• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

Kesehatan

Pengobatan Tradisional Dibatasi, FIPTI Mengadu ke DPR

10 January
15:02 2019
0 Votes (0)

KBRN, Jakarta : Forum Induk Pengobat Tradisional Indonesia (FIPTI) dengar pendapat antara FIPTI dengan Anggota DPR dari Fraksi PKS terkait Peraturan Pemerintah Nomor 103 Tahun 2014 tentang Pelayanan Kesehatan Tradisional.

Ketua Umum FIPTI Mahendra menilai PP 103 membelenggu para pengobat tradisional di Indonesia dalam melakukan prakteknya.

Di Gedung DPR, Mahendrapun mengkritisi kewajiban mengikuti pendidikan yang merupakan amanat PP No 103 Tahun 2014. Para pelaku pengobatan tradisional (terapis) empiris harus mendapat pendidikan selama dua tahun dan terapis kesehatan komplementer dan terintegrasi selama tujuh tahun, terhitung sejak PP No 103 disahkan pada 2014.

"Karena dasar keilmuan pengobat tradisional adalah bermuara pada nilai-nilai empiris yang turun menurun, maka perlu diberi kebebasan untuk menentukan jenis pendidikannya sendiri. Yakni melalui lembaga pendidikan nonformal atau kursus-kursus yang disesuaikan dengan program Kementerian Pendidikan (leveling) tanpa harus  di paksakan untuk kuliah D3," kata Mahendra di DPR, Kamis (10/1/2019).

Diterangkannya, dengan pengetahuan dan dasar keilmuan tradisionalnya, maka pengobat tradisional diberikan keleluasaan melakukan praktek pengobatannya baik invasif maupun  non invasif sesuai dengan batas-batas keilmuannya sebagai pengobat tradisional.

"Pengobat tradisional diberi ruang untuk memperkenalkan dirinya dan pengobatannya di publik dengan batasan-batasan yang wajar sebagai pengobat tradisional dan diberi peran dalam deteksi dini dan monitoring tanda penyakit dengan alat periksa yang telah digunakan masyarakat umum seperti termometer, timbangan dan tensimeter digital. Serta diberi ruang untuk memperkenalkan dirinya dan metoda pengobatannya dengan batasan- batasan yang wajar," imbuhnya.

Di DPR, FIPTI berdialog dengan Anggota Fraksi PKS Nasir Jamil terkait pengobatan tradisional dan disarankan berkonsultasi ke Komisi IX DPR RI. Beberapa asosiasi dan perkumpulan pengobatan tradisional yang hadir diantaranya  Perkumpulan Bekam Indonesia (PBI), Perkumpulan Para Pemijat Penyehatan  Indonesia (P-AP3I), Perkumpulan Akupunkturis Tradisional Empiris Nusantara (PATEN), Perkumpulan Thabib Indonesia (PERTABI), Asosiasi Ruqyah Syar'iyyah Indonesia (ARSYI), Asosiasi Pengobat  Tradisional Ramuan Indonesia (ASPETRI) dan Perkumpulan Terapis Fasdhu Indonesia (PTFI).

tunggu 60 detik untuk memberikan komentar lagi. komentar anda akan dimoderasi sebelum diterbitkan
Cancel Preview
Cancel Preview
00:00:00 / 00:00:00