• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

Teknologi

E-Pemilu Sudah Teruji pada 981 Pilkades di 18 kabupaten, Kapan di Pilkada dan Pilpres?

23 April
09:18 2019
1 Votes (5)

KBRN, Jakarta : Penggunaan teknologi informasi dan komunikasi (TIK)  diharapkan memberikan efek yang baik dalam warna baru berdemokrasi ke depan.

Tak bisa dipungkiri, masyarakat kian hari kian cerdas. Kejenuhan mereka akan metode pemilihan suara yang kian hari dianggap berpotensi dimanipulasi, membuat kehadiran e-voting layak menjadi sebuah metode baru yang patut untuk diterapkan lebih masif.

Diyakini pro dan kontra pasti akan terjadi. Oleh karenanya, metode Pemilu Elektronik (e-voting) membutuhkan sinergi dan dukungan berbagai pihak, guna memenuhi persyaratan untuk digunakan sebagai sebuah metode pemilihan yang andal.

“Teknologi e-voting menjamin berlangsungnya pemungutan suara dan perhitungan menggunakan TIK demi Pemilu yang transparan, jujur dan akuntabel, serta dapat diaudit di tiap Tahapan nya. Layak dijadikan metode yang tepat untuk melaksanakan pemilu,” ungkap Direktur  Pusat Teknologi Informasi dan Komunikasi Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (PTIK-BPPT), Michael A. Purwoadi, Jakarta, Selasa (23/4/2019) pagi.

Mengenai konsep e-voting, Purwoadi menuturkan bahwa secara prinsip, sistem pemilihan elektronik itu menghilangkan teknis manual pada sistem pemilihan konvensional, seperti surat suara dan perhitungan manual serta rekapitulasi otimatis dan berjenjang. 

Kemudian sistem pemilihan dan  pemungutan elektronik mempunyai lima unsur perangkat, yaitu pembaca KTP-el, generator kartu V-token, pembaca kartu pintar (smart card), e-voting, dan printer kertas struk.

Hasil perhitungan suara elektronik juga  bisa langsung diperoleh begitu waktu pemungutan suara ditutup. Purwoadi menambahkan, hasil rekapitulasi juga bisa langsung dikirim ke pusat data ditingkat desa. Setelah hasil perhitungan perolehan suara TPS dicetak, langsung dikirim ke pusat data dan terekapitulasi secara otomatis dan berjenjang mulai dari desa/kelurahan, kecamatan, kabupaten, provinsi dan nasional.

"Jadi, ini selain quick count juga real count. Cepat dan akurat serta terverifikasi," jelasnya. 

e-Rekapitulasi bertanda tangan elektronik

Hasil hitung cepat ini disebut Purwoadi sebagai e-rekapitulasi, di mana pihaknya beberapa saat lalu juga berusaha meyakinkan lembaga penyelenggara Pemilu untuk menggunakan Pemilu ini demi meningkatkan kualitas Pemilu di Indonesia, manakala KPU masih menerapkan pemungutan suara manual. Form C1 plano difoto dan dikirim langsung dari TPS oleh KPPS dengan dibubuhi tanda tangan elektronik KPPS yang mengirim sebagai pemenuhan atas dokumen elektronik yang sah secara hukum untuk mendukung proses sengketa hasil pemilu di Mahkamah Konstitusi.

“Ke depannya kita harus berpikir untuk menyajikan data yang cepat, akurat transparan dan akuntabel. Saya yakin teknologi informasi dan komunikasi dapat mewujudkan ini,” ujarnya.

“Kita sampai saat ini bisa perhatikan mulai dari Pemilu 2009, 2014, hingga 2019 ini dengan hitung konvensional hampir sebulan hasilnya baru diumumkan. Oleh karena itu, BPPT akan terus berusaha mengedepankan wacana penggunaan e-rekapitulasi ini untuk kedepannya,” terangnya.

Menurut Purwodadi, e-rekapitulasi juga merupakan pilihan yang inovatif dan sangat penting dalam melaksanakan salah satu pilar demokrasi yang berkualitas, yang diharapkan mampu mencegah aspek manipulasi data. Teknologi ini juga bisa ditelusuri sumber kesalahannya, sehingga diklaim tetap menjamin pemilu yang langsung, umum, bebas, rahasia, jujur dan adil.

“E-rekapitulasi adalah bagian proses yang paling penting dari e-voting. Tepatnya yaitu proses pengolahan, pengiriman dan penayangan hasil rekapitulasi perolehan suara pemilu di tiap tempat pemungutan suara, serta menghasilkan jejak audit,” jelasnya. 

Langkah e-voting dan eVerifikasi di TPS

Purwoadi mengungkapkan bahwa pihaknya sudah melakukan berbagai kajian dan mempraktekkan pemilihan umum secara elektronik di lebih dari 900 Pilkades, di mana secara hasil dan bukti pelaksanaan Pemilu dengan e-voting dan hasilnya bisa cepat keluar pada saat TPS tutup. 

Mengenai penerapan e-voting dan e-verifikasi pemilih, lebih lanjut Kepala Program Pemilu Elektronik BPPT Andrari Grahitandaru menjelaskan tata cara pemungutan suara  dengan metode e-voting. Berikut penjelasannya:

1. Pemilih harus membawa KTP-el diverifikasi dengan pembaca KTP-el untuk memastikan kesesuaian data KTP-el dengan pemilih.

2. Setelah data sesuai, otomatis sistem eVerifikasi  menyatakan status HADIR jika nama tersebut ada dalam DPT, atau sistem menolak jika pemilih tidak ada dalam DPT. Sistem eVerifikasi ini sekaligus berfungsi sebagai catatan absensi/kehadiran pemilih atau Form C7 di pemilu.

3. Jika lolos dari eVerifikasi pemilih tersebut, pemilih diberikan V-token. Kartu ini berfungsi sebagai untuk mengaktifkan perangkat e-voting. 

4. V-token kemudian dimasukkan ke pembaca smartcard agar menampilkan SATU  surat suara elektronik.pada layar sentuh e-voting.

5. Pemilih bisa memilih dengan cara menyentuh gambar/nomer salah satu calon. Sistem akan memberi notifikasi 'YA' atau 'TIDAK' atas pilihan yang dimaksud. Jika sudah yakin, pemilih harus menekan 'YA". Pada tahap ini, pemilih bisa menyentuh pilihan 'TIDAK' jika ingin mengubah pilihan.

6. Setelah menentukan pilihan, printer mencetak struk audit dan pemilih mengambil   kertas struk yang berupa kertas barcode. Ini sebagai bukti pemilih sudah memilih.

7. Kertas struk kemudian dimasukkan ke kotak audit. Fungsinya sebagai data pembanding jika terdapat sengketa jumlah pemilih yang memberikan suara.

Menurut Andrari, pemilihan dengan sistem elektronik ini berlangsung dalam waktu lebih singkat. Pemilih cukup membawa kartu tanda penduduk elektronik, yang kemudian akan divalidasi alat pembaca KTP-el. Identitas pemilih akan dikonfirmasi dengan sidik jari pemilik KTP-el. Setelah itu, akan keluar kartu cip khusus berwarna putih sebagai penanda aktivasi seseorang dapat melaksanakan pemilihan.

Terkait  warga yang belum memiliki KTP-el, disebutnya akan divalidasi secara manual menggunakan foto yang ada dalam aplikasi DPT. 

Selain pemilihan yang berlangsung cepat, Andrari pun memastikan bahwa proses penghitungan suara juga dengan sistem Pemilu elektronik, akan berlangsung lebih cepat dan akurat. 

“Hasil perolehan suara di TPS langsung terkirim ke website Komisi Pemilihan Umum.  Semoga kedepan sistem Pemilu elektronik dapat digunakan dalam pemilu, meski tak dalam waktu dekat,” pungkasnya. Proses ini sangat aman karena selama proses pemungutan tidak tersambung ke jaringan apapun atau offline. Ketika hasil perhitungan sudah keluar dan tercetak, baru dikoneksikan dengan jaringan komunikasi untuk pengiriman hasilnya saja langsung ke pusat data, dan tidak ada campur tangan manusia karena terkirim langsung dari perangkat e-voting. 

Terpisah, Kepala BPPT Hammam Riza menekankan perlunya melakukan transformasi digital terhadap penyelenggaraan Pemilu.

"Kita ke depan perlu melakukan transformasi Pemilu secara digital. Agar luber jurdil cerat (cepat dan akurat)," ungkapnya.

Hal ini sebutnya, membutuhkan kematangan leadership dan sinergi seluruh pemangku kepentingan.

"KPU, Bawaslu, Parpol hingga peserta kontestasi pemilu harus bersinergi demi transformasi pelaksanaan Pemilu yang lebih baik. Jadilah kita transformational leaders, demi demokrasi yang lebih baik kedepan," pungkasnya.

tunggu 60 detik untuk memberikan komentar lagi. komentar anda akan dimoderasi sebelum diterbitkan
Cancel Preview
Cancel Preview
00:00:00 / 00:00:00