• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

Budaya dan Wisata

Melasti Desa Pakraman Buleleng Dimajukan, Ini Alasannya

3 March
15:28 2019
1 Votes (5)

KBRN, Singaraja : Bersamaan dengan Panca Wali Krama di Pura Besakih, Desa Pakraman Buleleng memutuskan untuk memajukan upacara Melasti serangkaian Hari Raya Nyepi Tahun Baru Caka 1941. Hal ini berbeda dari biasanya, dimana melasti dilaksanakan pada Purnama Kedasa atau 15 hari setelah Tilem Kesanga (sehari sebelum Nyepi).

Upacara Melasti yang dilaksanakan Desa Pakraman Buleleng, Minggu (3/3/2019) diikuti 14 banjar adat di Desa Pakraman Buleleng diawali dari Pura Desa Pakraman Buleleng di Jalan Mayor Metra Singaraja.

Sebanyak 84 sarad dan 16 kotak ampilan dari sejumlah pura dadia dan panti dengan simbolis pralingga dan pratima diusung oleh warga krama masing-masing. Sekitar Pukul 13.00 WITA, ribuan krama sudah mendatangi Pura Desa Pakraman Buleleng untuk bersama-sama menuju Pura Segara Buleleng dengan menyusuri Jalan Mayor Metra, Gajah Mada, Hasanuddin dan makekobok (menyusuri bibir pantai) dan berakhir di Pura Segara Desa Pakraman Buleleng. Proses selanjutnya dilakukan di Pura Segara Buleleng dipimpin Pemangku Pura Kahyangan Tiga.

Kelian desa Pakraman Buleleng, Nyoman Sutrisna menjelaskan untuk kali ini pelaksanaan melasti berbeda dari biasanya yang dilaksanakan pada Purnama Kedasa. Hal ini tidak terlepas dari pelaksanaan Panca Walikrama di Pura Besakih.

Dalam awig-awig Desa Pakraman Adat Buleleng pasal 80 ayat 1 beserta penjelasannya menyatakan bahwa jika melasti bersamaan dengan rangkaian pelaksanaan Panca Walikrama di Pura Besakih maka pelaksanaan melasti yang biasanya diselenggarakan pada Purnama Kedasa dimajukan pada sasih kesanga.

Mengacu pada Lontar Sundarigama dan Lontar Aji Swamandala bahwa melasti merupakan pembersihan alam melalui prosesi Anganyutaking malaning bumi, ngamet tirta amerta atau menghanyutkan kekotoran alam menggunakan air kehidupan, tujuan melasti menurut Sutrisna adalah Ngiring Prawatek Dewata atau mengingatkan umat untuk meningkatkan bakti kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa, anganyut aken laraning jagat atau membangun kepedulian untuk mengentaskan penderitaan masyarakat, anganyut aken papa klesa atau menguatkan diri dengan membersihkan diri dari kekotoran rohani serta anganyut aken letuhan bhuwana atau bersama-sama menjaga kelestarian alam.

“Tujuan daripada kita melakukan melasti sekarang adalah untuk membersihkan Bhuwana Alit maupun Bhuwana Agung yang ada di masing-masing desa pakramannya,” jelas Nyoman Sutrisna.

Selanjutnya dilaksanakan angemet tirta amerta yakni mengambil air suci dari tengah laut yang dilakukan oleh krama Tridatu Desa Pakraman Buleleng. Setelah nunas tirta ribuan umat kembali ke tempat masing-masing masih dengan berjalan kaki.

tunggu 60 detik untuk memberikan komentar lagi. komentar anda akan dimoderasi sebelum diterbitkan
Cancel Preview
Cancel Preview
00:00:00 / 00:00:00