• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

Ekonomi

683 Desa di Riau Merupakan Wilayah Peredaran Narkoba

12 February
17:04 2019
0 Votes (0)

KBRN, Pekanbaru : Berdasarkan pendataan Potensi Desa (Podes) yang dilaksanakan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) bahwa sebanyak 36,43 persen dari 1.875 desa/kelurahan di Provinsi Riau atau sebanyak 683 desa/keluarhana merupakan peredaran Narkoba.

Hal itu dikatakan oleh Kepala BPS Provinsi Riau, Aden Gultom kepada Radio Republik Indonesia, Selasa (12/2/2019).

Menurutnya, keamanan lingkungan merupakan salah satu faktor utama kenyamanan suatu wilayah, lingkungan dapat menjadi tidak nyaman karena adanya tindak kejahatan.

"Berdasarkan pendataan potensi desa atau Podes yang dilaksanakan BPS pada tahun 2018, jenis tindak kejahatan yang didata dalam Podes 2018 adalah pencurian, pencurian dengan kekerasan, penipuan/penggelapan, penganiyaan, pembakaran, perkosaan/kejahatan terhadap kesusilaan, penyalahgunaan/peredaran Narkoba, perjudian, pembunuhan, perdagangan orang serta perkelahian massal selama setahun terakhir," rincinya.

Menurutnya, bahwa kejadian penyalahgunaan/peredaran narkoba dan perkelahian massal merupakan salah satu gangguan keamanan desa/kelurahan dengan kategori jenis gangguan keamanan.

"Hasilnya penyalahgunaan/peredaran Narkoba terjadi di 36,43 persen dari 1.875 desa/kelurahan yang ada di Riau dan daerah perkelahian massal sebanyak 2,72 persen.," urianya.

Kondisi itu sangat mengkhawatirkan karena jumlah desa/kelurahan yang menjadi peredaran Narkoba di Riau mencapai 683 desa/kelurahan.

Aden Gultom mengatakan, pendataan Podes dilaksanakan tiga kali dalam sepuluh tahun. Berdasarkan hasil Podes 2018 tercatat 1.875 wilayah administrasi pemerintahan setingkat desa di Provinsi Riau yang terdiri dari 1.607 desa dan 268 kelurahan. Podes jugamencatat 169 kecamatan dan 12 kabupaten/kota.

tunggu 60 detik untuk memberikan komentar lagi. komentar anda akan dimoderasi sebelum diterbitkan
Cancel Preview
Cancel Preview
00:00:00 / 00:00:00