• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

Hiburan

Joko Anwar: Saya Buat Film Bukan Untuk Piala Oscar

11 February
13:25 2019
0 Votes (0)

KBRN, Jakarta: Joko Anwar merupakan salah satu sutradara, penulis naskah dan produser film bertangan dingin. Terbukti film-filmnya sukses di pasar. Contoh, film Pengabdi Setan menjadi film Indonesia terlaris sementara di tahun 2017 dengan total 4.141. 090 penonton. Film tersebut juga menyabet banyak penghargaan baik dari dalam maupun luar negeri.

Tidak heran banyak yang mendorong agar Joko Anwar membuat film untuk diperlombakan diajang bergengsi Academy Awards atau Oscar. Menanggapi hal itu, Joko Anwar memiliki pandangan tersendiri dalam berkarya.

Joko mengatakan, dirinya berkarya bukan untuk mengejar Piala Oscar. Menurutnya membuat film adalah untuk bercerita bukan untuk memenangkan penghargaan.

“Saya rasa sebuah lazim membuat film untuk penghargaan. Membuat film adalah untuk bercerita. Film yang masuk ke Oscar, dari awal bercerita bukan untuk penghargaan. Saya buat film bukan untuk Piala Oscar,” kata Joko Anwar dalam perbincangan bersama Pro3 RRI, Minggu (10/2/2019) malam.

Joko Anwar termasuk  yang produktif dalam memproduksi film berkualitas. Tahun ini, ada dua film yang bakal tayang  yakni Film Gundala dan Film Perempuan Tanah Jahanam. Khusus untuk film Perempuan Tanah Jahanam, akan mulai proses syuting pada Maret 2019.

“Pertengahan  tahun ada film Gundala. Saya juga sedang mempersiapkan syuting film yang ke delapan dengan judul Perempuan Tanah Jahanam. Syuting bulan depan. Rilis akhir tahun,” ujarnya.

Perkembangan film Indonesia, semakin menjanjikan. Secara kualitas, film Indonesia juga layak bersaing diajak bergengsi internasional. Selain itu, secara kuantitas, dalam setahun, terdapat 147 judul film yang diproduksi. Sayang, perkembangan itu tidak diimbangi dengan sumber daya manusia. Pekerja film di Indonesia masih sedikit.

“Sumber daya bidang perfilman kurang dibandingkan dengan kebutuhan. Satu tahun, merilis 147 film tetapi kru yang tersedia terbatas apalagi yang memiliki skill yang baik,” bebernya.

 Persoalan lain adalah, penyebaran layar bioskop yang tidak merata. Bioskop-bioskop lebih dominan di kota-kota besar, kota-kota di Pulau Jawa. Dia mencontohkan, jumlah penduduk Indonesia 250 juta jiwa sementara layar yang ada 1.700 di seluruh Indonesia. Bandingkan dengan Korea Selatan. Penduduknya 50 juta jiwa dengan sebaran layar 2 ribuan lebih.

“Sebaran layar bioskop sedikit. Kabarnya tahun ini ada penambahan 200 layar. Beberapa perusahaan dalam dan luar negeri menunjukan komitmen untuk membuka (bioskop). Semoga mudah tersebar ke tempat yang tidak ada bioskop,” ujarnya.

Pemerintah dinilai memiliki perhatian serius untuk mempermudah industri perfilman di Indonesia untuk semakin berkembang diantaranya adalah penghapusan film masuk kategori daftar negatif investasi.

“Dalam beberapa waktu tahun ini, perhatian meningkat. Ditambah ada Bekraf mendukung usaha perfilman diantaranya mendukung usaha perbaikan . Salah satunya mendukung penghapusan film masuk ke dalam daftar negatif di Indonesia sehingga pihak asing bisa menjadi investor. Sekarang banyak untuk berinvestasi sehingga banyak dukungan semakin dirasakan,” terangnya. 

tunggu 60 detik untuk memberikan komentar lagi. komentar anda akan dimoderasi sebelum diterbitkan
Cancel Preview
Cancel Preview
00:00:00 / 00:00:00