• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

Ekonomi

Siapkan Lapangan Kerja, Menko Luhut Dorong Investasi Pembangunan Industri

21 March
23:07 2019
1 Votes (5)

KBRN, Nusa Dua : Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan memimpin rapat pertama Komite Pengarah Bersama untuk "Pembangunan Koridor Ekonomi Komprehensif Regional Kerjasama Pemerintah Republik Indonesia dan Pemerintah Republik Rakyat Tiongkok" di Nusa Dua, Kamis (21/3/2019).

Luhut Pandjaitan menjelaskan, rapat ini mendiskusikan rencana eksekusi proyek yang sudah disetujui oleh kedua negara. Tidak hanya itu proses persiapan proyek yang meliputi tahap perencanaan, pengawasan dan evaluasi juga dibahas dalam kesempatan ini.

"Ini kita bicara one belt one road. Jadi bukan hanya one belt one road, tetapi kita bicara ada 28 proyek-proyek yang akan dikerjasamakan. Tapi tidak semuanya kepada Tiongkok, jangan salah. Ada yang lain, karena ini kerjasamanya itu ada tadi Tiongkok, ada Jerman, ada Jepang. Jadi proyek ini tidak murni semua dengan Tiongkok," ungkap Menko Kemaritiman.

"Memang ada yang murni, misalnya tadi mereka menawarkan replanting program untuk palm oil, itu memang dia. Tapi ada juga seperti misalnya kerjasama tsinghua university dengan ITB, dengan tadi kura-kura island, itu sendiri lagi. Kemudian misalnya Kuala Tanjung, juga tadi itu antara dengan kita, dengan BUMN," imbuhnya.

Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman menyebut Indonesia dan Tiongkok akan terus melaksanakan pembahasan untuk finalisasi seluruh kerjasama yang telah dan akan disepakati. Pada pembahasan tahap pertama ini, potensi nilai kerjasama yang dihasilkan dari 28 proyek tersebut mencapai $91 miliar.

"Tahap pertama ini hampir selesai, mungkin ada beberapa miliar dolar yang kita harapkan nanti ditandatangani pada waktunya, dalam mungkin satu bulan kedepan," ujarnya.

Menko Luhut menegaskan, pada dasarnya Pemerintah Indonesia terus berunding terkait teknis dalam menjalin hubungan kerjasama yang disepakati nantinya.

"Kita terus berunding teknis kita juga tidak mau diatur semua, jadi mereka harus complie terhadap empat ketentuan yang kita buat. Yaitu tadi pertama added value, kedua tadi masalah teknologi yang harus first class tidak boleh second class technology, yang ketiga tadi mesti transfer teknologi, yang keempat harus menggunakan sebanyak mungkin tenaga Indonesia," tegas Luhut Panjaitan.

"Nah ini saya kira mereka semua pada setuju, dan mereka tadi kerjasama mengenai human capital itu mereka sangat setuju, karena teknologi mereka itu sekarang sudah cukup bagus," tambahnya.

Salah satu contoh yang baik dan sudah terbukti adalah Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP) di Sulawesi. Kegiatan industri ini telah menyediakan lapangan pekerjaan hingga mendekati 40.000 orang, dan akan menjadi 100.000 orang dalam waktu dekat. Disamping itu, industri ini telah meningkatkan pertumbuhan ekonomi, baik di daerah maupun secara nasional.

"Pengalaman IMIP di Morowali adalah sebuah contoh yang ingin kami replikasi di berbagai tempat di Indonesia, di mana entitas bisnis bekerja sama dengan entitas bisnis (B to B) dan Pemerintah memfasilitasi dan mengkoordinasikan kebijakan-kebijakan yang diperlukan,” tutur Menko Luhut.

Ia menambahkan berdasarkan konsep inilah proposal kerja sama Indonesia – Tiongkok dapat disampaikan, dengan harapan akan menjadi model yang lebih sehat, berkelanjutan, dan tidak menjadi beban bagi kedua Pemerintah.

tunggu 60 detik untuk memberikan komentar lagi. komentar anda akan dimoderasi sebelum diterbitkan
Cancel Preview
Cancel Preview
00:00:00 / 00:00:00