• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

Lingkungan Hidup

60 Persen Pemilik IUP Kalitim, Menunggak Jamrek

14 March
19:18 2019
0 Votes (0)

KBRN, Samarinda : Bekas galian tambang di Kaltim diperkirakan mencapai 600 lebih lubangbelum ditutup atau direklamasi.

Wakil Gubernur Kaltim, Hadi Mulyadi di Samarinda mengatakan,  setidaknya 60 persen dari total seribu lebih izin usaha pertambangan (IUP) di Kaltim menunggak pembayaran jaminan reklamasi (jamrek). “Tapi, mereka sudah bisa melakukan produksi tambang, padahal jelas, izin produksi tambang bisa dikeluarkan setelah mereka membayar jamrek terlebih dahulu,” ungkap Wagub Hadi Mulyadi di Kantornya di Jalan Gajah Mada Kamis,(14/03/2019) Sore.

Hadi Mulyadi tidak mau pihaknya disalahkan. Menurut dia, penyebab banyaknya bekas galian tambang yang dibiarkan itu adalah tidak adanya keseriusan dari perusahaan atau pemilik IUP untuk melakukan reklamasi. “Perusahaan malas mengamankan nyawa anak orang,” kilahnya

Yang lebih menyakitkan, pembiaran itu mengakibatkan nyawa puluhan anak melayang. Jatam mencatat, hingga saat ini sudah 32 korban tewas di bekas galian tambang. Mayoritas korban masih berusia 6–15 tahun. “Untuk itu saya Janjikan tidak ada lagi Korban Tambang yang ke 33,” kata Hadi. Mayoritas korban tewas tenggelam di bekas galian yang kini berubah layaknya telaga.

Bekas galian yang sudah merenggut puluhan nyawa itu berada di empat kabupaten/kota di Kaltim. Yakni, Kutai Kartanegara, Kutai Barat, Penajam Paser Utara, dan Samarinda. Dari empat tempat tersebut, yang menelan korban paling banyak adalah bekas galian tambang di Samarinda. Jatam mencatat, ada 19 korban jiwa di ibu kota Kaltim tersebut.

Meski begitu, Hadi mengatakan bahwa pihaknya akan mengoreksi kondisi yang ada. Sebab, korban yang meninggal sudah puluhan.

Dia menegaskan, Pemprov Kaltim saat ini berkonsentrasi untuk meminta keterangan Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral Katim terkait kabar banyaknya perusahaan tambang yang menunggak pembayaran jamrek. Pimpinan institusi tersebut akan dipanggil untuk menjelaskan semua itu.

Sebab, selama ini perusahaan berdalih bahwa warga meminta bekas galian tidak ditutup lantaran memerlukannya. “Ini akan kami selidiki. Kami juga akan minta pertanggungjawaban perusahaan tambang,” tutupnya.

tunggu 60 detik untuk memberikan komentar lagi. komentar anda akan dimoderasi sebelum diterbitkan
Cancel Preview
Cancel Preview
00:00:00 / 00:00:00