• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

Luar Negeri

"Diplomasi Trump" Dalam KTT Korut - AS

22 February
22:17 2019
0 Votes (0)

KBRN, Jakarta : Korea Utara dan Amerika Serikat kembali akan mengulang sejarah, dengan menggelar konferensi tingkat tinggi (KTT) kedua pada 27 – 28 Februari mendatang.

KTT Korea Utara dan Amerika Serikat kali ini akan berlokasi di kota Hanoi, Vietnam. Kedua pemimpin negara baik Donald Trump maupun Kim Jong-un dijadwalkan akan hadir.

Sedangkan, pekan ini presiden Trump mengatakan, meski diakui masih banyak “PR” yang harus dilakukan setelah KTT pertama Juni 2018 di Singapura, namun hubungannya bersama pemimpin Korea Utara, Kim Jong-un dalam situasi yang baik.

“Banyak pekerjaan yang masih harus dilakukan, tapi hubungan saya dengan pemimpin Kim Jong-un adalah baik. Kami akan bertemu lagi pada 27 dan 28 Februari di Hanoi, Vietnam,” ujar Trump seperti dilansir Foxnews, yang dipantau RRI, Jumat (22/2/2019).

Secara khusus Trump juga menyebut jika ia tidak terpilih dalam pemilu presiden Amerika Serikat, kemungkinan saat ini negara yang dipimpinnya itu berperang hebat dengan Korea Utara.

“Jika saya tidak terpilih dalam pilpres Amerika Serikat, menurut pendapat saya kita sekarang dalam peran besar dengan Korea Utara,” ungkapnya.

Sementara, KTT Korea Utara dan Amerika Serikat pertama di Singapura pada 12 Juni 2018 lalu, turut menghasilkan perjanjian yang terdiri atas 4 poin.

Salah satunya mengenai mengafirmasi kembali “Deklarasi Panmunjom” 27 April 2018, di mana Korea Utara berkomitmen berupaya menuju denuklirisasi secara menyeluruh di Semanjung Korea.

Hal itupun yang akan menjadi fokus dalam KTT kedua di Hanoi, Vietnam.

Melansir channel resmi Centre for Strategic and International Studies (CSIS), Penasihat Senior dan Ketua Korea CSIS, Victor Cha, mengatakan, pihaknya menyayangkan 7 bulan setelah KTT pertama di Singapura, belum menunjukkan adanya perkembangan maupun implementasi dari berbagai kesepakatan yang telah disetujui.

“Menurut saya yang paling penting dari KTT kedua di Hanoi harus dapat mencapai hasil nyata. Apa yang saya maksud disini adalah KTT pertama di Singapura itu menghasilkan pernyataan bersama yang mengandung banyak hal didalamnya tapi tidak ada yang substansial,” terang Cha.

Cha menambahkan, bahkan menjelang KTT kedua di Hanoi, tidak menghasilkan suatu outcome dari KTT yang akan menjadi bahan negosiasi kedua pemimpin.

“Biasanya saat KTT Anda akan memiliki berbagai persiapan terlebih dahulu. Idealnya Anda akan mengharapkan, hasil dari KTT yang akan dinegosiasikan terlebih dahulu sebelum kedua pemimpin bertemu. Jadi, salah satu tantangannya adalah hal itu tidak akan terjadi,” imbuhnya lagi.

Disisi lain Victor Cha menilai, negosiasi yang dilakukan kedua negara maupun gigihnya Amerika Serikat untuk membuat Korea Utara melakukan denuklirisasi di Semenanjung Korea, justru dinilai sebagai “Diplomasi Trump”.

“Dimana jika ini berhasil tentunya rakyat akan memberikan pujian kepada sang presiden, jika sebaliknya maka ini akan sangat buruk bagi Trump. Sebab, ini adalah salah satu tempat di dunia dimana AS sedang melakukan diplomasi. Ketika di seluruh dunia terjadi perselisihan dagang, tetapi kita saat ini menjauh dari konflik. Jadi, itu akan menjadi tes yang nyata dan yang akan dibaca adalah apakah itu akan menjadi kesuksesan besar atau kegagalan massal dari “Diplomasi Trump"," papar Cha.

Cha menjelaskan, disaat yang bersamaan pendekatan yang dilakukan Tiongkok kepada Korea Utara sehingga berdampak pada penguatan kerjasama ekonomi, menjadi ancaman tersendiri bagi Amerika Serikat.

“Terutama, akan menjadi sulit untuk menekan Korea Utara melakukan apa yang menjadi keinginan Amerika Serikat,” tekannya.

Menjelang KTT kedua di Hanoi, kepala staf de-facto Korea Utara, Kim Chang-son, tampak meninjau sejumlah tempat yang direncanakan akan digunakan sebagai lokasi KTT.

Sedangkan, sang pemimpin, Kim Jong-un, dikabarkan akan menggunakan kereta untuk sampai di Vietnam. Perjalanan Kim Jong-un itupun diperkirakan akan menempuh waktu 2,5 hari.

Sementara, melansir BBC pasca diumumkannya Vietnam sebagai tuanrumah KTT Korea Utara – Amerika Serikat, langsung mendapatkan tanggapan dari juru bicara pemerintah Korea Selatan, Kim Eui-kyeom, yang menyatakan Korea Selatan berharap Vietnam akan menjadi tempat yang sangat baik bagi Korut dan AS mencatat sejarah baru.

tunggu 60 detik untuk memberikan komentar lagi. komentar anda akan dimoderasi sebelum diterbitkan
Cancel Preview
Cancel Preview
00:00:00 / 00:00:00