• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

Budaya dan Wisata

12 Asosiasi Di Batam Lakukan Pawai Keprihatinan Matinya Industri Pariwisata Di Batam

11 February
11:40 2019
0 Votes (0)

KBRN, Batam : Perwakilan dari 12 asosiasi dan perhimpunan pariwisata di Batam pagi ini melakukan aksi pawai keprihatinan terhadap lesunya geliat pariwisata di Batam pasca kenaikan harga tiket pesawat dan bagasi berbayar sejumlah maskapai di Indonesia. 

Mereka memulai pawai pada pukul 9.00 WIB dengan garis start Gedung DPRD  Batam lalu mengintari kompleks pemerintahan, menggunakan kostum karnaval, adat, outfit traveler, spanduk, streaform bertuliskan kata sarkas yang menyindir situasi pariwisata hari ini dan diiringi dengan musik tradisional. Setelah berkeliling rombongan pawai keprihatinan ini, mereka memilih gedung DPRD sebagai garis akhir untuk mengadukan keluhan mereka. 

Orator dari ASPPI, Irwandi Azhwar melalui pengeras suara , bentuk keprihatinan terhadap industri pariwisata dengan tingginya tiket pesawat dan bagasi berbayar, membunuh pariwisata dan usaha kecil menengah.

Pelaku pariwisata menginginkan pelancong datang ke Batam apalagi pemerintah pusat sudah menetapkan angka kunjungan wisatawan 2,4 juta orang ke Batam.

Irwandi berharap, aksi pawai pariwisata ini bisa menjadi trigger untuk industri pariwisata lainnya di Indonesia. 

"Kementerian pariwisata dan Kementerian Perhubungan, dengarkan jeritan kami. Ada seorang emak yang merindukan anaknya, mereka tidak bisa pulang karena tingginya harga tiket pesawat. Kita semua berharap, ayo sampaikan pesan ini kepada seluruh Indonesia. Kami tidak berdemo, kami hanya menyampaikan keprihatinan, karena industri pariwisata tidak bisa demo," jelas Irwandi. 

Sementara itu, perwakilan asosiasi lainnya, Sumiati meminta kepada pemerintah untuk mengintervensi kebijakan maskapai terhadap kondisi hari ini, dan kebijakan itu mampu mendukung industri pariwisata di Kepri. 

"Industri di Kepri, adalah harga mati, kenaikan tiket pesawat dan bagasi berbayar itu membuat industri pariwisata mati," teriak Sumiati. 

Hal senada juga disampaikan oleh Nongsa Resort Batam, Viki, mengatakan, Batam sebelumnya telah banyak diguncang dibidang perekonomian, industri-industri banyak yang tutup, diharapkan pariwisata di Batam tidak ikut-ikutan hancur hanya karena kenaikan tiket pesawat dan bagasi berbayar. 

"Kita ingin sama-sama untuk membangkitkan industri pariwisata di Batam, karena ini juga program pemerintah untuk kita semua," ungkap Viki. 

Peserta pawai keprihatinan tidak henti-hentinya meneriakkan Batam untuk Indonesia, Batam milik kita. Mereka membacakan puisi dan menuliskan petisi dengan mengumpulkan dan membubuhkan ratusan tandatangan.

Dampak dari kenaikan harga tiket pesawat dan bagasi berbayar, bukan hanya berimbas pada angka kunjungan wisatawan, namun juga sektor UKM yang turun omset, hunian hotel dan resort yang turun signifikan, porter bandara minim pemasukan, travel agen sepi order, bandara lengang, dan taksi pangkalan yang tak lagi beroperasi. 

Ke-12 asosiasi yang melakukan pawai keprihatinan adalah, Association Of The Indonesia Tours And Travel (ASITA), Asosiasi Pelaku Pariwisata Indonesia Kepri (ASPPI), Asosiasi Karval Indonesia Kepri (AKARI), Asosiasi Pengusaha Rental Daerah Batam (ASPERDA), Kelompok Sadar Wisata Batam ( Pokdarwis), Insan Pariwisata Indonesia Kepri (IPI), Asosiasi Pariwisata Bahari Indonesia Kepri (ASPABRI), Indonesia Chef Association (ICA), Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia Batam (PHRI), Hotel Human Resources Manaher Association Batam (HHRMA), dan Indonesia Houskeepers Association Kepri (INKA).

  • Tentang Penulis

    Sarah M Hussein

    Jurnalis Radio Republik Indonesia (RRI) | Contact Me : 08 222 888 2708

  • Tentang Editor

    Heri Firmansyah

    Redaktur RRI-Online

tunggu 60 detik untuk memberikan komentar lagi. komentar anda akan dimoderasi sebelum diterbitkan
Cancel Preview
Cancel Preview
00:00:00 / 00:00:00