• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

Nasional

2 Orang WNI Dimutilasi, Migrant Care: Lakukan Investigasi Mendalam

11 February
16:34 2019
0 Votes (0)

KBRN, Jakarta: Terkait kasus dua orang Warga Negara Indonesia (WNI) yang di mutilasi di Malaysia, Ketua Pusat Studi dan Kajian Migrasi Migrant Care, Anis Hidayah, menilai bahwa Indonesia harus melakukan investigasi mendalam, bukan hanya dilakukan oleh Malaysia saja.

"Saya kira investigasi penting untuk dilakukan. Tidak hanya di Malaysia tapi di Indonesia juga harus dilakukan," jelasnya kepada RRI, Senin (11/2/2019).

Ia mengatakan bahwa WNI sudah sering kali mengalami hal tersebut di negara lain, jadi menurutnya Indonesia harus belajar dari pengalaman agar tidak terjadi kembali.

Menurutnya saat ini, pemerintah Indonesia harus bekerja sama dengan Malaysia untuk melakukan investigasi secara mendalam. Anis menyampaikan bahwa korban tersebut mempunyai bisnis di Malaysia yang berdirinya sudah cukup lama.

Berdasarkan data yang diterima oleh Migrant Care, korban tersebut memang sedang berada di Malaysia, bukan menetap. Mobilitas korban cukup intensif dari Bandung ke Malaysia.

"Perlu dilihat bagaimana kejadian yang sesungguhnya, motifnya apa, dan tentu penegakan hukum saya kira ini tentu menjadi prioritas pertama," serunya.

"Harus dilihat perjalanan track record korban yang selama ini sudah melakukan mobilitas yang banyak ke Malaysia, siapa relasinya dan lain sebagainya. Saya kira itu bisa digunakan sebagai informasi awal untuk mengetahui potensi penyebab kematian dua orang tersebut," tandasnya.

Sebelumnya, Pria bernama Nuryanto, seorang pengusaha tekstil di Kabupaten Bandung, Jawa Barat, diduga menjadi korban mutilasi di Malaysia.

Dua orang korban ditemukan di sebuah sungai di Selangor pada 24 Januari 2019 lalu. Korban seorang wanita dan pria ditemukan tanpa kaki dan kepala. Kepolisian Malaysia memperkirakan korban dibunuh di tempat lain, lalu mayatnya dibuang di sungai.

tunggu 60 detik untuk memberikan komentar lagi. komentar anda akan dimoderasi sebelum diterbitkan
Cancel Preview
Cancel Preview
00:00:00 / 00:00:00