• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

Feature

Sang Kiai Pelestari Bumi

27 December
16:11 2018
3 Votes (3.3)

KBRN, Banyumas : Bangunan berdinding kayu dan anyaman bambu berukuran 6 x 6 meter berdiri sederhana di bawah rerimbunan pohon manggis dan kelapa.

Siang itu, di dalam bangunan yang sederhana, lelaki berpeci bernama Mukofa tengah sibuk memeriksa tumpukan sampah sembari menunggu para santri dan masyarakat menyetor sampahnya.

Hampir dua tahun ini Mukofa menjadi kordinator bank sampah yang dikelola Pondok Pesantren (Ponpes) Nurul Huda. Ponpes yang diasuh Muhammad Abror, akrab dipanggil Gus Abror, ini terletak di Dusun Bulakan, Desa Langgongsari, Kecamatan Cilongok Banyumas, Jawa Tengah. Sekitar 10 kilometer ke arah barat dari Kota Purwokerto.

Mukofa mengatakan, tiap minggunya tak kurang dari 100 kilogram sampah plastik, kertas, dan besi terkumpul di bank sampah yang dikelolanya. Sampah ini berasal dari santri Ponpes Nurul Huda dan 54 kepala rumah tangga yang ada di Dusun Bulakan, Langgongsari. 

Sampah yang diterima nantinya dipilih sesuai dengan kemanfaatan dan harganya. Sampah dari kertas bernilai paling murah Rp750 per kilogram (kg), plastik Rp1.000 per kg, sedangkan sampah besi Rp1.500 per kg-nya.

"Semua sampah kami terima, kita pilih-pilih sampah mana saja yang bisa dimanfaatkan. Kita juga punya petugas yang mengambil sampah dari tong sampah di depan rumah anggota. Pengambilan setiap Jumat," kata Mukofa.

Setiap sampah yang masuk ke bank sampah, ditimbang, ditulis dalam buku tabungan sesuai jenis sampah dan harga. Selanjutnya sampah ini disortir menjadi tiga bagian, yakni sampah yang masih dimanfaatkan, di antaranya  plastik, kertas dan besi. 

Kemudian sampah organik berupa sampah dari rumah tangga, yakni sisa makan. Terakhir sampah yang sudah tidak dimanafaatkan lagi, seperti plastik rusak dan lainnya.
  
Untuk sampah plastik yang kondisinya masih baik, akan didaur ulang menjadi berbagai bahan kerajinan. Sampah rumah tangga, langsung dimasukkan ke alat biomethagreen penghasil biogas. Sampah yang tidak dimanfaatkan secara langsung akan dijual kepada pengepul sampah.  

Dalam satu tahun, rata-rata peserta bank sampah mendapatkan penghasilan antara Rp100 ribu hingga Rp200 ribu. Penghasilan ini biasanya dibagikan menjelang perayaan Idul Fitri.

Sebagai ponpes dengan jumlah santri mencapai seribu, sampah sisa makan dan sampah organik menjadi jenis kotoran yang paling banyak diproduksi. Per hari, rata-rata ada sekitar 20 kg sampah jenis ini.

Sisa makanan ini kemudian diolah ke dalam mesin biogas yang mampu menghasilkan biogas untuk memasak bagi empat rumah tangga. Letak mesin pengolahan biogas ini tepat di depan bank sampah. Karena keterbatasan peralatan, saat ini biogas ini baru digunakan untuk dua rumah.

Selain biogasnya, limbah biogas padat digunakan untuk pupuk tanaman. Untuk air limbah biogas digunakan sebagai pembasmi serangga atau penyakit tanaman lainnya.

"Semua masyarakat boleh mengambil sisa biogas ini, kebanyakan untuk tanaman sayuran. Untuk air sisa biogas ini kita tampung ke dalam tong kecil. Bisa digunakan untuk menyemprot tanaman yang kena hama," terang Mukofa, yang namanya juga tertulis dalam akte pendirian Ponpes Nurul Huda.


Gus Abror Tokoh Pembawa Perubahan

Azan zuhur berkumandang dari pengeras suara yang menghadap empat penjuru mata angin di atas Masjid Ponpes Nurul Huda. 

Selepas melaksanakan salat zuhur berjemaah, puluhan santri berebut bersalaman dengan Gus Abror. Sudah 23 tahun ini Gus Abror mengelola Ponpes Nurul Huda. Ia mewarisi pengelolaannya dari sang ayah, Kiai Ahmad Samsul Ma’arif. 

Awalnya santri Ponpes Nurul Huda hanya 11 orang. Setelah dipimpin Gus Abror santrinya terus bertambah. Tercatat hingga akhir Desember 2018 mencapai 1.000 orang. 

Gus Abror juga masih memegang teguh amanah dari orangtuanya untuk tidak memungut biaya seper pun alias menggratiskan seluruh santri yang menuntut ilmu di Nurul Huda. Termasuk biaya makan setiap hari dan sekolah formal yang dikelola.  Kebanyakan santrinya berasal dari anak yatim-piatu dan keluarga kurang mampu.

Para santri ini berasal dari berbagai wilayah Indonesia. Meliputi Jawa, Sumatera, Sulawesi, dan Nusa Tenggara Barat (NTB).

Lalu dari mana sumber pendanaan untuk menggerakkan proses belajar-mengajar dan makan santri setiap hari? Jawabannya berasal dari donatur dan usaha produktif pondok, yang salah satunya adalah bank sampah, lainya ada produksi gula kelapa ( gula Kristal), dan produksi air minum. 

Usaha bank sampah kebetulan juga berawal dari bertambahnya santri dan semakin luas kompleks Ponpes Nurul Huda, mencapai 1 hektare. Di mana itu menimbulkan masalah baru, yakni bertambah sampah yang dihasilkan oleh santri. 

Sehingga sejak tahun 2015 dibuatlah penanggung jawab dari lingkungan pondok dan masyarakat sekitar untuk mengurusi sampah. 

Kemudian dilembagakan menjadi Kampung  Iklim (Proklim) dengan surat keputusan kepala desa Langongsari Rasim. Dengan nama Proklim Bulakan Asri. Pembentukan Proklim ini didukung oleh PT. Pamapersada Nusantara (Pama), anak usaha dari PT. Astra Internasional. 

Tidak mudah mengubah kebiasan warga dan santri untuk membuang sampah pada tempatnya. Apalagi harus mengumpulkan sampah dan membawa ke bank sampah. Untuk itulah Gus Abror memerintahkan agar di wilayah pondok dibentuk petugas khusus sebanyak empat orang dari kalangan santri yang bertangung jawab kebersihan lingkungan.
 
Mereka bertugas membersihkan sampah dan juga mengawasi agar santri tidak membuang sampah sembarang tempat. Selain itu dibuat jadwal setiap per kelompok yang berisi 30 santri. Mereka bertugas membantu membersihkan lingkungan pondok setiap harinya. 

Gus Abror juga memberi kewenangan kepada petugas dan pengurus memberi hukuman kepada santri yang membuang sampah sembarangan. Namun hukumannya harus mendidik dan bukan hukuman fisik agar tercipta kesadaran para santri untuk menjaga kebersihan di lingkungan, baik asrama, masjid dan sekolah. 

Bagi Gus Abror, ajaran agama untuk menjaga lingkungan dan kebersihan merupakan perintah dari Allah yang harus dijalankan oleh umatnya. Karena terkandung manfaat yang diterima bagi manusia di bumi ini yang menjaga lingkungan dengan baik tanpa melakukan perusakan. 

Jika bumi mengalami kerusakan, maka manusialah yang mengalami kerugian. Seperti yang termuat dalam Alquran, Surat Al-Rum ayat 41-42, dan Surat Al- A’raf ayat 56-58. 

"Yah ada anggapan di masyarakat, kalau menuntut ilmu agama di pesantren harus kena gudik (penyakit skabies) terlebih dulu. Nah itulah yang menjadi tantangan buat kami, karena kami yang disini juga mengalami semacam itu," ujarnya.

Teryata kan endingnya adalah mereka tidak bisa membersihkan dirinya sendiri. Bagaimana mereka bisa membersihkan lingkunganya kalau bermasalah dengan kebersihan dirinya sendiri. Justru inilah yang ingin kami wujudkan oleh kawan-kawan santri agar betul- betul kebersihan sebagian dari iman. Bukan hanya sebuah jargon atau slogan, tapi betul- betul implementasi dari keimanan itu sendiri,” imbuh Gus Abror. 

Tantangan cukup berat datang dari kalangan masyarakat sekitar yang belum terbiasa membuang sampah di tempat yang telah disediakan oleh pengurus Proklim Bulakan Asri. Selain itu, ada yang juga tidak setuju dengan adanya bank sampah.
 
Sebagai tokoh agama dan tokoh panutan masyarakat Banyumas suara Gus Abror lebih didengarkan ketimbang para pengurus Proklim. Mendapatkan keluhan dari pengurus Proklim, Gus Abror gencar memberikan sosialisasi mengenai pentingnya menjaga lingkungan agar tetap bersih kepada masyarakat Bulakan dan Langgongsari di setiap ada kesempatan. 

Baik saat pengajian rutin yang dilaksanakan setiap seminggu sekali di ponpes ataupun saat dirinya diundang masyarakat untuk memberi ceramah atau memimpin doa. 

"Ketika ada program bank sampah itu mereka nggak paham. Ketika ada program pemilihan sampah mereka juga nggak paham. Biasalah ada yang pro dan kontra. Saya kepada teman-teman ( pengurus Proklim) menyemangati, mendukung bahwa ini adalah tantangannya. Kita tidak boleh kalah dengan semuanya, alhamdulilah teratasi,” ungkap ayah dari enam anak ini. 

Kepada RRI Gus Abror menjelaskan pengolahan sampah yang baik agar tercipta lingkungan bersih bukan hanya implementasi nilai-nilai keimanan seseorang. Namun juga bagian tugas sebagai warga negara untuk menjaga lingkungan. Karena jika lingkungan bersih, maka negara juga akan bersih. 

"Ini bukan hanya kepentingan pondok, bukan hanya kepentingan masyarakat, bukan hanya kepentingan Pama. Ini adalah kepentingan bangsa dan negara. Siapa pun kita rakyat Indonesia bisa berkontribusi kepada negara meski dengan hal sepele yakni mengolah sampah. Apalagi kita dengar Indonesia menjadi penyumbang sampah terbesar di dunia," kata Gus Abror. 

Usaha Produktif Kampung Proklim Bulakan Asri 

Tidak hanya pengolahan sampah, berupa bank sampah dan biogas. Proklim Bulakan Asri juga melakukan usaha produktif dari sampah, yakni membuat kerajinan. Mulai dari tas, tikar, sajadah dan pot bunga. Hasilnya dijual mulai dari Rp5 ribu untuk pot hingga Rp300 ribu untuk tikar. Untuk membuat satu tikar, diperlukan 1.000-3.000 plastik bungkus kopi.
 
Ketua Proklim Bulakan Asri Taufikurrahman menjelaskan akibat keterbatasan bungkus kopi bekas, hanya enam orang ibu-ibu rumah tangga yang saat ini aktif membuat kerajinan. Padahal sebelumnya diikuti oleh belasan hingga puluhan ibu rumah tangga. Mereka membuat kerajinan dari bahan baku plastik bekas di sela-sela kesibukan menjalani tugas mengurus rumah tangga. Bayarannya sesuai hasil kerajinan yang dibuat.

Hasil kerajinan ini dijual di galeri Proklim di kompleks Agrowisata Bulak Barokah Langgongsari. Selain itu dijual kepada pembeli yang pesan secara langsung, bahkan juga sudah dipasarkan ke Kalimantan.  

Tidak hanya itu, Proklim Bulakan Asri telah membuat puluhan sumur resapan dengan lebar 2 meter, kedalaman 4 meter di kompleks ponpes dan  Agrowisata Durian Bulak Barokah. Telah dibuat pula biopori di setiap pekarangan rumah warga dengan jumlah mencapai 200 lubang.
 
Lalu ada sekitar empat puluhan kolam lele. Selain berfungsi sebagai usaha produktif juga sebagai sumur resapan. Telah dibuat pula peraturan bagi warga Dusun Bulakan untuk tidak menebang pohon di sekitar sumber mata air atau sumur. 

“Kami juga menyediakan bibit tanaman seperti cabai, bayam dan lainya untuk ditanam oleh masyarakat di lingkungan rumah mereka. Selain itu dipasang puluhan tulisan di sekitar rumah warga dengan tujuan menjaga lingkungan agar tetap asri," ungkap Taufikurrahman.

Taufikurrahman menjelaskan berkat dukungan dari PT. Pama, setiap tiga rumah di Dusun Bulakan mendapatkan satu alat untuk mengolah limbah organik. 

Pupuk kompos yang dihasilkan dari alat ini bisa digunakan unuk mempupuk tanaman sayuran ataupun pohon kelapa, yang menjadi nadi utama kehidupan warga Bulakan. Sebab sebagian besar merupakan penderes nira kelapa, baik untuk gula merah (gula jawa) maupun gula kelapa kristal.

Kontribusi PT Pama Untuk Lingkungan

Proklim merupakan program yang dikembangkan oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia. Dengan tujuan mendorong partisipasi aktif masyarakat dan seluruh pihak dalam melaksanakan aksi lokal untuk meningkatkan ketahanan terhadap dampak perubahan iklim dan pengurangan emisi gas rumah kaca (GRK). 

Project manager CSR PT. Pama, Yullah Haidir mengatakan, ide pembentukan dan pengembangan Proklim, yang dimotori oleh ponpes baru terjadi di Ponpes Nurul Huda, Desa Langgongsari, Banyumas. Ponpes ini sebagai penggerak utama berbagai kegiatan sebagai bagian mitigasi terhadap perubahan iklim dan efek GRK. 

Setelah struktur yang kuat di ponpes, baru kemudian melibatkan masyarakat di sekitar. Kemudian Desa Langgongsari melembagakan secara formal, melalui surat keputusan kepala desa.  Hal ini bisa menjadi role model atau contoh baik bagi ponpes yang lain di Indonesia. 

Karena budaya orang Indonesia, tokoh agama dari kalangan ponpes akan lebih didengarkan dan dipatuhi oleh masyarakat sekitar. Sehingga Proklim yang dikembangkan dari ponpes akan lebih mudah berkembang. 

Diterangkan oleh Haidir, dalam Proklim Bulakan Asri yang didukung oleh PT. Pama ini ada enam fokus utama.

Pertama, peningkatkan ketahanan pangan, melalui budidaya sayuran, budidaya lele. Kedua, pengendalian bencana khususnya banjir dan kekeringan, caranya membuat sumur resapan, biopori, pelarangan penebangan pohon di sekitar sumber mata air. 

Ketiga, pengendalian penyakit akibat perubahan iklim. Akan dibangun klinik kesehatan di Ponpes Nurul Huda. 

Keempat, pengolahan dan pemanfataan sampah baik organik dan anorganik. Usaha yang telah dilakukan pembuatan bank sampah, pembuatan pupuk kompos. 

Kelima, penggunaan energi baru terbarukan dengan pemanfaatan biogas untuk bahan bakar memasak. Selain itu saat ini dalam tahap studi, nantinya  akan dipasang instalasi listrik tenaga surya untuk kebutuhan listrik di ponpes. 

Keenam, budidaya pertanian, dengan membuka tujuh hektare lahan kopi robusta. 
 
"Berdasarkan SK Kades pada tahun 2015, tapi kita sudah bantu di ponpes ini sejak tahun 2013. Kita sudah ajak teman-teman ponpes. Sudah kita ajak ke Proklim yang cukup berhasil. Jadi awalnya kita bantu ponpes, yakni pemasangan air mineral dan usaha gula kristal,” terang Haidir.

Bantuan yang diberikan oleh PT. Pama untuk pengembangan Proklim Bulakan Asri ini, di antaranya biomethagreen untuk menghasilkan biogas, pembuatan sumur resapan. Dua puluh tiga peralatan pembuat pupuk kompos, pelatihan pembuatan kerajinan dari plastik sekaligus pemasaran, pembuatan bangunan dan perlengkapan bank sampah, puluhan tempat sampah dan lainnya. 

Selain itu PT. Pama juga akan ikut membantu pendirian klinik. Dengan total dana yang telah dikucurkan mencapai miliaran rupiah. 

Haidir mengemukakan, tidak selamanya bisa membantu Proklim Bulakan. Namun sebelum ditinggalkan oleh Pama, Proklim Bulakan harus mandiri dan kuat secara keuangan. Agar bisa menggerakkan semua lini yang ada. 

"Maka bantuan yang ada akan lebih dimaksimalkan untuk bantuan usaha produktif. Salah satunya pengembangan lahan seluas 7 hektare untuk budidaya kopi yang mulai pertengahan Desember ini mulai bisa panen dengan hasil yang cukup baik," ujarnya.

Capaian ini membuat Haidir optimistis, Proklim Bulakan Asri akan tetap berkembang meski Pama sudah tidak lagi mendukung. Selaian adanya pengurus yang militan, juga  adanya tokoh sentral, sekaligus panutan tidak hanya bagi masyarakat Langgongsari, namun Banyumas pada umumnya, yakni Gus Abror.

"Sosok di belakang ini semua yah Gus Abror. Karena orang di sini bilang apa kata kiai saya. Sehingga kalau ada permasalahan, yang tim Proklim tidak bisa menyelesaikan kita ngomongnya ke beliau, Gus Abror. Kemudian bisa ditangani. Sehingga sampai saat ini program kita terus berkembang dan menunjukkan hasil yang baik," kata Haidir.

Keberadaan Proklim yang Dirasakan Manfaatnya

Keberadan Proklim Bulakan Asri sangat terasa manfaatnya terutama bagi santri yang menuntut ilmu agama dan ilmu umum di Ponpes Nurul Huda. 

Salah satunya  Muhamad Hanif. Pemuda 25 tahun asal Palembang, Sumatera Selatan ini mengatakan, awal kedatangnya ke Nurul Huda enam tahun lalu sering melihat sampah yang berserakan di sekitar ponpes. Selain itu setiap tahun ajaran baru, hampir semua santri baru terkena gudik. Namun dalam dua tahun terahir semakin jarang, bahkan tahun ajaran baru 2018 jumlahnya semakin tidak terlihat. 

"Sampai saya bingung, kebetulan saya menjadi lurah (pimpinan) santri. Saya cari santri baru yang terkena gudik, oh ternyata jarang. Hanya ada sekitar 5-10 anak saja dari 300 santri baru.  Padahal dulu bisa sampai 200 santri baru yang terkena, sekarang juga sudah bersih jadi belajar enak," kata Hanif.

Manfaat keberadaan Proklim Bulakan Asri, juga dinikmati oleh salah satu ibu rumah tangga bernama Khariroh, warga RT 6 RW 5 Desa Langgongsari, yang memanfaatkan biogas dari limbah makanan santri dan warga untuk memasak. 

Khariroh merasa terbantu dengan adanya biogas sebagai bahan bakar untuk memasak. "Cukup menghemat pengeluaran rumah tangga, sebab dalam satu bulan biasanya menghabiskan 3 tabung elpiji 3 kg, namun saat ini hanya habis 1 tabung gas elpiji subsidi tersebut.  “Yah sangat membantu, karena bisa mengurangi biaya pengeluaran untuk membeli gas 'ijo',” kata Khariroh.

Gus Abror ingin apa yang kini dilakukan di pondoknya bisa menyebar luas ke daerah lain melalui ribuan santrinya. Para santri diharapkannya bisa menularkan hal baik ini ketika mereka kembali ke lingkungannya masing-masing selepas lulus nanti. Sehingga akan tercipta  pelestari bumi, yang mempunyai ilmu agama yang mumpuni.  

tunggu 60 detik untuk memberikan komentar lagi. komentar anda akan dimoderasi sebelum diterbitkan
Cancel Preview
Cancel Preview
00:00:00 / 00:00:00