• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

Feature

Kampung Proklim, Kampungnya Pelestari Alam

31 December
14:08 2018
1 Votes (5)

KBRN, Purwokerto : Selain dikenal dengan Agrowisatanya, Desa Langgongsari Kecamatan Cilongok Kabupaten Banyumas memiliki sebuah grumbul nan asri bernama Kampung Proklim Bulakan Asri. Untuk menuju kampung tersebut, dibutuhkan waktu kurang lebih dua puluh menit dari pusat kota Purwokerto Jawa Tengah.

Kampung Proklim ini merupakan bentuk komitmen dan tanggungjawab dari PT ASTRA sebagai founding father dari PT PAMA terhadap empat pilar utama yang menjadi program kerja  diantaranya pengembangan ekonomi masyarakat, pendidikan, kesehatan dan lingkungan. Dan kampung ini terbentuk sejak tahun 2015.

Pagi sekitar pukul 08.00 WIB kami tiba di rumah Pak Taufikurrahman, rumahnya sederhana namun begitu asri dan sejuk karena di pekarangan rumahnya berbaris rapi berbagai jenis tanaman seperti kerokot hijau dan merah, bunga melati, cabe hias warna warni, bunga kupu-kupu dan beberapa bibit tanaman terbungkus dengan polyback yang seolah ingin memamerkan betapa asrinya Kampung Proklim Bulakan Asri. P

Pak Taufik merupakan Ketua Proklim yang ditunjuk oleh PAMA pada tahun 2015. Ia menjelaskan sebenarnya Kampung Proklim merupakan bentuk pengendalian Pemanasan Global secara lokal, mengingat pemanasan global merupakan masalah serius yang perlu ditangani secara bersama, maka Kampung Proklim bisa dikatakan sebagai gerakan kecil masyarakat yang apabila dilakukan di setiap negara, dampak dari pemanasan global akan berkurang.

“Proklim sebenarnya untuk pengendalian pemanasan global secara lokal. Memang berbicara pemanasan global kita harus semua Negara harus bergerak, di lingkungan kita ya kita mengendalikan apa yang bisa kita lakukan di wilayah kita sendiri. Mengurangi sampah salah satunya terus juga  kami ada himbauan untuk tidak membakar sampah plastik, kenapa itu menyebabkan bumi menjadi panas," kata Taufik.

Taufik menjelaskan, meski sejak 2015 ia resmi terpilih menjadi ketua Proklim, namun di tahun 2017 lalu ia baru mulai aktif menjalankan program kerja dari PAMA. Beberapa diantaranya adalah ketahanan pangan dengan pemanfaatan pekarangan rumah, penanggulangan bencana kekeringan dan banjir dengan sumur resapan biopori serta bank sampah dan pengelolaan sampah menjadi biogas. 

Satu persatu Taufik menunjukan secara gamblang beberapa contoh hasil dari kegiatan Kampung Proklim Bulakan Asri yang ia pimpin. Ia menunjukkan hasil karya dari sang istri, Watiah, yang sudah menghasilkan beberapa kerajinan tangan berupa dompet, tikar, tas dan vas bunga yang terbuat dari bekas bungkus kopi sachet dan beberapa limbah yang sudah tak terpakai. 
Sambil menunjukkan kepiawaiannya dalam merangkai lipatan-lipatan bekas bungkus kopi sachet menjadi tas, Watiah menceritakan dengan logat khas Banyumasan, bahwa ia mendapatkan bekas bungkus kopi tersebut dari rumah ke rumah. Iapun merasa senang karena mendapatkan pelatihan membuat kerajinan tangan dari bahan dasar limbah plastik karena menurutnya hal tersebut dapat membantu perekonomian keluarga.

“Mencari kerumah-rumah, awalnya ya karena bingung, kalau dibuang juga sayang, jadi saya pikir buat saya saja, untuk saya buat jadi tas, jadi tiap bulan saya ambil sampah-sampah itu. Alhamdulilah sangat terbantu sekali dengan adanya pelatihan pembuatan kerajinan dari sampah, hasil penjualannya bisa untuk tambahan penghasilan keluarga," kata Watiah. 

Ibu dari dua anak ini berharap agar ibu-ibu yang lain di sekitar Kampung Proklim Bulakan Asri mengikuti jejaknya dengan memanfaatkan sampah plastik menjadi kerajinan tangan yang bernilai ekonomi. Toh, semua karya yang dibuat itu juga ditampung di beberapa Galeri PT Pama yang tersebar di beberapa kota di Indonesia, sehingga tidak ada kendala dalam pemasaran. 

Karpet, tas, dompet, dan vas bunga hasil dari tangan bu Watiah merupakan bagian kecil dari pemanfaatan sampah di lingkungan tersebut. Pak Taufik mengajak kami untuk melihat beberapa hasil dari program kerjanya.  Tak jauh dari rumahnya, ia menunjukkan beberapa kegiatan masyarakat dalam rangka memanfaatkan lahan pekarangan rumah.

Manfaat Proklim Terhadap Perekonomian Warga

Dengan menggunakan sepeda motor matic kami menyusuri kampung Proklim Bulakan Asri yang memang benar-benar asri. Di beberapa sudut kampung terlihat beberapa plang dari papan kayu berdiri tegak bertuliskan ajakan untuk menjaga lingkungan dengan membuang sampah di tempatnya, ada juga tulisan yang menggambarkan Kampung Proklim Bulakan Asri, Aman Sejuk Ramah dan Asri yang merupakan gambaran dari kata ASRI. 

Dari hal tersebut dapat tergambar bahwa masyarakat Grumbul Bulakan ini memang sangat kreatif. Selang beberapa menit, kami sudah sampai di pekarangan Ibu Umi. Rumahnya berdekatan dengan Pondok Pesantren Nurul Huda, dimana kebanyakan santrinya itu merupakan anak yatim piatu yang berasal dari luar daerah. 

Rumah Ibu Umi juga berdekatan dengan beberapa warga yang lain, sangat sempit, namun bukan warga Kampung Proklim namanya kalau tidak kreatif. Ya, meskipun jarak rumah antarwarga berdekatan, namun mereka tetap memanfaatkan lahan yang tidak luas itu dengan tanaman-tanaman sayuran dalam pot-pot kecil, seperti kangkung, cesim, pare dan beberapa tanaman hias lainnya. 

Ada yang menarik dari penampakan pekarangan rumah Ibu Umi. Kami melihat ada ember plastik tertutup berwarna biru dengan stiker PAMA. Rupanya ember tersebut merupakan tempat persemaian pupuk cair yang mereka produksi sendiri dari limbah sayuran yang sudah terbuang. Sungguh, warga Kampung Proklim Bulakan Asri ini memiliki kesadaran yang tinggi dalam menjaga lingkungan sekitar dengan memanfaatkan limbah sekalipun, untuk kelestarian lingkungan nan asri.

Ibu Umi mengatakan dirinya dan Ibu-ibu sekitar tidak sulit untuk membuat pupuk cair, karena bahan dasarnya adalah sisa-sisa potongan sayur. Potongan sayur tersebut dimasukkan ke dalam ember kemudian dicampur dengan beberapa tetes larutan bakteri pengurai atau mikroba dua, kemudian didiamkan beberapa hari saja. 

“Kalau tempe itu kan ada daun, kita masukkin daunnya, terus misalnya kalau wortelkan dikupas ya, kulitnya taruh sini. Jadi bener-bener manfaatin dari bahan itu gitu," kata Umi. 

Peran Masyarakat Dalam Perkembangan Kampung Proklim 

Di tengah perbincangan kami dengan Bu Umi dan beberapa warga sekitar, Pak Taufik mengatakan bahwa kegiatan Proklim yang paling banyak diminati oleh warga adalah Bank Sampah. Maka tak perlu menunggu lama, kembali kami meminta penjelasan beberapa warga yang sejak tadi sangat antusias mengikuti obrolan kami. Menurut Ngatiah, sejak adanya Kampung Proklim, dirinya makin mengerti betapa pentingnya menjaga lingkungan sekitar. Ia mengaku saat ini tidak melewatkan sampah begitu saja karena jika dikumpulkan dan dipilah-pilah, sampah tersebut bisa disetorkan ke Bank Sampah binaan  PAMA yang tergabung dalam program Kampung Proklim.

“Untuk mengurangi sampah di pinggir jalan kan biar bersih ya, jadi bisa mengurangi sampah. Selain itu kan,sedikit-sedikit jadi tabungan, kan bisa kita setorin, bisa diambil langsung cash juga nggak papa mau ditabung juga nggak papa. Jadi semenjak ada program ini kita sangat menghargai kita lagi di jalan, ada botol kita ambil, oh sayang nih rupiah jadi kita pikirannya duit-duit-duit, kan lumayan sambil jalan dapat uang,” Kata Ibu Ngatiah. 

Meninggalkan rumah Ibu Umi dan Bu Ngatiah, kembali kami diajak oleh Pak Taufik untuk melihat langsung kondisi Bank Sampah di Kampung Proklim Bulakan Asri. Lokasinyapun tak jauh dari lingkungan Pondok Pesantren. Bank Sampah yang dikelola oleh Pak Muqofa berada di sebelah selatan Pondok Pesantren dan jaraknya hanya beberapa meter saja. Bangunan Bank Sampah terlihat sederhana, berdinding papan dan beralaskan plester semen. Disana kami menjumpai Pak Muqofa yang tengah sibuk menimbang beberapa sampah rumah tangga yang disetorkan oleh warga. 

Muqofa membuka cerita tentang adanya Bank Sampah, ia mengaku adanya Bank Sampah ini tak lain adalah support dari PAMA yang sudah menjalin relasi cukup lama dengan Pondok Pesantren Nurul Huda pimpinan Gus Abror. Kurang lebih sejak awal September 2017 Bank Sampah Kampung Proklim mulai berdiri. Keberadaannya sangat diminati oleh masyarakat karena sampah yang sudah terbuang masih bisa disetorkan menjadi tabungan yang bisa diambil sewaktu-waktu. 

“Nanti kita pilah-pilah, kita ambil yang bisa kita manfaatkan ya kita manfaatkan. Yang nggak bisa kita manfaatkan tetapi memiliki nilai jual ya kita jual. Misalnya gerdus kan per kilonya seribu, minuman-minuman yang gelas tigaribu, kalau besi sekarang ya tiga ribulah, kita catat mendapat berapa kilo itu biasanya pada hari raya nanti. Dulu kan berdirinya sudah berdekatan dengan hari raya, kalau besok kan sudah satu tahun lebih ya insha allah akan lebih banyak.” Cerita Muqofa. 

Gus Abror Sang Penggerak   

Setelah berkeliling melihat kegiatan masyarakat Proklim, kami istirahat sejenak dan kembali melanjutkan perbincangan dengan Pimpinan Pondok Pesantren Nurul Huda, Gus Abror.  Ditemui di kediamannya yang berdekatan dengan Pondok Pesantren, usai Sholat Isya beliau menemui kami. Karena kebetulan malam Jumat, sejumlah santriwan tidak lantas meninggalkan Masjid Ponpes yang berdiri kokoh itu. Mereka melanjutkan dengan kegiatan Barzanzi, otomatis suara dan tabuhan genjring sayup-sayup terdengar ketika Gus Abror memberikan informasi tentang komitmen PAMA yang sudah banyak membantu kegiatan di Pondok Pesantren Nurul Huda.

Ia membenarkan bahwa PAMA mencanangkan dusun Pro Iklim agar para santri dapat lebih peduli terhadap lingkungan, tidak hanya di lingkup santri tetapi merambah ke lingkungan masyarakat, oleh karenanya berdirilah Kampung Berdikari PAMA di Grumbul Bulakan.

“PAMA juga mulai merancang bangunan ekonomi yang ada di Pondok dengan banyak memberikan bantuan diantaranya adalah proses filterisasi air yang diikuti dengan pengemasan air dan juga ikut mengembangkan usaha pondok yaitu Gula Semut. PT PAMA dan kawan-kawan di sini menginginkan pemberdayaan ekonomi tidak hanya di lingkungan pondok tapi lebih melebar  atau meluas di sekitar masyarakat lingkungan pondok. Maka muncullah istilah kampung berdikari PAMA,” kata Gus Abror. 

Secara gamblang Gus Abror membeberkan kehadiran PAMA sangat dirasakan tidak hanya komitmennya terhadap lingkungan dan pemberdayaan ekonomi, tetapi di bidang pendidikan PT PAMA memiliki kontribusi yang besar, diantaranya, bangunan asrama. Selain itu dalam uapaya peningkatan kualitas guru, beberapa kali Guru-Guru di lingkungan pesantren mendapatkan pelatihan.  

“Beberapa kali PT PAMA juga mendatangkan pelatih untuk para guru di sini, kemudian untuk program tahun ini adalah solar sel, beban listrik yang selama ini ditanggung oleh Pondok ya lumayan besar. Harapannya dari kami dan PT PAMA beban itu terkurangi. Untuk kebutuhan listrik sebulan Pondok dan sekolahan kisaran tujuh sampai sepuluh juta. Alhamdulilah PT PAMA dan kesigapannya sedang merencanakannya dan Insha Allah disetujui dan kita tinggal action aja," njut Gus Abror. 

Sejatinya kehadiran PAMA adalah menggali potensi ekonomi masyarakat Grumbul Bulakan,  dengan empat pilarnya yakni ketahanan pangan, pendidikan, kesehatan dan lingkungan, PAMA menjadi partner yang positif bagi masyarakat sekitar. Hal tersebut diungkapkan oleh Gus Abror yang merasa bahwa, bersama PAMA program yang sudah terencanakan di Pondok Pesantren dan sekolah bisa berjalan dengan cepat. Iapun berharap dengan hadirnya PAMA, santrinya tidak hanya mendapat ilmu agama dan ilmu umum saja tetapi juga ilmu lingkungan.

“Harapan kami adalah ke depan, kami bisa memberikan pengajaran kepada anak-anak, bahwa betapa pentingnya kita menjadi orang yang paham tidak hanya tentang ilmu-ilmu agama, tidak hanya ilmu-ilmu umum, tapi juga ilmu lingkungan. Karena kalau bukan kita siapa lagi. Alhamdulilah setelah PT PAMA masuk maka jalan itu semakin cepat.” Pungkas Gus Abror.  

Peran PT. PAMA terhadap Lingkungan Langgongsari 

Sementara itu, masih di kediaman Gus Abror, kami juga berkesempatan bertemu dengan CSR PT PAMA, Yul Khaidir atau lebih akrab dipanggil Bang Khaidir. Ia memang rutin melakukan kunjungan tiap bulannya untuk memantau perkembangan Kampung Proklim di beberapa wilayah termasuk Kampung Proklim Bulakan Asri Desa Langgongsari.

Khaidir mengatakan, sejak tahun 2012 sudah menjalin hubungan dengan Pondok Pesantren Nurul Huda. Baginya keberadaan Pondok Pesantren merupakan lahan PAMA dalam mencari berkah. Kiprahnya di Kampung Proklim, sesuai dengan Sistem Registrasi Nasional di Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, pada tahun 2016, skoring Kampung Proklim Bulakan Asri berada di level madya dan untuk tahun 2019, Khaidir mentargetkan Kampung binannya ini naik kelas di Level Utama.

“Waktu di 2016  kami daftarkan ke sistemnya kementrian, itu masih di skornya masih 57 itu berarti di Madya. Hasilnya keluar tuh di SRN, sehingga target kami di 2019 ini harus utama. Harus kejar target nih sesuai dengan Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan bahwa Proklim itu sesuai tingkatannya, masing-masing ada kategorinya. Kami kejar ke situlah, coba penuhin itu sesuai dengan indikator yang di persayaratan kampung Proklim," cerita Bang Khaidir 

Khaidir menjelaskan bahwa indikator persyaratan Kampung Proklim untuk bisa naik ke level utama, pihaknya membenahi struktur organisasi, memaksimalkan program pendukung seperti Bank Sampah, Biopori, energi  terbarukan seperti Bio Gas yang memang sudah berjalan dari tahun 2017, dan baru-baru ini untuk kategori ketahanan pangan, Kampung Proklim Bulakan Asri sudah melaunching sebuah kopi dari biji pilihan yakni Kopi Iklim, Kopinya Kampung Iklim Langgongsari. Menurutnya tanaman kopi di Langgongsari merupakan tanaman yang mudah tumbuh, dan untuk meningkatkan kualitas kopi tersebut, saat ini pihaknya bersama warga Kampung Proklim terus berbenah. Khaidir berharap, dengan banyaknya kegiatan di Kampung Proklim, kesadaran masyarakat dalam menjaga lingkungan semakin tinggi demi mengurangi dampak pemanasan global.

“Harapannya sih, semakin banyak masyarakat yang menyadari betapa pentingnya pengelolaan lingkungan karena sedikit atau banyak si kita harapkan bisa berkontribusi mampu mengurangi efek dari gas rumah kaca kan sesuai dengan tujuan dari Proklim memang kita untuk mengurangi atau meminimalisir efek dari gas rumah kaca," tambah Bang Khaidir.

Pemanasan Global memang menjadi issue yang menarik untuk ditelisik. Lahirnya Kampung Berdikari PAMA Proklim Bulakan Asri Langgongsari merupakan bentuk komitmen kesadaran masyarakat dalam menjaga alam demi kelestarian lingkungan dan solusi akan efek gas rumah kaca. Semua itu dimulai dari diri kita, kalau bukan kita siapa lagi? 

tunggu 60 detik untuk memberikan komentar lagi. komentar anda akan dimoderasi sebelum diterbitkan
Cancel Preview
Cancel Preview
00:00:00 / 00:00:00