• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

Internasional

Beda Iran sebelum dan sesudah revolusi tahun 1979

12 February
06:17 2019
0 Votes (0)

KBRN, : Pada tanggal 11 Februari 1979, revolusi aliran Islam - salah satu peristiwa penting Abad ke-20 - menjatuhkan penguasa Iran saat itu, Mohammad Reza Pahlavi. Dengan menengok ke belakang, 40 tahun lalu, perubahan apa yang dialami negara ini?

1. Lonjakan penduduk

Ketika Ayatollah Ruhollah Khomeini, seorang ulama Syiah yang hidup dalam pengasingan di Paris, tiba di ibu kota Teheran untuk memimpin revolusi pada tahun 1979, terdapat 36 juta orang hidup di Iran.

Penduduk negara itu telah berlipat dua lebih sejak saat itu - sekarang mencapai angka 81 juta orang.

Desakan Ayatollah Khomeini untuk dihasilkannya generasi Muslim Syiah baru mendukung pertumbuhan ini. Negara itu langsung mengalami lonjakan kelahiran bayi setelah revolusi.

Tetapi pada akhir tahun 1980-an, sementara pemerintah menghabiskan dana untuk membiayai perang dengan Irak (1980-1988), kebijakan berubah dan progarm keluarga berencana diterapkan untuk membantu menghentikan pertumbuhan penduduk.

Meskipun demikian, kekhawatiran akan pengaruh penduduk yang menua dan keamanan nasional, membuat pemerintah pada tahun 2010 kembali mendorong penduduk untuk memiliki lebih banyak anak.

Presiden Mahmoud Ahmadinejad mengecam kebijakan keluarga berencana dan pemerintah, dengan dukungan pemimpin tertinggi, melarang program keluarga berencana.

Pertumbuhan penduduk berpusat di kota-kota utama.

Di tahun 1980-an, hanya terdapat dua kota dengan lebih dari satu juta penduduk; sekarang ada tujuh kota.

Teheran, ibu kota negara, mengalami lonjakan penduduk dari sekitar lima juta di tahun 1970-an menjadi 7,5 juta di tahun 1980-an setelah perang Iran-Irak. Saat ini, lebih 12 juta orang tinggal di sana.

2. Ekonomi menyusut

Pertumbuhan penduduk Iran, bersama-sama dengan akibat perang dan sanksi dunia, membawa pengaruh besar bagi sumber daya negara.

Negara kering ini, sangat tergantung pada ekspor minyak. Iran mengalami penurunan kondisi kehidupan dalam 40 tahun terakhir.

Pangeran Saudi: Penarikan mundur pasukan AS dari Suriah akan 'perkuat Iran'
Senjata yang membuka pintu pecahnya perang nuklir di dunia
Perempuan Iran yang menolak memakai hijab
PDB-nya turun dari US$10.200 atau Rp143 juta di tahun 1976 menjadi US$6.900 atau Rp97 juta di tahun 2017.

Dalam periode yang sama, Turki adalah negara yang mengalami pertumbuhan penduduk yang sama, PDB-nya berlipat tiga kalinya.

Kembali ke Iran, sejumlah perubahan kekayaan negara terjadi bersamaan dengan penurunan produksi minyak.

Kerusakan pada prasarana industri minyak selama perang Iran-Irak sangat merusak ekonomi.

Sekarang, negara itu terutama mengekspor produk minyak dan turunannya, sementara mengimpor sebagian besar makanan.

Harga komoditi dikaitkan dengan upah mengalami penurunan.

Pada tahun 1978, upah minimum dapat membuat penduduk mampu membeli 74 kg daging merah. Upah minimum saat ini hanya dapat memberikan 10 kg.

Salah satu hal yang paling dikhawatirkan saat ini adalah pengangguran.

Masalah ini tumbuh secara tetap dalam beberapa tahun terakhir, terutama dialami generasi muda. Menurut perkiraan Bank Dunia, tingkat pengangguran generasi muda adalah 30% pada tahun 2018.

3. Pasokan air bermasalah

Iran adalah negara yang jauh lebih kering dibandingkan 40 tahun lalu dan sumber airnya menghadapi masalah.

Curah hujan rata-rata per tahun adalah 228 mm, seperlima rata-rata dunia. Tambahan lagi, negara ini menggunakan sekitar 90% air untuk pertanian, sementara rata-rata dunia adalah 69%.

Daerah Azerbaijan Barat mengalami penurunan curah hujan secara tetap. Di sana, salah satu danau garam terbesar dunia, Danau Urmia, menyusut.

Permintaan di wilayah perkotaan yang terus tumbuh menimbulkan berbagai tantangan, salah satunya adalah pasokan air Iran.

Di Isfahan, kota ketiga paling padat Iran, Sungai Zayandeh Roud sebelumnya mengalir ke kota, sekarang telah kering bahkan sebelum mencapai kota.

4. Perceraian meningkat

Tingkat pernikahan nasional meningkat secara berarti setelah tahun 1979, tetapi secara perlahan menurun pasca 2009.
Sementara itu, tingkat perceraian berlipat empat kalinya sejak 1978.

5. Lebih banyak perempuan berpendidikan tinggi

Sejak tahun 1970-an akses perempuan pada pendidikan universitas meningkat, tetapi keikutsertaan mereka dalam angkatan kerja tetap rendah.

Pada tahun 1978 hanya 2,9% perempuan mendaftar ke universitas, di tahun 2016 terdapat 65,5%.

Tetapi secara keseluruhan akses ke universitas bagi kedua jenis kelamin sangat meningkat dalam 40 tahun terakhir, pengangguran di antara perempuan saat ini dua kali dibandingkan pengangguran pria.

6. Lebih sedikit bioskop dan buku

Kemudahan ke bioskop juga berubah dalam 40 dekade terakhir.

Sebelum revolusi, diperkirakan terdapat 450 bioskop.

Tahun 2015, badan kebudayaan PBB, UNESCO menyatakan hanya terdapat 380 bioskop di negara itu.

Jika memperhitungkan pertumbuhan pendidikan, ini berarti Iran mengalami penurunan dari satu bioskop untuk 80.000 orang menjadi satu untuk setiap 208.000 orang.

Di tahun 1980-an, rata-rata buku yang dicetak per judul adalah 7.000. Dalam beberapa tahun terakhir menjadi 200 kopi.(BBC)

tunggu 60 detik untuk memberikan komentar lagi. komentar anda akan dimoderasi sebelum diterbitkan
Cancel Preview
Cancel Preview
00:00:00 / 00:00:00