• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

Feature

Bumi Sikerei dalam Sentuhan Tangan Ajaib Bank Nagari

20 March
22:06 2019
3 Votes (5)

KBRN  Padang :

"Bukan lautan hanya kolam susu 

Kail dan jalan cukup menghidupimu

Tiada badai tiada topan kau temui

Ikan dan udang menghampiri dirimu...." 

Alunan lagu  yang dipopulerkan grup muski legendaris Indonesia era 70-an ini mendayu-dayu di telinga. Kendaraan yang kutumpangi perlahan meluncur meninggalkan dermaga Tuapejat.

Sepanjang perjalanan, mataku tidak hentinya menatap perubahan demi perubahandi sepanjang ruas jalan, termasuk jalan beton menuju Pantai Jati, kilometer nol yang berada di ibukota Kabupaten Kepulauan Mentawai.

Ya, Pantai Jati, selain menabur sejuta pesona dan keindahan semesta di sekitarnya,  kawasan ini  mengingatkan para pendatang akanaroma khas hasil kekayaan laut setempat. Kurang lengkap rasanya  jika kedatangan tamu atau wisatawan  ke Bumi Sikerei,  tidak dijamu dengan aneka hidangan kekayaan hasil laut, termasuk buah tangan langka, ikan asin khas Mentawaiyangmembuaiselera. Saking banyak pesanan dari rekan, sanak atau pun saudara, aku yang ketika itu singgah sebentar ke pulau, tidak melewatkan kesempatan.

Di sela-sela kesibukan aktifitas sebagai peliput media, aku menyempatkan diri mendatangi Pantai Jati Bukan  untuk bernostalgia atau pun memanjakan mata dengan keindahan alamnya yang menawan, namun semata memenuhi keinginan orang-orang di rumah yang ingin bersantap gurihnya ikan asin,  hasil industri rumah tangga wargasekitar.

Andrika salah satunya, warga  asli Mentawai ini sudah berkecimpung dalam berbagai usaha dan  pilihan terakhir lelaki berusia 31 tahun ini jatuh pada usaha jual-beli ikan impor sejenis kerapugurita dan kakak tua. Selain menekuni jual beli ikan,Andrika bersama istrinya sudah lama  pula merintis usaha sampingan, ikan asin khas Mentawai  yang diolahnyasecara tradisional. Kerja keras dan kesungguh-sungguhan suami istri ini pada akhirnya  berbuah manis. Ikan-ikan yang dibeli dari nelayan setempat sudah dikirimnya ke berbagai daerah di Pulau Jawa. 

Di usianya yang relatif muda, Andrika mampu berdikari, membangun usaha mandiri dengan produksi ikan per hari  rata-rata 200 kilogram. Belum lagi pendapatan  yang diperolehnya  dari usaha ikan asin. Pesanan terus mengalir dan layaknya buah tangan, ikan asin khas  Mentawai  ternyatabanyak diminati tamu atau  pengunjung. 

“Ikan asin yang dipesan umumnya di bawa ke luar Mentawai. Paling banyak dibawa ke Pulau Jawa sebagai oleh-oleh khas dari Mentawai,” ujarnya di sela-sela rutinitas, Rabu, (20/3/2019).

Di kediamannya yang tidak jauh dari Pantai Jati, Andrika mengolah sebagian ikan untuk dijadikan ikan asin dengan harga jual per kilogram berkisar antara Rp85 hingga R120 Ribu.  Sementara untuk ikan mentah kualitas impor, pengiriman  produk dilakukan per tiga hari, tergantung jadwalkeberangkatankapal. 

“Untuk jenis ikan gurita mentah, per kilogramnya dihargai senilai Rp63 ribu, ikan kerapu Rp45 ribu, dan ikan kakak tua Rp20 ribu per kilogram,”paparAndrika.

Lika-liku merintis usaha dari nol juga dialami Khusni, lelaki setengah baya yang  kini telah berusia70 tahun. Kepada RRI, bapak tujuh anak ini bercerita kehidupan terdahulunya sebagai petani buah dan ubi-ubian.

Pendatapan yang diperoleh dari penjualan hasil kebun tidak mencukupi kebutuhan harian, termasuk biaya sekolah anak yang kesemuanya masih dalam masa pendidikan.

Khusni berpikir keras, bagaimana mencukupi kebutuhan keluarga dan kelanjutan masa depan putra-putri tercinta. Pada akhirnya,  terbersit pemikiran untuk mengolah langsung hasil kebun menjadi produk jadi dengan nilai jual yang tentunya lebih menjanjikan.

“Saya memulainya dari nol, hasil kebun seperti singkong, keladi, pisang dan nangka saya olah menjadi produk jadi berupa keripik. Pada awalnya, produk yang saya olah hanya beberapa macam saja, yakni keripik singkong dan  keladi,” ungkap lelaki asal Salatiga, Jawa Tengah ini.

Namun seiring berjalannya waktu, kebutuhan masyarakat terus meningkat. Bahan dasar pembuatan keripik tidak hanya bertumpu pada satu jenis bahan baku, belakangan buah-buahan seperti pisang dan nangka tidak luput dari  incaran  pelaku usaha kuliner.

Bertahap namun pasti, Khusni dibantu istri tercinta dengan kegigihannya berjuang memasarkan aneka keripik yang diproduksinya secara tradisional  dalam skala rumah tangga. Awal mula, pemasaran produk dimulai dari lingkungan pemda setempat, tamu-tamu yang melakukan perjalanan dinas  hingga  wisatawan yang berkunjung ke daearah.

Dengan mematok harga yang relatif terjangkau, aneka keripik yang diproduksi  laku terjual. Konsumen yang berminat langsung mendatangi rumah produksi yang berlokasi di Desa Sido Makmur, Sipora Utara. 

‘’Dalam satu hari,  kami sekularga sanggup memproduksi aneka keripik hingga 30 kilogram,” ujar Khusni.

Siapa mengira, kerja keras dan ketulusan hati Khusni bersama istri  pada akhirnya  mengantar 7 buah hati menuju jenjang sukses dengan latar belakang pendidikan S1 dan S2. Ditemui di kediamannya, Khusni tampak asik bergelut dengan aktifitasnya selaku petani yang juga pengusaha makanan ringan. Kesulitan bukan tidak pernah menghinggapi kehidupan  masa lalunya sebagai warga transmigrasi. 

Setiap kali ia menjual hasil kebun, ketakutan selalu membayang dalam pancaran matanya. Terbayang seketika  wajah anak-anak yang menanti kepulangan sang bapak  dengan perasaan harap-harap cemas.

Meski telah berkeliling desa, buah dan ubi-ubian yang ditawarkan kepada penduduk tidak kunjung terjual. Tidak jarang hasil kebun yang dipanen rusak  dan membusuk  sia-sia tanpa bisa diuangkan.

Bertolak dari kenyataan hidup yang pahit dan getir itu, Khusni mulai berpikir cara mendapatkan uang tanpa  risiko dan kemubaziran lainnya. Dengan dasar kemandiriannya, ia memulai episode kehidupannya yang  baru selaku petani dan pelaku usaha kecil. Berbekal pinjaman modal dari  pihak perbankan yakni Bank Nagari, Khusni optimis usahanya bakal berkembang dan maju.

Kondisi serupa  tentunya juga  dialami Andrika dan pedagang eceran  yang sehari-harinya beraktifitas  di kawasan  Dermaga Tuapejat. Selaku pengusaha yang bergerak di bidang perikanan, hasil produksinya sangat bergantung pada cuaca, kapal pengangkut barang,   tanpa terkecuali sinar matahari sebagai sumber energi alternatif  untuk mengeringkan ikan asin olahannya.

Menyadari kendala tersebut, perlu ruang kerjasama yang  intensif  untuk pengembangan sayap  berbisnis, salah satunya pinjaman lunak yang digulirkan perbankan untuk memperkuat sektor Usaha Mikro Kecil Menengah – UMKM.

Dalam perbincangannya dengan RRI,  Selasa, (19/3/2019), Kepala Bank Nagari Cabang Mentawai, Afrizon menekankan,  pentingnya ruang kerjasama  perbankan untuk mendukung pergerakan sektor UMKM di daerah, apalagi  pedalaman Mentawai yang masuk kategori 3T.

Menurutnya, pembiayaan  usaha masih bergilur pada sektor UMKM, belum lagi mengarah pada usaha korporasi  skala besar. Dengan begitu, peluang UMKM mendapatkan   pinjaman  lunak dari Bank Nagari  terbilang cukup besar dengan nilai pembiayaan bervariasi.

Pada kesempatan terpisah, Direktur Utama Bank Nagari, Dedy Ihsan menyatakan, Komitmen Bank Nagari membangun nagari adalah realita yang bukan tanpa bukti. Alokasi penyaluran Kredit Usaha Rakyat – KUR menyapu bersih kabupaten dan kota di wilayah Sumatera Barat, tanpa terkecuali pedalaman Mentawai yang masuk daerah 3T.

Penyaluran KUR berorientasi pada pengembangan usaha berbasis kerakyatan,  mencakup diantaranya sektor perikanan, pertanian, perdagangan dan lainnya. Tahun 2018, penyaluran KUR  Bank Nagari  telah  mencapai  Rp1,1 Triliun dengan target penyaluran kredit sampai bulan  Desember 2018. Dedy Ihsan berharap,  akses permodalan usaha dari  pihak perbankan  dapat dimanfaatkan pelaku usaha  sebaik mungkin.  Dari  perbankan sendiri juga berharap, pengalokasian dana KUR mencapai sasaran yang dituju, yakni pelaku usaha yang luput dari jangkauan akses permodalan. Sejatinya,  pinjaman ringan yang digulirkan kepada pelaku UMKM di daerah,  betul-betul dapat menjadi sandaran hidup bagi masyarakat ekonomi lemah untuk menggapai mimpi,  mengantar putra-putri tercinta ke gerbang masa depan yang gemilang.

Khusus  dunia pendidikan,  Bank Nagari  pun agaknya  tidak mau ketinggalan. Kiprahnya di dunia pendidikan dibuktikan melalui  dana Coporate Social Responsibility – CSR senilai  Rp110 Juta yang disalurkan melalui Bank Nagari Cabang Pembantu Mentawai bulan Oktober 2018.  Kepedulian Bank Nagari terhadap masa depan pendidikan anak-anak di daerah,   ibarat jembatan untuk lebih leluasa berkiprah,  mengibarkan sayap emas.

Pendidikan sebagaimana ditegaskan Bupati Kepulauan Mentawai, Yudas Sabaggalet   dapat membuka cakrawala berpikir masyarakat menjadi lebih maju. Pendidikan berkontribusi terhadap sektor kehidupan lainnya. Tanpa ilmu,  mustahil masyarakat bisa berpikir maju, mengecap kehidupan yang layak, sejahtera, makmur dan sentosa. 

Di usianya yang ke-57 tahun, banyak hal yang sudah Bank Nagari perbuat untukmu negeri. Kiprahmu nyata, bukan sekedar untaian kata. Hadirmu bermakna, bermanfaat bagi kita semua.  

tunggu 60 detik untuk memberikan komentar lagi. komentar anda akan dimoderasi sebelum diterbitkan
Cancel Preview
Cancel Preview
00:00:00 / 00:00:00