• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

Feature

Wayang Pulau dan Cerita Tentang Indonesia

12 January
21:58 2019
5 Votes (5)

KBRN, Yogyakarta : Nanang Rochmat Hidayat, seorang dosen di Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta, menggagas dan menciptakan Wayang Pulau Indonesia. Tokoh utama dalam wayang ini dinamakan Gardala, singkatan dari Garuda Pancasila.            

Sebagai tokoh utama, Gardala digambarkan dalam sosok yang gagah, seperti karakter wayang pada umumnya. Ia memiliki sepasang sayap, bagian kepala dan kedua kakinya, menyerupai kepala dan kaki burung garuda. Lambang sila pancasila, juga terpasang di dadanya.                                           

”Sejak 2003 saya meneliti tentang lambang negara kita garuda pancasila, dan sejak itu mencoba berkreasi dengan lambang ini, melalui film superhero, dokumenter, cost play, hingga wayang kulit dengan tokoh Gardala, yang harus melindungi pulau,” ungkap Nanang.

Wayang Pulau, ia ciptakan mulai tahun 2014. Lewat imajinasinya, tidak hanya tokoh Gardala saja yang ia buat, tetapi juga beragam karakter, beberapa diantaranya seperti lima pulau besar, sebagai simbol rakyat sekaligus mewakili ragam budaya Indonesia.                                                                                 

Kelima pulau itu antara lain, Pulau Sumatera, dilambangkan tokoh datuk mengenakan baju adat Aceh berwarna merah. Pulau Kalimantan, berwujud tokoh Semar, menggunakan baju adat dayak.

Lalu, Pulau Sulawesi diwujudkan menjadi sosok bertanduk, sedangkan Pulau Jawa, berbentuk figur ratu berbusana warna hijau dalam posisi tidur, dan Pulau Papua, berwujud karakter tetua adat, memakai busana daerah setempat.                                                                                                        

Cerita yang diangkat dalam pertunjukan wayang ini, bisa sangat beragam, namun, biasanya tentang kritik sosial, menyesuaikan situasi terkini yang dialami Bangsa Indonesia.                                    

”Ceritanya sangat fleksibel, dia bisa bercerita tentang Indonesia apa saja, baik disintegrasi, politik, intoleransi, dan lain sebagainya, wayang pulau ini adalah impian masa kecilku, bahwa Indonesia ini akan menjadi negara yang luar biasa, namun sekarang jauh dari kenyataan, lewat wayang ini saya menagih janji,” imbuhnya.

Sebagai pencipta wayang pulau, Nanang tak bisa memainkan wayang. Ketika menggelar pentas, ia mengajak seorang dalang, durasi pertunjukannya bervariasi, antara 15 menit hingga dua jam.         

Iringan musiknya, tidak hanya memakai gamelan, namun, perpaduan alat musik modern seperti gitar, dan alat musik etnik dari berbagai daerah. Saat pentas, dalang menggunakan Bahasa Indonesia, agar ceritanya mudah dipahami para penonton pertunjukan.                                                                                      

Salah satu dalang wayang pulau bernama Iksan Zulkarnain menganggap, wayang ini bisa menjadi sarana edukasi bagi masyarakat, agar mereka lebih memahami dan mencintai pancasila.

”Wayang pulau Indonesia ini memberikan satu bentuk pertunjukan baru ya, dan selama ini yang kita lihat, masyarakat sudah mulai agak melupakan simbol garuda pancasila, harusnya semua berkiblat ke garuda pancasila, agar kita tidak terpecah-belah,” kata Iksan.

Beberapa penonton yang telah menyaksikan pentas wayang pulau, seperti Grace dan juga Amalia, menyampaikan pendapat mereka, tentang pertunjukan wayang tersebut. Keduanya mengaku sangat tertarik, menyaksikan pentas wayang pulau.

”Pertama, musiknya itu memang sudah menari perhatian, tetapi setelah itu ceritanya dihayati agak sedikit sedih, menjadi benar-benar terbawa (cerita, red), bahwa Indonesia sedang mengalami apa dan apa yang akan terjadi,” ungkap Grace.

”Keren, asik, jadi perpaduan musiknya musik etnis sama musik modernnya dapat, bagus, kalau menurut saya sih, ideologi bangsa itu jangan sampai terkalahkan oleh modernisasi gitu,” kata Amalia.            

Hingga kini Nanang terus berkreasi, untuk melengkapi koleksi wayang pulau miliknya, agar nanti bisa mencapai 17 ribu karakter, sesuai jumlah pulau yang ada di negeri khatulistiwa.                

”Karakternya saya desain sendiri, pengerjaannya saya limpahkan ke pengrajin beberapa maestro wayang kulit, untuk mewujudkan 17 ribu pulau di Indonesia itu kan luar biasa, ini baru lima pulau besar,” terangnya.

Melalui wayang pulau, Nanang Rochmat Hidayat ingin menggugah kesadaran masyarakat, agar mereka kembali ke jiwa pancasila, yang mengutamakan rasa persatuan dan kesatuan, juga rasa saling menghormati antar perbedaan, demi kejayaan Bangsa Indonesia di masa mendatang.

tunggu 60 detik untuk memberikan komentar lagi. komentar anda akan dimoderasi sebelum diterbitkan
Cancel Preview
Cancel Preview
00:00:00 / 00:00:00