• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

Politik

Anggota MPR: Berat Sekali Pemilu Kali Ini

11 March
20:45 2019
0 Votes (0)

KBRN, Jakarta: Anggota Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) dari unsur Dewan Perwakilan Daerah (DPD) Ahmad Muqowam mengatakan, bahwa dalam Pemilu Presiden (Pilpres) dan Pemilu Legislatif (Pileg) Serentak 2019 ini, tidak ada lagi etika, moral dan demokrasi yang harus dijunjung tinggi.

“Semua pihak, baik politisi maupun masyarakat tidak lagi mempertimbangkan aspek etika, moral dan demokrasi. Karena itu, dalam waktu yang tinggal satu bulan lagi ini, hal itu harus menjadi kesadaran semua pihak agar supaya Pemilu pada 17 April nanti yang jurdil dan demokrasi bisa tercapai,” ujarnya dalam diskusi Empat Pilar MPR yang bertema ‘Etika Politik dalam Pemilu 2019’di Kompleks Parlemen, Senayan Jakarta, Senin (11/3/2019).

Politsi Partai Persatuan Pembanguan (PPP) itu, menekankan agar para pilitisi, partai politik dan masyarakat harus kembali sadar dan memahami tujuan berpolitik. “Tujuan berpolitik itua adalah untuk mewujudkan keadilan, kesejahteraan, kedaulatan, harkat, dan martabat bangsa,” papar dia.

Muqowam menjelaskan, dalam diri politisi itu sudah terjadi kekhawatiran jika mereka tidak memberi pemilih uang, maka mereka tidak akan dipilih. “Kekhawatiran itu timbul karena memang masyarakat pemilih sudah terang-terangan bersikap seperti itu,” katanya.

Dikatakannya, dalam bahsa Jawa ada istilah ‘Teko-muni-kasi. Artinya jika teko (datang), muni (kampanye), dan kasi (tidak memberi uang), maka calon anggota legislatif itu tidak akan dipilih. “Selama lima kali mengikuti, pemilu kali ini yang terasa sangat berat. Berat menghadapi masyarakat,” ujarnya.

Sebagai partai yang berbasis Islam yang menaungi dirinya, dia merasa dalam sebuah dilema besar, bahwa dalam Islam ditegaskan “Araasyi walmurtasyi finnaar.” “Pemberi (penyogok) dan penerima (yang disogok)” masuk neraka. “Berat sekali pemilu kali ini, “ imbuhnya.

Mengapa terjadi kusus politik uang itu, lanjut Muqowam, karena ketidakpahaman masyarakat dan elit terhadap Pancasila dan tujuan berpolitik. Sehingga dalam kontestasi politik saat ini menghalalkan segala cara dan penuh hoaks. “Hoaks, fitnah pun dihalalkan,” kata dia.

Sementara itu,  pakar psikologi politik Irfan Aulia, berpendapat bahwa ada tiga hal yang mendasari masyarakat memilih atau tidak. Pertama, faktor landasan partai yang sama-sama Pancasila, kedua faktor value atau nilai bobok masing-masing pasangan Capres dan ketiga faktor emosinal.

“Faktor pertama dan kedua, hampir tidak mendorong masyarakat pemilih untuk ikut berpaisipasi dalam pemilu serentak, karena sama saja. Kecuali itu, faktor ketiga, yaitu emosi. Emosi publik dalam pemilu ini berbeda, katrena ada hope (harapan di sana,” ujar Irvan.

Namun lanjut dia lagi, faktor emosi itu justru bisa menyatukan dan sebaliknya bisa pula memecah-belah bangsa. Untuk itu ribuan hoaks bermunculan. Sehingga tinggal bagaimana para elit mengelola emosi yang positif itu menjadi lebih besar dan dan menekan yang negatif itu sampai sekecil-kecilnya,” tandasnya.

Sehubungan denegan itu, Irvan mengimbau kalangan milenial khusnya dan masyarakat umum pada umumnya, itu biasa saja menghadapi pemilu ini. Gunakan pola pikir yang benar, sehingga dalam memberikan parytisipasi pun akan benar,” pungkasnya.

tunggu 60 detik untuk memberikan komentar lagi. komentar anda akan dimoderasi sebelum diterbitkan
Cancel Preview
Cancel Preview
00:00:00 / 00:00:00