• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

Sorotan Kampus

Diana Febi dan Ima Madani, Penulis Muda yang Tantang Milenial untuk Berkaya

31 March
19:36 2019
2 Votes (5)

KBRN, Jakarta : Diana Febi (23) dan Ima Madani (20), dua perempuan muda yang telah sukses menyelesaikan buku karangannya. Diana menuliskan buku dengan judul ‘Dear Allah’ sedangkan Ima ‘Assalamualaikum Calon Imam’. Keduanya hadir dalam seminar ‘Single Sampai Halal’ sekaligus peluncuran buku di kampus Politeknik Negeri Media Kreatif Jakarta, Minggu (31/3/2019).

Harus diakui bahwa penulis buku lebih banyak didominasi oleh kalangan usia mapan. Namun kehadiran buku Diana dan Ima ini menandakan bahwa kemampuan di bidang menulis buku itu kini sudah tidak lagi mengenal usia. Keduanya memberi contoh nyata bahwa anak-anak muda sebaya ternyata bisa sangat kreatif dalam menciptakan hasil karya ilmiahnya. 

“Mumpung masih muda dan sehat juga alhamdulillah harus bisa memaksimalkan buat kreativitas. Benar apa kata Ima, jangan sia-siakan masa muda ini, berkaryalah selagi kita bisa,” kata Diana saat ditemui di sela-sela acara. 

Diana lahir di Lumajang, Jawa Timur di lingkungan keluarga yang berbeda agama. Kedua orang tuanya memeluk islam, sedangkan Diana kecil beragama Hindu karena mengikuti kakek dan nenek dari ibunya. Sejak kelas III SMA, Diana memmutuskan untuk hijrah. Atas dukungan medua orang tuanya, perempuan berparas cantik ini memeluk islam. Dalam kisah hijrah inilah kemudian ia tuangkan dalam bukunya ‘Dear Allah’.

“Saya ingin berbagi ilmu yang saya dapat dari proses hijrah saya itu. Saya anggap buku ini sebagai media dakwah untuk menyebarkan kebaikan kepada sesama terutama generasi muda,” ujar alumni Poltekkes Surabaya itu.

Hobi menulis sudah dimulai sejak kelas III Sekolah Dasar. Akan tetapi keinginannya untuk menuliskan buku baru dimulai saat kelas III SMA, karena saat itulah ia benar-benar tekun menulis. Diana tumbuh menjadi sosok wanita muslimah yang cerdas dan kreatif. Di bangku kuliah, kemampuannya lebih terasah. Hingga Januari 2017, buku ‘Dear Allah’, mulai ditulis. Tanpa perlu waktu lama untuk menyelesaikan buku karangan perdananya itu. 

“Sampai Januari 2018 buku ini akhirnya selesai. Tapi saya juga minta banyak masukan dari dosen dan teman-teman saya untuk sekaligus mereka bisa koreksi. Nah saya mulai tertarik menulis buku ini , karena pada waktu itu saya baru belajar hijrah, belajar agama untuk meningkatkan keistiqomahan saya,” katanya.

Buku ‘Dear Allah’ telah dicetak sebanyak 15 ribu eksampelar. Buku setebal 412 halaman itu menuliskan tentang kesadaran dan keikhlasan seseorang perempuan yang mencintai seorang pria yang tidak mencintainya. Hasil penjualan buku ini rencananya akan digunakan Diana untuk membantu kedua orangnya. Diana senang akhirnya bisa mewujudkan impiannya sejak masa kecil itu. 

“Saya ingin membantu kedua orang tua saya. Karena sampai sekarang saya belum bisa membahagiakan mereka. Walaupun saya sudah berkeluarga tapi kewajiban saya sebagai anak harus tetap ada,” ungkap Diana.

Sedangkan Ima Madani, menjadikan sosok guru Kimia di SMK Negeri 2 Cimahi, tempat dia sekolah, sebagai karakter yang galak dalam buku karangannya ‘Assalamualaikum Calon Imam’. Buku tersebut menceritakan tentang kisah seorang anak laki-laki yang jahat terhadap ayahnya, namun setelah mendapat hidayah, anak laki-laki itu berbalik menjadi anak penurut. 

“Pengalaman saya cerita punya guru Kimia galak bangat. Daripada saya kesal sama dia udah deh ditulis aja dijadiin karakter laki-lakinya dan ternyata menarik. Bukan hanya Ima yang mengalami, banyak di luar sana bilang guru aku juga kayak gitu,” ungkap Ima.

Ima baru berusia 20 tahun, akan tetapi kemampuan menulisnya tidak diragukan lagi. Perempuan berdarah Sunda itu hanya membutuhkan waktu 1 tahun untuk menyelesaikan buku karangannya setenal 414 halaman. Bahkan Ima sedangkan menyiapkan buku kedua sebagai jawaban dari edisi pertama dengan judul ‘Waalaikumussalam Pelengkap Imam’.

“Buat generasi muda pesan Ima, jangan habiskan masa muda dengan hal yang sia-sia, tapi ada hasil. Karena kita masih muda kita harus terus berkarya,” ucap Ima.

Ima lahir di Bandung, Jawa Barat. Dia belum memiliki penghasilan tetap lagi setelah sebelumnya bekerja di Sanbe Farma. Ima memutuskan mundur dari perusahaan farmasi tersebut karena ingin melanjutkan studinya dk STKIP Siliwangi Bandung. Dengan kuliah Ima yakin kemampuan dan pengalaman menulisnya akan lebih terasah. 

“Menulis buku ini memang ada hobi yang tersalurkan, saya ikut senang bisa mewujudkan itu. Kalau tujuannya untuk mendapatkan keuntungan secara ekonomi pasti ada, karena saya juga ingin membantu orang tua. Kebetulan kemarin saya baru daftar ibu naik haji,” tutup dia.

tunggu 60 detik untuk memberikan komentar lagi. komentar anda akan dimoderasi sebelum diterbitkan
Cancel Preview
Cancel Preview
00:00:00 / 00:00:00