• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

Lingkungan Hidup

BKSDA Resort Agam Ungkap Tiga Kasus Perdagangan Satwa Liar

5 March
21:49 2019
0 Votes (0)

KBRN, Agam : Untuk mengantisipasi perdagangan satwa liar dan dilindungi, Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Resort Agam, komit melakukan pengawasan, dengan mengingatkan masyarakat bahwa perbuatan yang mereka lakukan melanggar aturan hukum dan perundangan yang berlaku.

Pengendali Ekosistem Hutan BKSDA Resort Agam, Ade Putra mengatakan, upaya pencegahan itu diantaranya dengan mengoptimalkan sosialisasi terhadap masyarakat, kampanye pada komunitas pencinta satwa, dan mahasiswa, serta pada pedagang satwa untuk tidak memperjual belikan satwa liar dan dilindungi Undang-undang.

“Sosialisasi juga dilakukan melalui media sosial, media cetak, serta elektronik, dengan adanya pemberitaan yang sifatnya memberitahu, sehingga dapat mengingatkan bahwa perdagangan satwa liar dan dilindungi itu, merupakan perbuatan yang terlarang,” sebutnya, Selasa (5/3/2019). 

Menurut Ade Putra, dalam tiga tahun terakhir ini ada tiga kasus perdagangan satwa liar dan dilindungi yang diungkap BKSDA Resort Agam, melalui kerja sama dengan pihak kepolisian, diantaranya satwa jenis Kukang, Landak, serta bagian kepala dari Kambing Hutan yang diperjualbelikan.

“Untuk kasus perdagangan satwa liar jenis Kukang sebanyak dua pelaku telah dijatuhkan vonis dengan masa hukuman 2,5 tahun penjara, sementara satu pelaku perdagangan satwa Landak di vonis hukuman 3 tahun penjara. Sedangkan satu pelaku perdagangan kepala Kambing Hutan, saat ini masih mengikuti proses penyerahan perkara dari Kejaksaan pada Pengadilan Negeri Lubuk Basung,” terangnya.

Ade Putra menambahkan, ketiga kasus perdagangan satwa liar dan dilindungi itu melanggar Undang-undang nomor 5 tahun 1990 tentang konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya, terutama pasal 21 ayat 2.

“Diharapkan kedepan tidak ada lagi masyarakat yang melanggar aturan perundangan itu, karena satwa liar dan dilindungi memiliki hak untuk tumbuh serta berkembang, di dalam habitat aslinya,” tukasnya.

tunggu 60 detik untuk memberikan komentar lagi. komentar anda akan dimoderasi sebelum diterbitkan
Cancel Preview
Cancel Preview
00:00:00 / 00:00:00