• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

Nasional

HPN 2019, Pers Didorong Teguhkan Kode Etik Jurnalistik

9 February
16:07 2019
0 Votes (0)

KBRN, Surabaya : Sabtu pagi (9/2/2019), ribuan insan pers nasional berkumpul di Grand City Convention Hall, Surabaya, Jawa Timur, memperingati Hari Pers Nasional (HPN).

HPN 2019 juga disemarakkan dengan kehadiran presiden Joko Widodo, sejumlah menteri, tokoh negara, hingga duta besar negara-negara tetangga.

Kali ini seremonial peringatan HPN juga turut dirangkaikan dengan pembacaan deklarasi "Kebebasan Pers" oleh ketua dewan pers, Yosep Adi Prasetyo. 

Deklarasi itupun menitikberatkan pada komitmen pers nasional untuk mendukung tercapainya penyajian berbagai informasi yang didasari pada kepentingan publik.

Yosep mengatakan, pada momentum HPN pihaknya mendorong pers nasional untuk meneguhkan kembali ketaatan pada kode etik jurnalistik yang menjadi landasan moral dan etika dalam menjalankan profesi. 

"Pada peringatan HPN 2019 ini saya merasa perlu untuk mengajak seluruh elemen wartawan Indonesia meneguhkan kembali ketaatan pada kode etik jurnalistik yang menjadi landasan moral dan etika dalam menjalankan profesi kita. Hal ini penting untuk menjadikan pers Indonesia agar dalam menjalankan peranannya untuk melakukan pengawasan, kriitk, koreksi dan saran selalu mengacu pada hal-hal yang berkaitan dengan kepentingan publik," ujar Yosep Adi Prasetyo.

Yosep menjelaskan, penting pula bagi setiap elemen wartawan Indonesia berkewajiban untuk bersikap independen dengan memberitakan peristiwa atau fakta sesuai hati nurani dan menghasilkan berita yang akurat. 

"Pada kesempatan ini saya mengajak segenap komunitas pers nasional, untuk menjadikan pers Indonesia sebagai wahana komunikasi massa, penyebar informasi dan pembentuk opini yang berlandaskan asas, fungsi, hak dan peranannya dengan sebaik-baiknya berdasar kemerdekaan pers yang profesional. Setiap wartawan Indonesia berkewajiban untuk bersikap independen dengan memberitakan peristiwa atau fakta sesuai dengan hati nurani dan menghasilkan berita yang akurat. Yaitu, dapat dipercaya benar sesuai keadaan objektif ketika peristiwa itu terjadi," paparnya.

Pada kesempatan yang sama, presiden Joko Widodo menyatakan, media diharapkan dapat menjadi "amplifier" atas berbagai keberhasilan pembangunan yang dilakukan pemerintah, termasuk berbagai kekurangan yang ada. 

"Kalau pemerintah aktif membangun "well informed society", ya janganlah terburu-buru itu dianggap sebagai sebuah kampanye atau pencitraan. Itu adalah bagian dari upaya untuk membentuk masyarakat yang sadar informasi. Dan, saya berharap media menjadi "amplifire" atas informasi tentang pembangunan. Termasuk kekurangan yang harus kita benahi bersama-sama," tegas Joko Widodo.

Joko Widodo, menambahkan, terkait eksistensi media arus utama, ia mengharapkan  media arus utama mampu menjadi "Rumah Penjernih Informasi", terutama dalam menyajikan berbagai informasi yang telah terverifikasi. 

"Ditengah suasana seperti ini media arus utama justru dibutuhkan untuk menjadi "Rumah Penjernih Informasi". Untuk menyajikan informasi-informasi yang terverifikasi, untuk menjalankan peran sebagai "communication of hope" dan untuk bisa memberikan harapan-harapan besar kepada bangsa Indonesia," imbuhnya.

Peringatan HPN 2019 juga dimanfaatkan oleh komunitas pers Indonesia dalam menyatakan komitmennya yang dijabarkan kedalam empat poin.

Pertama, menjaga kerukunan dan kesatuan bangsa yang berbhinekka tunggal ika, kedua, menciptakan suasana kondusif bagi pelaksanaan pemilu yang aman, tentram dan berkualitas, ketiga, memerangi hoax dan penyebaran kebencian dan pertentangan suku, agama, ras dan antar golongan dengan menjadikan pers sebagai "clearing house", serta keempat, memeriahkan pesta demokrasi dengan semangat kegembiraan dan persaudaraan antar sesama warga bangsa.

tunggu 60 detik untuk memberikan komentar lagi. komentar anda akan dimoderasi sebelum diterbitkan
Cancel Preview
Cancel Preview
00:00:00 / 00:00:00