• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

Feature

Kota Gemilang, Kota Toleran

24 April
23:54 2019
1 Votes (5)

KBRN, Banda Aceh : Kota Banda Aceh merupakan ibu kota dari Provinsi Aceh. Daerah berjuluk Kota Gemilang ini terletak di ujung barat pulau Sumatera, Indonesia.

Kota yang sudah berusia 814 tahun ini pernah dilanda musibah bencana besar gempa dan tsunami pada 24 Desember 2004 silam.

Kota dengan jumlah penduduk lebih dari 250 ribu jiwa itu mayoritas penduduk muslim. Sementara penduduk non muslim hanya sekitar 6 ribu jiwa.

Meski dominannya muslim, namun antara mayoritas dengan minoritas di kota ini, hidup berdampingan tanpa terjadi gesekan.

Survei dari Setara Institute yang dilakukan pada tahun 2018 lalu, menyebutkan bahwa Kota Banda Aceh masuk dalam kategori kota intoleran. Banda Aceh berada di urutan kedua setelah Tanjung Balai. DKI Jakarta di urutan ketiga.

Namun survei itu terbantahkan. Ketua Yayasan Vihara Dharma Bhakti di Banda Aceh, Yuswar kepada RRI mengatakan, Kota Banda Aceh kota toleran. Katanya, umat Budha di Kota Banda Aceh selama ini hidup rukun dan damai.

“Di kota Banda Aceh dan Aceh umumnya kita akui bahwa toleransinya sangat bagus. Contohnya pada setiap perayaan Imlek, ketika kita melaksanakan ibadah walaupun tengah malam tidak masalah. Kita bisa menjalankan ibadah dengan nyaman,” kata Yuswar yang juga pengurus di Forum Kerukunan Antar Umat Beragama (FKUB) Aceh, Senin (22/4/2019).

Saat ini kata Yuswar, jumlah etnis Tionghoa di Kota Banda Aceh mencapai 4 ribu jiwa. Mereka dominan tinggal di wilayah Peunayong, Kecamatan Kuta Alam.

Sebagai bukti bahwa Kota Banda Aceh adalah kota toleran, Yuswar menceritakan sejarah pertama kalinya etnis Tionghoa eksodus ke Kota Banda Aceh. Bahkan Vihara Dharma Bakti yang berada di Peunayong tersebut merupakan Vihara tertua di Aceh.

“Virahara ini dibangun pada tahun 1936. Sebelumnya Vihara ini berada di pantai cermin Ulee Lhue Banda Aceh. Usia Vihara yang di Ulee Lheu itu pun juga sudah sangat tua yaitu dibangun pada tahun 1878.  Namun saat masa perang dunia ke-II, Vihara itu dipindahkan ke Peunayong atas alasan keselamatan,” jelas Yuswar.

Di Kawasan Pantai Cermin itu, kata Yuswar juga banyak terdapat makam-makam etnis Tionghoa. “Tapi makamnya banyak yang sudah hilang kena tsunami. Di sini saya mau katakan, bahwa etnis Tionghoa itu sudah lama ada di Kota Banda Aceh dan hidup berdampingan dengan masyarakat mayoritas hingga sekarang ini,” katanya.  

Dirinya juga menyampaikan, jika ada pihak-pihak tertentu yang ingin melakukan survei terkait toleransi antara umat beragama di Kota Banda Aceh, seharusnya dikroscek secara langsung.  

“Kalau pun ada survei yang mengatakan Banda Aceh tidak toleransi, tapi nyatanya mungkin info yang diterima oleh pihak mereka, orang itu tidak langsung kemari (Banda Aceh) untuk melihatanya. Sehingga menurut saya keliru,” ujarnya.

Padahal tambah Yuswar, FKUB di Aceh mendapat penghargaan keharmonisan awards dari Kementerian Agama.  

“Kita di Aceh yaitu FKUB mendapat keharmonisan award, itu membuktikan bahwa Aceh, Banda Aceh dan daerah kabupaten kota lainya adalah kota paling harmonis. Itu diakui oleh pemerintah,” ungkap Yuswar.

Menurutnya, keharmonisan yang dirasakan oleh masyarakat non muslim di Kota Banda Aceh cukup bagus, bahkan pada saat perayaan hari kebesaran, pihaknya sering diundang.

“Makanya kita katakan di Kota Banda Aceh ini sangat toleran, kita saling mengunjungi. Ketika ada orang kawin, kita datang, ada orang meninggal kita datang. Misal dari muslim anaknya sunat rasul kami datang diundang.”

“Bahkan saat Maulid kami diundang, kami hadir. Begitu juga diagama kami, saat ritual sembahyang kan nggak mungkin kita undang. Tapi kalau untuk perayaan atau resepsi atau malam gembira menyambut Imlek itu kita undang,” tutur Yuswar.

Hal senada juga disampaikan oleh Wakil Ketua FKUB Kota Banda Aceh, Eliaudin Gea yang mewakili umat Nasrani. Menurutnya, kerukunan antar umat beragama di Banda Aceh telah terjalin sejak lama.

“Saya sudah 38 tahun tinggal di Banda Aceh dan tidak pernah terjadi konflik agama di kota ini. Kehidupan antar umat beragama di Banda Aceh sangat harmonis,” kata Gea.

Selain itu, Kota Banda Aceh juga dianggap sebagai daerah yang paling aman dan nyaman dalam melaksanakan ibadah. Hal tersebut dikatakan Yanto Prawiro, salah satu pegawai di lembaga vertikal yang berada di Kota Banda  Aceh.

“Awalnya saya bertugas di Jakarta. Pada tahun 2017 saya pindah tugas ke Aceh,” sebut pria beragama muslim itu.

Pada saat pertama kali menginjakan kaki di Kota Banda Aceh, warga Jakarta ini pun langsung jatuh cinta.

“Yang paling saya suka di Banda Aceh ini, kalau mau ibadah sangat nyaman, Masjidnya bagus-bagus, salah satunya Masjid Raya Baiturrahmah. Nuansa islaminya cukup kental, apalagi pada saat bulan Ramadhan, itu sangat beda dengan beberapa daerah lain yang pernah saya bertugas,” ungkap Yanto.

Sementara itu, Walikota Banda Aceh Aminullah Usman mengatakan, kerukunan antar umat beragama di Kota Banda Aceh telah diakui oleh dunia.

“Banda Aceh ini kota yang sangat toleran, Masjid dan Gereja berdampingan, bagitu juga rumah-rumah ibadah lainya. Jadi sudah sejak ratusan tahun lalu dari nenek moyang sudah hidup rukun,” kata Aminullah.

Untuk menjaga keharmonisan ini dengan baik, Pemko Banda Aceh secara rutin mengadakan rapat dengan FKUB yang dihadiri oleh lintas agama.

“Jadi berbagai persoalan dapat kita selesaikan dengan baik tanpa adanya gesekan-gesekan,” ucapnya.

Bahkan kata Amin, banyak kota-kota lainnya di Indonesia termasuk dari luar negeri datang ke Banda Aceh untuk mempelajari tentang toleransi antar umat beragama.

“Meski di Banda Aceh dan Aceh secara keseluruhan telah menerapkan aturan syariat Islam, namun tidak menjadikan daerah ini sebagai kota intoleransi. Justru menurut saya aturan tersebut memperkuat kerukunan antar umat beragama. Bahkan banyak wisatawan yang berkunjung ke kota ini karena keunikannya,” tutup Aminullah.


tunggu 60 detik untuk memberikan komentar lagi. komentar anda akan dimoderasi sebelum diterbitkan
Cancel Preview
Cancel Preview
00:00:00 / 00:00:00