• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

Feature

Oh Karate, Bersinar di Kejuaraan Dunia, Redup di Daerah

10 January
12:21 2019
4 Votes (5)

KBRN, Ambon : Rusly Amiluddin, 50 tahun, tak lagi berkeluh kesah. Hatinya sudah membantu. Obsesinya saat ini hanyalah satu, meningkatkan kapasitas kemampuan bela diri anak didiknya. Rusli bukan tak punya harapan. Dia hanya tak mau bergantung, pada lingkaran kusut yang hanya membuang-buang waktu dan energi.

Rusli Amiluddin adalah pelatih karate Dojo Kota Jawa Kota Ambon. Padepokan beratap langit itu dia bangun beberapa tahun lalu, untuk membina dan melatih anak-anak sekolah dasar di Kota Jawa dan sekitarnya mengenal ilmu bela diri karate. Dia memang bukan orang baru di karate. Jadi, tak sukar baginya untuk merintis sebuah perguruan karate di daerah.

Rusli mulai berkiprah di dunia perkaratean Maluku sejak tahun 1980 – an. Dia belajar karate sejak masih duduk di bangku sekolah. Pada tahun 1990-an, dia menjadi pelatih Dojo Denzipur 5, Poka Ambon. Buah dari didikannya berhasil mengantar sejumlah anggota tentara Den Zipur 5 meraih medali emas pada kejuaraan karate tingkat nasional di Jakarta.

Konflik 1999 menutup aktivitas karate di Dojo Den Zipur Lima. Seiring dengan maikn kondusifnya  stabilitas keamanan di Kota Ambon,  pada tanggal 19 September 2010, dia mendirikan Dojo Kota Jawa  sebagai sekolah karate untuk anak-anak sekolah dasar. Yang mengagumkan, hanya dalam waktu lima bulan, anak didiknya berhasil meraih empat medali emas, empat perak dan tiga perunggu dalam Kejuaraan Daerah Karate Terbuka New Dalyes  Cup III , 8 – 10 Oktober 2010.

Dalam Kejuaraan Nasional Terbuka Lemkari Plus 2011 di Bali, 13 – 15 Januari 2011, karateka junior Dojo Kota Jawa pulang dengan membawa tiga medali emas. Selanjutnya pada Kejuaraan Terbuka New Dalyes Cup V di Kota Ambon, 16 – 18 November 2012, karateka Dojo Kota Jawa mendualng empat emas, tiga perak dan tiga perunggu.

Pada tahun 2014, Dojo Kota Jawa menjajal kemampuan bela diri mereka dengan mengikuti Kejuaraan Karate Terbuka Nasional SBY Cup ke – 11 di Jakarta, 14 – 16 Februari 2014. Tujuh karateka yang diutus Dojo Kota Jawa, sukses membawa pulang dua medali emas, satu perak dan satu perunggu. Prestasi mentereng juga diukir pada Kejuaraan Karate Nasional Liga Karate Lemkari Seri 1 di Bandung, 27 Februari – 1 Maret 2015. Delapan karateka Dojo Kota Jawa mendulang  dua medali emas, dua perak dan tiga perunggu.

Tahun 2016 adalaah tahun tantangan bagi Dojo Kota Jawa. Pada even The Southeast Asia Open Karate  Championship  SBY Cup ke- 13 di Jakarta, 25 – 27 Februari 2016, empat karateka yang dikirim Dojo Kota Jawa, sukses  merebut satu medali emas dan satu perak. Selanjutnya pada even Asia Karate Championship SBY Cup ke – 14 di Jakarta, 24 – 26 Februari 2017, sepuluh karateka Dojo Kota Jawa meraih 2 emas, satu perak dan dua perunggu.

Puncak dari prestasi Dojo Kota Jawa tercipta pada ajang  15th International Open Karate Championship Held at Jakarta Indonesia, 27 – 28 April 2018. Enam belas karateka yang dikirim Dojo Kota Jawa dalam kejuaraan dunia dimaksud, sukses menggulung  sepuluh medali emas, empat perak dan dua perunggu. Semua karateka yang dikirim pulang dengan membawa medali.

Celakanya, segudang medali yang sudah ditoreh bagi Maluku, tak berarti bagi pemerintah daerah, entah diengaja atau tidak. Puluhan medali emas yang dibawa pulang, hanya menjadi penghias kebanggaan di dinding-dinding rumah. Mereka bersinar di pentas dunia, tapi tenggelam di tanah sendiri. Tak ada yang peduli, selain sepi.

“Kita tidak menyalahkan Forki atau Lemkari karena kita tahu dana pembinaan yang dikelola oleh  mereka itu sangat kecil, tak cukup sama sekali untuk menyiapkan atlit-atlit karate yang handal. Saya di karate sudah boleh dibilang kakek-kakek, jadi saya tahu semua permasalahan di organisasi karate. Benar kata salah satu pengurus pusat bahwa hanya orang gila saja yang mau mendedikasikan dirinya untuk karatae, dan saya merasa saya termasuk orang gila itu,” ujar Rusli kepada RRI di Ambon, Rabu (09/01/2019).

Biarpun begitu, Dojo Kota Jawa tak mau ambil pusing. Masih banyak jalan untuk terus mengukir prestasi bagi daerah. Meski harus berlatih di bawah kolong langit, di halaman sekolah, di tepi laut dan tanah lapang kosong, aroma medali emas yang menggoda dari setiap kejuaraan karate, menjadi penyemangat mereka untuk terus mengasah diri. Jalan masih terjal, dan mereka akan terus menjual kue atau mengusahakan dana secara legal untuk membiayai perjalanan mereka ke ajang-ajang bergengsi yang menanti pada tahun 2019.

  • Tentang Penulis

    Abdullah Leurima

    Reporter RRI Bula peraih Anugerah Pesona Bahari Indonesia 2016 (best of the best) dari Menteri Pariwisata RI

  • Tentang Editor

    Nanang Adrany

    Editor RRI Ternate

tunggu 60 detik untuk memberikan komentar lagi. komentar anda akan dimoderasi sebelum diterbitkan
Cancel Preview
Cancel Preview
00:00:00 / 00:00:00