• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

Nasional

LPAI: Pemerintah Harus Serius Lindungi Anak dari Bahaya Rokok

21 March
15:16 2019
0 Votes (0)

KBRN, Jakarta : Ketua Lembaga Perlindungan Anak Indonesia (c) Seto Mulyadi menyatakan anak Indonesia darurat rokok.

Menurut Seto Mulyadi, keadaan ini membuat LPAI dan sejumlah penggiat anti rokok memintah Pemerintah Indonesia segera meratifikasi Framework Convention on Tobacco Control (FCTC)  yang bertujuan melakukan pengendalian peredaran produk Tembakau di Indpnesia.

“Kami mendesak Pemerintah untuk segera melakukan ratifikasi terhadap pembatasan peredaran produk tembakau dan negara wajib memberikan edukasi ke masyarakat, khususnya anak dan remaja yang rentan akan menjadi korban atas prilaku anak merokok. Ungkapnya kepada wartawan di Jakarta, Kamis (21/3/2019). 

Ketua LPAI, Seto Mulyadi menuturkan negara di Asia Tenggara sepakat untuk melindungi anak dari bahaya tembakau rokok. Menurut pria yang disapa Kak Seto itu malah bertolak belakang dengan Indonesia. 

"Kenapa Indonesia yang ikut aktif menyusun naskah dari Framework Convention on Tobacco Control (FCTC) tapi belum meratifikasi itu," ujar Seto.

Dikatakan Seto Mulyadi berdasarkan hasil  penelitian terhadap berapa banyak anak yang terpapar asap rokok. Hasilnya,  sebanyak 4 persen dari seluruh responden terpapar rokok. 

"Jumlahnya beragam dari anak yang terpapar asap rokok. Misalnya anak di bawah lima tahun itu ada 4 persen dari jumlah yang kami terima. Ini sangat memprihatinkan sekali," katanya. 

Ia mencontohkan, beberapa waktu lalu anak di Indonesia dijuluki baby smoker oleh dunia internasional. Menyusul penemuan anak di Musi, Banyuasin yang berinisial A itu, Seto menegaskan, pengakuan dunia tadi bukan sesuatu yang membanggakan. 

Seto juga menambahkan, sudah saatnya pemerintah mengubah kata zat adiktif dalam dua perundang-undangan. Rokok, dalam undang-undang penyiaran dan undang-undang perlindungan anak hanya disebutkan sebagai zat adiktif lainnya. 

"Peraturan perundangan - undangan itu jelas rokok sesuatu yang berbahaya untuk anak. Dalam undang-undang penyiaran, undang-undang perlindungan anak hanya disebutkan sebagai zat adiktif lainnya selain narkoba. Kenapa tidak langsung disebutkan rokok, karena rokok termasuk juga zat adiktif," pungkasnya.

tunggu 60 detik untuk memberikan komentar lagi. komentar anda akan dimoderasi sebelum diterbitkan
Cancel Preview
Cancel Preview
00:00:00 / 00:00:00