• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

Kesehatan

KLB DBD, Tim Asistensi Kemenkes Kunjungi Biak

14 March
16:00 2019
0 Votes (0)

KBRN,Biak : Pasca ditetapkan status Kejadian Luar Biasa (KLB)  DBD di Kabupaten Biak Numfosejak 26 Februari 2018 setelah tercatat sebanyak 55 kasusa DBD,2 meninggal dunia, tim asistensi  Kementerian Kesehatan RI melakukan kunjungan selama tiga hari (13-15 Maret 2019) di Kabupaten Biak Numfor.

Tim Asistensi Kemenkes tersebut terdiri dari surveilans lingkungan,survelans vektor dan survelans kasus.

Kasubdit Arbovitasis Direktorat Pencegahan dan Pengendalaian Penyakit Tular Vektor dan Zoonotik (P2PTV2) Ditjen P2P Kemenkes RI,dr.Guntur Argana mengatakan peningkatan kasus DBD sering terjadi di Indonesia akibat tingginya curah hujan, namun kondisi di Biak Numfor ditemui sebagian besar  penduduk membuat penampungan air yang berpotensi sebagai tempat bersarangnya nyamuk khusunya nyamuk aedes aedgypti.

Menurut dr Guntur Argana, pencegahan penyakit DBD yang efektif dengan melakukan Pemberantasan Sarang  Nyamuk (PSN) yang melibatkan semua pihak dan secara massif.

“Kami dari Kemenkes  memiliki kewajiban untuk turun mengasistensi di Kabupaten Biak Numfor yang telah berstatus KLB DBD ini  untuk mendapatkan solusi,dan ini bukan sebagai suatu aib atau kegagalan namun  menjadi awal untuk bergerak bersama memberantas sarang nyamuk,” ujar dr Guntur Argana pada Program Dialog Interaktif di Programa I RRI  Biak, Kamis (14/3/2019), didampingi Fungsional Entomologi Kemenkes, Epidmiolog Kemenkes dan Kabid P2P Dinas Kesehatan Biak Numfor, Ruslan.

“Sebanyak empat kampung di distrik Biak Kota dan Samofa telah kita kunjung,melihat secara langsung bagaimana kondisi di daerah tersebut dan sebagian besar warga memiliki tempat penampungan air yang justru sangat berpotensi menjadi tempat jentik nyamuk berkembang biak sehingga sebagai  upaya yang perlu diakukan secara bersamaan dengan PSN dan 3M plus yaitu  menutup, menguras dan mendaur ulang barang-barang yang tidak digunakan dan berpotensi mendukung siklus hidup nyamuk,” ungkap Ruslan. 

“Kunci utama dengan PNS yaitu  gerakan masyarakat untuk memberantas sarang nyamuk dengan 3M Plus secara serentak, tidak ditunda-tunda, bermutu dan berkesinambungan dengan melibatkan semua pihak dari Dinas Kesehatan Provinsi,Kabupatan dan semua stakeholder tanpa melihat latar belakang jabatan dan status namun semua harus bergerak,” tegasnya.

Sementara Dr drh.Sugiarto selaku fungsional Entomologi Kesehatan Kemenkes RI menyebutkan, Angka Bebas Jentik (ABJ) di Biak Numfor sangat rendah dari  standart baku yang ditetapkan secara nasional, selain itu adanya perubahan pola adaptasi nyamuk.

“Data aktual yang kita dapati bahwa data ABJ di Biak Numfor sangat rendah berkisar 22%  dari standar baku yang ditetapkan Kemenkes yaitu 95%  sehingga angka house indeks atau angka  yang positif jentik cukup tinggi mencapai 77-78% jadi inilah menyebabkan fator resiko semakin tingginya penularan penyakit DBD di lingkungan masyarakat,” kata Sugiarto

“Kami telah melakukan surveleins dan mengidentifikasi di wilayah Samofa dan sekitarnya dapat kita simpulkan bahwa telah terjadi perubahan adaptasi dari nyamuk aedes adegypti diantaranya kebiasaan nyamuk tersebut tidak hanya berkembang biak  dalam rumah  kini telah  berada di luar rumah atau  di tempat-tempat tidak terduga lainnya seperti tempat penampungan air di dispenser atau tempat penampungan air lainnya,” imbuhnya.

“Kami juga medapati di dua kampung Biak bahwa 80% aedes aegypti yang sebagai vector primer DBD ditemukan di luar rumah dan ada pula pola adaptasi yang sangat spesifik yaitu aedes aegypti mampu berkembang biak  pada media yang perbatasan dengan tangan,ini kita temukan di salah satu sekolah di Biak dengan wadah yang tanahnya telah keras dan mampu menampung air maka disitu terdapat aedes aegypti,” kata Dr.drh Sugianto. 

“Setelah kami menjumpai kondisi yang ada di Biak Numfor saya merekomendasikan salah satu teknik pengendalian yang paling tepat oleh masyarakat dan mudah dilaksanakan yaitu dengan pemberian ikan pemakan jentik pada bak-bak penampungan air baik yang di dalam rumah maupun yang di luar,” ungkapnya

Selanjutnya, warga masyarakat  dihimbau menjaga kebesihan lingkungan masing-masing dan diterapkannya satu rumah satu juru pemantau jentik.

Tim Asistensi Kemenkes RI  selanjutnya akan membuat rekomendasi yang akan diserahkan ke Dinas Kesehatan Kabupaten Biak Numfror dan Dinkes Provinsi Papua dan ditindaklanjuti hingga dicabutnya status  KLB DBD. 

tunggu 60 detik untuk memberikan komentar lagi. komentar anda akan dimoderasi sebelum diterbitkan
Cancel Preview
Cancel Preview
00:00:00 / 00:00:00