• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

Kesehatan

BKKBN Riau Beri Pelayanan Hingga Pulau Terluar

14 March
17:39 2019
0 Votes (0)

KBRN, Pekanbaru : Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana (BKKBN) Perwakilan Provinsi Riau terus memberikan pelayanan Keluarga Berencana (KB) hingga kawasan terpencil. Seperti di Desa Kuala Sungai batang, Kecamatan Sungai Batang, Kabupaten Indragiri Hilir, Provinsi Riau, sebuah daerah terluar yang berbatasan laut dengan provinsi lain maupun dengan negara luar seperti Malaysia

Hal itu dikatakan oleh Kepala Perwakilan BKKBN Provinsi Riau, Agus P Prokalamsi dalam rangka kegiatan yang dilaksanakan oleh BKKBN selama dua hari di Pekanbaru, Kamis (14/3/2019).

Dia mengatakan pembinaan, pendampingan dan pelayanan KB bukan hanya untuk warga perkotaan, tetapi warga terpencil dan di pulau-pulau terluar, termasuk di sejumlah wilayah di Riau yang merupakan daerah yang berbatasan dengan negara luar.

Menurutnya, penduduk di dearah terluar, terpencil dan terdepan dengan negara luar itu, banyak memiliki pasangan usia muda sehingga perlu diberikan pemahaman tentang program Kependudukan, KB dan Pembangunan Keluarga (KKBPK), bahkan sampai pelayanan KB gratis.

"Saya sudah langsung mengikuti pelaksanaan pemasangan kontrasepsi bagi akseptor baru di daerah itu, apalagi sasaran program KB di pulau terluar menjadi prioritas karena salah satunya untuk menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Mereka harus mendapatkan perhatian dan pembinaan berbagai program pemerintah, sehingga diharapkan Sumberdaya Manusia warga pinggiran bisa berkualitas yang pada akhirnya bisa sejahtera," ucapnya.

Bentuk perhatian BKKBN Riau terhadap warga di kepulauan terluar adalah dengan memberikan pelayanan, pembinaan melalui program Bina Balita, Bina Remaja dan Bina Lansia, termasuk menjaga kesehatan reproduksi, Usaha Peningkatan Pendapatan Keluarga Sejahtera (UPPKS), membentuk Pusat Informasi Konseling (PIK) di sekolah dan di masyarakat.

Sebelumnya, Sekretarias Utama BKKBN RI, Nofrial mengatakan pemerintah perlu memperhatikan secara betul bonus demografi yang dialami Indonesia pada saat ini. Pasalnya, bonus demografi malah bakal bisa jadi bumerang bagi Indonesia, jika tidak dipersiapkan secara maksimal.

Ia menjelaskan, bonus demografi merupakan kondisi saat usia produktif yakni berumur 15-64 tahun di satu negara memiliki jumlah yang lebih besar dibandingkan usia tidak produktif, yakni 14 tahun ke bawah dan 65 tahun ke atas. Indonesia mengalami bonus demografi pada 2012 hingga 2045 dan diprediksi, puncaknya akan terjadi mulai tahun 2028.

"Ini bisa jadi pedang bermata dua. Satu sisi bisa menjadi anugerah apabila kita ciptakan tenaga kerja berkualitas. Tapi jika tidak, akan menjadi bencana kependudukan, pengangguran, kriminalitas dan kemiskinan," katanya. 

tunggu 60 detik untuk memberikan komentar lagi. komentar anda akan dimoderasi sebelum diterbitkan
Cancel Preview
Cancel Preview
00:00:00 / 00:00:00