• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

Teknologi

COPs BRS 2019, Kepala BPPT: Teknologi Mampu Atasi Persoalan Sampah Plastik

1 May
20:20 2019
1 Votes (5)

KBRN, Jakarta : Kepala Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), Hammam Riza dalam Konferensi Tingkat Tinggi atau Conference of Parties (COPs) Basel, Rotterdam dan Stockholm (BRS) di Jenewa, Swiss menyampaikan pentingnya penerapan teknologi sebagai upaya mengatasi permasalahan limbah atau sampah plastik 

Pemerintah Indonesia melalui BPPT sebagai lembaga yang bertanggung jawab atas pengkajian dan penerapan teknologi sebut Hammam, telah melakukan berbagai upaya teknologi guna  penanganan limbah plastik, dalam skala yang massif.

"Pertama, saat ini kami terapkan inovasi teknologi "cleaning tools" di area pesisir wilayah Jakarta, guna mengurangi sampah plastik yang masuk ke laut," ungkapnya via pesan instan dari Jenewa, Swiss, Rabu (1/5/2019).

Upaya selanjutnya adalah dengan memanfaatkan limbah plastik sebagai bahan campuran untuk pembuatan aspal jalan, serta semen untuk keperluan bahan bangunan.

"Kedua, kami terapkan inovasi teknologi dengan konsep itu agar limbah atau sampah plastik itu termanfaatkan. Yakni dengan menggunakan sampah plastik sebagai bahan campuran aspal untuk jalan. Selain itu, juga digunakan untuk membuat bahan bangunan baru dengan mencampurkannya dengan semen," papar Hammam.

Kepala BPPT kemudian menuturkan pihaknya tengah melakukan pengembangan teknologi untum menghasilkan bahan baku plastik, agar lebih mudah terurai.

"Saat ini Laboratorium Teknologi Material BPPT tengah mengkaji terap potensi pencampuran bahan plastik dengan (surfaktan) tepung dan katalis menjadi bahan plastik baru. Ini akan lebih fleksibel dan mudah terurai. Selain itu kami melakukan pengembangan bahan baku plastik dari singkong atau jagung, melalui proses fermentasi, menghasilkan PLA-Poly Lactic Acid sebagai bahan plastik yang mudah terurai," paparnya.

Lebih lanjut Hammam mengungkapkan bahwa BPPT tengah menghadirkan teknologi Pengolahan Sampah menjadi Energi atau Waste to Energy berkapasitas 100 Ton perhari, di Bantargebang, Bekasi. Terkait inipun, Hammam juga merinci bahwa  nantinya limbah plastik yang memiliki nilai kalor tinggi dapat menjadi baku dalam insinerator. 

"Jadi limbah plastik ini fungsinya sebagai feedstock bagi insinerator di plant pengolah sampah berbasis thermal. Panas muncul, digunakan untuk menguapkan air menjadi uap. Steam digunakan untuk menghasilkan listrik. Dengan cara ini, 80 persen sampah plastik akan hancur. Cara lain adalah dengan pirolisis yang memanaskan limbah plastik pada suhu dan tekanan tertentu, menjadi bahan bakar minyak," lanjutnya.

Hammam juga mengingatkan agar Pengelolaan sampah harus mengikuti prinsip 3R reduce reuse recycle.

"Melengkapi 3R,  kita juga harus re-think, berpikir lagi secara mendalam, dampak lingkungan akibat sampah plastik dan sampah elektronik (e-waste). Indonesia harus berpikir ke arah circular economy pengelolaan sampah," tegasnya.

Hammam lantas berharap agar teknologi dapat menjadi solusi utama, dalam penanganan limbah atau sampah plastik.

"Dengan adanya dukungan dan sinergi antar pemangku kepentingan, tentunya hal ini dapat berjalan optimal," pungkasnya.

Sebagai informasi, Konferensi Tingkat Tinggi atau Conference of Parties (COPs) Basel, Rotterdam dan Stockholm (BRS) dengan tema Clean Planet, Healthy People: Sound Management of Chemicals and Waste ini berlangsung di Jenewa, Swiss, 29 April hingga 10 Mei 2019. Delegasi Indonesia yang dipimpin oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, terdiri dari perwakilan Kementerian Luar Negeri, KLHK, Kementerian Perindustrian, Kementerian Pertanian, BPPT, LIPI dan PTRI Jenewa. Dalam pertemuan yang diadakan setiap dua tahun sekali ini, seluruh Negara Pihak akan meninjau dan memutuskan daftar bahan kimia yang akan diatur, mengkaji dan mengadopsi program kerja dan anggaran kerja serta memutuskan pengaturan limbah yang termasuk limbah B3 dan limbah non B3 serta dalam perpindahan lintas batas limbahnya.

tunggu 60 detik untuk memberikan komentar lagi. komentar anda akan dimoderasi sebelum diterbitkan
Cancel Preview
Cancel Preview
00:00:00 / 00:00:00