• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

Politik

Kemenlu Diminta Protes Terkait Perlakuan Kerja Paksa 300 Mahasiswa Di Taipei

3 January
12:25 2019
0 Votes (0)

KBRN, Jakarta : Ketua DPR minta Kementerian Laur Negeri untuk segera melakukan langkah konkrit terkait kerja paksa yang dialami oleh 300 Mahasiswa asal Indonesia di Taiwan yang ramai diberitakan.

“Melalui Kantor Dagang dan Ekonomi Indonesia (KDEI) di Taipei untuk meminta penjelasan kepada otoritas terkait di Taiwan mengenai adanya informasi  tersebut dan memprotes keras perlakuan dari pihak universitas dan pabrik yang telah mempekerjakan para mahasiswa tersebut,” ujarnya dalam keterangan yang diterima Radio Republik Indonesia, Kamis (3/1/2019).

Pria yang akrab disapa Bamsoet ini pun menghimbau seluruh calon mahasiswa/tamatan sekolah menengah atas atau sederajat untuk memperhatikan kebenaran informasi beasiswa yang dikeluarkan oleh universitas di luar negeri, sehingga tidak mudah tertipu oleh iming-iming belajar gratis di luar negeri.

Aduan pertama kali dirilis di portal indonesianlantern.com, sebuah situs yang dikelola oleh diaspora Indonesia di AS, pada 31 Desember 2018.

Dalam artikelnya, sekitar 300 mahasiswa Indonesia di Taiwan diduga dipaksa bekerja di pabrik-pabrik industri.

Mahasiswa yang dipaksa bekerja berasal dari 6 perguruan tinggi Taiwan, diangkut truk ke sejumlah kawasan industri untuk merakit berbagai produk, di antaranya ke pabrik pembuat lensa kontak.

Hal itu terungkap dari penyelidikan Ko Chih-en, anggota parlemen Partai Kuomintang, Taiwan, yang hasilnya diumumkan pekan lalu. Dalam investigasinya, Ko Chih-en menemukan bukti bahwa 300 mahasiswa Indonesia, salah satunya yang menjalani kuliah di Universitas Hsing Wu, dijadikan pekerja paksa dalam skema kuliah-magang kampus.

Investigasi Ko Chih-en membuat gempar Departemen Pendidikan Taiwan, ungkap laporan Indonesian Lantern. Pasalnya, kementerian telah melarang mahasiswa asing untuk bekerja di tahun pertama studi.

tunggu 60 detik untuk memberikan komentar lagi. komentar anda akan dimoderasi sebelum diterbitkan
Cancel Preview
Cancel Preview
00:00:00 / 00:00:00