• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

Hiburan

Tak Salah Kaprah dan Hilang Ditelan Waktu, RRI Net Sungailiat Angkat Tradisi Sepintu Sedulang

10 February
07:05 2019
0 Votes (0)

KBRN, Sungailiat : Sepintu Sedulang menjadi tradisi daerah warga Kepulauan Bangka Belitung yang harus tetap dilestarikan, karena banyak makna yang tersirat terutama sikap gotong royong dan kebersamaan.

Ketika Live RRI Net dan siaran pro 4 RRI Sungailiat, Sastrawan Bangka Belitung Asyraf Suryadin menjelaskan makna yang terkandung dalam tradisi budaya Sepintu Sedulang, diawali dari filosofi tudung saji penutup dulang yang memiliki corak minimal 3 (tiga) warna, yakni dominan berwarna merah yang artinya bahwa orang di Bangka memiliki semangat, kuning bermakna keceriaan atau kebahagiaan, dan hijau melambangkan ketenangan.

"Tapi sekarang sudah banyak yang dimodif, seperti safari Jumat di Desa Kapuk, dulangnya dibungkus dengan daun pisang, sehingga warna warni dulangnya nggak kelihatan lagi, kami bingung," kata Asyraf, Sabtu malam (9/2/2019).

Nganggung itu sendiri, menurut Asyraf, memiliki makna menghormati, dimana nganggung Sepintu Sedulang lebih identik dengan acara keagamaan Islam, contohnya Maulid Nabi.

Hanya saja berbeda dengan dahulu, sajian dulang berisikan makanan apapun yang hanya tersedia di rumah, baik bahan pokok makanan, nasi, kue dan sebagainya, kalau sekarang warga lebih banyak membeli makanan untuk mengisi dulang.

Sajian yang sudah disiapkan di atas dulang, untuk di bawa ke masjid, dan dimakan bersama, serta saling bertukar makanan.

"Jadi kita merasa bangga jika makanan yang kita bawa itu habis dimakan, perbedaan sajian makanan itu sebetulnya ingin menunjukkan keberagaman, sehingga saling menukar, mencoba suatu kesatuan dan gotong royong," terang Asyraf.

Budayawan Ikhsan Mokoginta juga menjelaskan jika Sepintu Sedulang memiliki arti satu rumah, satu dulang, dimana setiap rumah membawa satu dulang dalam acara keagamaan tertentu di masjid.

Budaya ini masih ada terutama di desa, namun, untuk dulang tersebut, yang sudah sulit dijumpai, karena dulang yang asli dari orang dahulu sebetulnya, dulang yang berwarna keemasan yang terbuat dari kuningan.

"Sekarang nggak ada lagi, sudah sangat langkah itu, dan dulang itu biasanya menjadi warisan turun temurun," kata Ikhsan.

Selain itu, sekarang apalagi di kota, acara nganggung di masjid kebanyakan sudah menggunakan nasi kotak, sehingga kalau tradisi nganggung Sepintu Sedulang tidak dilestarikan, akan hilang di masyarakat.

"Kalok pake kotak, bukan lagi nganggung Sepintu Sedulang, tapi nganggung Sepintu Sekotak, orang mau lebih praktis," jelas Ikhsan.

Semua tradisi nganggung memiliki makna, termasuk cara membawa ke masjid, Dulang dari Sepintu Sedulang ini pun, dengan cara dianggung (;diangkat) dengan kedua tangan di atas bahu tanpa menempel bahu oleh si suami atau kaum pria, sedangkan si istri atau perempuan yang memasak menyiapkan sajian makanan sehingga adanya kerjasama kekompakan di dalam keluarga, dan dibawa ke masjid, memiliki ritual agama disana dengan intinya sebagai ungkapan syukur atas rezeki yang telah didapat dari Sang Pencipta.

Produser Obrolan Budaya RRI Net Ivan mengaku diangkatnya tema Nganggung ini karena adalah bentuk kearifan lokal unik di Indonesia dan hanya ada di Bangka Belitung.Tradisi yang melambangkan sifat kegotong royongan dan kebersamaan yang luar biasa tanpa melihat latar belakang ataupun status sosial, serta tradisi ini masih tetap terjaga dan dijunjung dgn baik oleh seluruh masyarakat Bangka Belitung.

tunggu 60 detik untuk memberikan komentar lagi. komentar anda akan dimoderasi sebelum diterbitkan
Cancel Preview
Cancel Preview
00:00:00 / 00:00:00