• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

Ekonomi

Para Pencari Rejeki di Jembatan Sawo : Kami Bukan Pengemis

23 April
10:15 2019
0 Votes (0)

KBRN, Indramayu : Pengemudi kendaraan roda dua dan empat, jika menempuh perjalanan di Jalur Pantai Utara (Pantura) Jawa dan melihat sebuah jembatan ditunggu banyak orang disetiap sudutnya, berbagai usia dengan sapu lidi ditangannya, di perbatasan Subang-Indramayu Jawa Barat, pastilah pengendara telah melintas di atas Jembatan Sewo.

Kewaspadaan dan ektra hati-hati, harus dilakukan para pengendara kendaraan. Jumlah para pencari rejeki sendiri yang berjejer di sekitar jembatan itu akan meningkat hingga ratusan, saat memasuki musim mudik lebaran disetiap tahunnnya.

"Alhamdulillah,ini saya dapat lagi dua ribu pak. Saya nongkrong di sini dari jam 6 pagi, nanti istirahat siang dan sampe sore selesainya jam 5 sore, Ya Alhamdulillah lima puluh ribu rupiah setiap harinya dapat. Tapi,kalau menjelang lebaran, mereka mereka ini bisa dapat 500 ratus ribuan dan kami tidak mau dibilang pengemis," ujar Juriah yang biasa disapa dengan nama Cucu saat berbincang dengan Tim Ekpedisi Radio Republik Indonesia (RRI) di kawasan Jembatan Sewo, selasa (23/4/2019).

"Sapu ini terbuat dari rumput panjang yang  sudah dikeringkan dan nyarinya dihutan ataupun daerah alas dikawasan Subang. Nah sapu ini, orang sini bilangnnya "Goprak"," tambah Cucu seraya menggendong anaknnya dan menggenggam uang serta, sapunya.

Jika mereka melihat ada tanda-tanda pengendara yang akan melempar uang recehan, yaitu kendaraan tersebut memperlambat laju kendaraan dan membuka jendela dan langsung diserbu. Dengan sapu tersebut, mereka mengumpulkan beberapa uang koin, demi koin yang berserakan di jalan.

Pantauan Tim Ekpedisi RRI, pada hari biasa, para pencari rejeki disekitaran jembatan sewo ada sekitar puluhan orang.

"Saya belum tahu dapat berapa tetapi, ini uang recehannya," sapa lelaki muda yang tidak mau diketahui identitasnnya sambil menunjukkan seplastik ukuran 1Kg, uang recehan kepingan Rp.100,-, Rp.200,- dan Rp.500,-.

Tidak tahu pastinya kapan tradisi ini sudah dimulai. Akan tetapi, musim mudik dan balik Lebaran adalah saat "panen" karena dalam sehari,para pencari rejeki jembatan sewo ini bisa mengumpulkan Rp 150 ribu-Rp 500ribu dari recehan, sementara pada hari biasanya paling banyak hanya Rp 50 tibu.

Tradisi tersebut tampaknya sulit untuk dilarang, walaupun mereka mengakui berbahaya, karena terlalu sibuk menyapu uang recehan dapat mengakibatkan tertabrak oleh kendaraan yang melintas.

tunggu 60 detik untuk memberikan komentar lagi. komentar anda akan dimoderasi sebelum diterbitkan
Cancel Preview
Cancel Preview
00:00:00 / 00:00:00