• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

Budaya dan Wisata

Buka Tahun "Dumia Umbanua" Potensi Wisata Adat Minahasa Utara

11 January
22:42 2019
0 Votes (0)

KBRN, Minut : Untuk meminta berkat serta perlindungan dari yang Maha Besar Allah yang Mahakuasa dalam menjalani tahun yang baru 2019, pemerintah dan masyarakat di dua desa teranak Dimembe dan Laikit kabupaten Minahasa Utara mengelar prosesi Adat "Dumia Umbanua" atau acara adat bersih - bersih kampung, Jumat (11/1/2019).

Dumia Umbanua adalah upacara adat tahunan yang menjadi salah satu kearifan  budaya lokal yang sudah berabad abad berkembang pada masyarakat Tonsea Minut. 

Sebagai desa yang masih memegang teguh nilai nilai budaya leluhur,  masyarakat Dimembe dan Laikit terus melestarikan budaya Dumia Umbanua dimulai dengan rapat bersama tua - tua kampung serta Pemdes selanjutnya dilakukan arak - arakan sepanjang jalan di dua desa tersebut. 

Dalam Ritual Dumia Umbanua, para tetua adat menggunakan atribut adat bernuansa merah dengan pernak pernik dari bulu hewan seperti helai sayab burung sambil menaikkan doa kepada Opo Empung atau Allah yang Mahakuasa menggunakan bahasa Tua Tonsea yang intinya memohon kepada sang pemilik hidup yaitu Allah  untuk menjauhkan hal - hal buruk ataupun bencana dan memberi berkat seperti bagi petani, pedagang, tukang, pegawai dan pekerjaan lainnya termasuk keamanan desa tersebut. 

"Ritual ini sudah kami lakukan sejak 2002 dan menjadi agenda tahunan meminta keberkahan dari Tuhan ditahun yang baru ini, termasuk mengajak masyarakat untuk bersih lingkungan agar kesehatan terjaga," Kata Hukum Tua Desa Dimembe Johanis Tuwaidan.

Sementara itu tetua adat yang juga Kepala Dinas Lingkungan Hidup Berty Ngangi menyatakan acara ritual ini menjadi kalender kerja desa tersebut.

"Sebelumnya kami sudah melalui tahapan musyawarah desa, ini kearifan lokal sebagai kekayaan daerah yang harus dilestarikan," kata Ngangi.

Dalam prosesi adat Dumia Umbanua atau bersih bersih kampung dua desa teranak Dimembe dan Laikit ini, usai para tua tua adat bersama masyarakat berjalan kaki menyusuri setiap jalan sambil diiringi nyanyian khas Tow (orang) Suku Tonsea mereka melanjutkan ritual adat di Waruga sambil membacakan doa kepada Tuhan yang Mahakuasa serta pemercikan air di batas - batas kampung dengan Pasela diiringi tarian Tradisional Kambasaran.

tunggu 60 detik untuk memberikan komentar lagi. komentar anda akan dimoderasi sebelum diterbitkan
Cancel Preview
Cancel Preview
00:00:00 / 00:00:00