuk merdeka. 

Sebagai Presiden Dewan Keamanan PBB periode Mei 2019, Indonesia secara khusus menggelar Pertemuan Arria Formula, Kamis malam (9/5/2019), dengan fokus terkait pendudukan ilegal Israel. 

Pertemuan informal yang dihadiri oleh 14 negara anggota Dewan Keamanan termasuk menteri luar negeri Palestina, Riad al Maliki itu, dipimpin langsung oleh Menteri Luar Negeri RI, Retno Marsudi.

Retno Marsudi mengatakan, bagi Indonesia bahwa pendudukan ilegal oleh Israel adalah sesuatu yang tidak dapat diterima. 

"Bagi Indonesia bahwa pendudukan ilegal itu adalah sesuatu yang tidak dapat diterima. Saya ulangi, adalah sesuatu yang tidak dapat diterima," tegas Retno Marsudi ketika memimpin Pertemuan Arria Formula, Kamis malam (9/5/2019), waktu New York.

Retno menambahkan, pendudukan ilegal tersebut merupakan salah satu bentuk nyata penghalang proses perdamaian antara Israel dan Palestina. 

"Pendudukan ini jelas sekali merupakan unsur aneksasi de-facto. Pendudukan ini juga merepresentasikan suatu penghalang utama bagi proses perdamaian," ujarnya.

Menurut Retno, setidaknya terdapat 3 hal yang menjadikan Indonesia tidak menerima pendudukan ilegal oleh Israel, diantaranya jelas sekali pendudukan ilegal tersebut menyebabkan "Solusi Dua Negara" kedalam situasi berbahaya. 

"Kedua, pendudukan ilegal adalah sumber dan dalih bagi kebijakan yang tidak berdasar hukum dan pelanggaran HAM terhadap rakyat Palestina. Mereka merencanakan secara konstan, strategis, dan sistematis dan menghasilkan bencana kemanusiaan," imbuh Retno. 

Dibagian lain Retno Marsudi memastikan, bahwa isu terkait Palestina akan selalu menjadi salah satu isu penting di PBB. 

"Sebagai Mitra Tepat bagi Perdamaian, Indonesia tidak akan menyia-nyiakan waktu untuk memastikan bahwa isu terkait Palestina masih merupakan salah satu fokus utama di PBB, semangat multilarisme harus ditegakkan, dan proses perdamaian akan berlanjut berdasarkan pada prinsip-prinsip hukum internasional dan parameter kesepekatan secara internasional," paparnya.

Pada kesempatan yang sama menteri luar negeri Palestina, Riad al Maliki, mengatakan, kolonialisme Israel telah menghancurkan hidup rakyat Palestina, yang melakukan invasi terhadap lahan, properti, hidup dan harapan mereka. 

"Kolonilisme Israel itu tidak dapat diterima. Bagi rakyat Palestina kolonialisme Israel itu telah menghancurkan hidup mereka. Mereka melakukan invasi terhadap lahan, properti, hidup dan harapan rakyat Palestina," ungkap Riad Al Maliki. 

Maliki menegaskan, kolonialisme oleh Israel itu juga merupakan bentuk kekerasan terhadap kebijakan dan resolusi PBB. Khususnya, terkait resolusi 2334 tahun 2016.

"Kolonialisme adalah bentuk kekerasan terhadap kebijakan dan resolusi PBB. Serta, bentuk pelanggaran terhadap HAM dan Kriminal. Kolonilisme Israel itu tidak dapat diterima. Bagi rakyat palestina kolonialisme Israel itu telah menghancurkan hidup mereka," terangnya. 

Pendudukan ilegal Israel di Palestina dimulai sejak pendudukannya oleh militer pada tahun 1967. 

Pada tahun 1993 pendudukan ilegal dimulai oleh rakyat Israel di tanah-tanah milik rakyat Palestina dengan jumlah mencapi 110 ribu penduduk ilegal. 

Kemudian, ketika ditandatanganinya Oslo Accord pada tahun 2017 jumlah penduduk ilegal Israel di Palestina mencapai hingga 620 ribu orang.

Sedangkan, Pertemuan Arria Formula yang dihelat Indonesia adalah sebagai bentuk dukungan Indonesia yang selama ini menempatkan isu Palestina sebagai prioritas dalam kebijakan luar negeri.

Sementara, Pertemuan Arria Formula yang berlangsung di Markas Besar PBB itu juga turut menghadirkan sejumlah pembicara yang memiliki perhatian maupun terlibat langsung terkait permasalahan pendudukan ilegal. 

Diantaranya, Emily Schaeffer Omer-Man, yang merupakan Pengacara HAM.

tunggu 60 detik untuk memberikan komentar lagi. komentar anda akan dimoderasi sebelum diterbitkan
Cancel Preview
Cancel Preview
00:00:00 / 00:00:00